Alangkah ajaibnya (sungguh sangat ajaib), bagaimana tampak wujud di dalam adam (tidak ada). Atau bagaimana dapat bertahan sesuatu yang hancur itu, di samping dzat yang bersifat gidam. Yakni sesuatu yang hakikatnya tidak ada bagaimana dapat tampak ada wujudnya. Hakikat adam (tidak ada) itu gelap, sedangkan wujud itu bagaikan nur terang. Demikian pula batil dan hak. Batil itu harus rusak hancur. Sedang hak itulah yang harus tetap kuat bertahan.
141. لَوْ أَنَّكَ لاَ تَصِلُ إِلَيْهِ إِلاَّ بَعْدَ فَنَاءِ مَسَاوِيكَ، وَمَحْوِ دَعَاوِيكَ، لَمْ تَصِلْ إِلَيْهِ أَبَدًا، وَلٰكِنْ إِذَا أَرَادَ أَنْ يُوَصِّلَكَ إِلَيْهِ غَطَّى وَصْفَكَ بِوَصْفِهِ، وَنَعْتَكَ بِنَعْتِهِ، فَوَصَّلَكَ إِلَيْهِ بِمَا مِنْهُ إِلَيْكَ، لاَ بِمَا مِنْكَ إِلَيْهِ.
Andaikan engkau tidak dapat sampai kepada Allah, kecuali sesudah habis lenyap semua dosa dan kekotoran syirik, niscaya engkau tidak akan sampai kepadaNya untuk selamanya, tetapi jika Allah akan menarik/ menyampaikan enkau kepadaNya, la menutupi sifatmu dengan sifatNya dan kekuranganmu dengan kumia kekayaań-Nya. Maka Allah menyampai- kan engkau kepadaNya dengan apa yang diberikan olehNya kepadamu, bukan karena amal perbuatanmu yang engkau hadapkan kepadaNya.
Abul-Hasan Asysyadzily berkata : Seorang wali tidak akan sampai kepada Allah, jika ia masih ada syahwat atau usaha ikhtiar sendiri. Karena itu jika Allah tidak menarik hambanya, dan mem- biarkannya dengan usaha ikhtiarnya sendiri, takkan sampai kepada Allah untuk selama-lamanya. Karena itu jika Allah akan menarik dan segera menyampaikan hambanya, maka ditampakkan padanya sifat-sifat Allah. Sehingga mati kehendak dan ikhtiar usaha sendiri, dan segera menyerah kepada iradat kehendak dan putusan pemberian Tuhan, maka ketika itu ia sampai kepada Allah karena tarikan Allah, bukan karena amal usahanya sendiri, sampai karena kurnia Allah bukan karena ibadat dan taatnya kepada Allah.
Andaikan engkau tidak dapat sampai kepada Allah, kecuali sesudah habis lenyap semua dosa dan kekotoran syirik, niscaya engkau tidak akan sampai kepadaNya untuk selamanya, tetapi jika Allah akan menarik/ menyampaikan enkau kepadaNya, la menutupi sifatmu dengan sifatNya dan kekuranganmu dengan kumia kekayaań-Nya. Maka Allah menyampai- kan engkau kepadaNya dengan apa yang diberikan olehNya kepadamu, bukan karena amal perbuatanmu yang engkau hadapkan kepadaNya.
Abul-Hasan Asysyadzily berkata : Seorang wali tidak akan sampai kepada Allah, jika ia masih ada syahwat atau usaha ikhtiar sendiri. Karena itu jika Allah tidak menarik hambanya, dan mem- biarkannya dengan usaha ikhtiarnya sendiri, takkan sampai kepada Allah untuk selama-lamanya. Karena itu jika Allah akan menarik dan segera menyampaikan hambanya, maka ditampakkan padanya sifat-sifat Allah. Sehingga mati kehendak dan ikhtiar usaha sendiri, dan segera menyerah kepada iradat kehendak dan putusan pemberian Tuhan, maka ketika itu ia sampai kepada Allah karena tarikan Allah, bukan karena amal usahanya sendiri, sampai karena kurnia Allah bukan karena ibadat dan taatnya kepada Allah.
042. اخْرُجْ مِنْ أَوْصَافِ بَشَرِيَّتِكَ عَنْ كُلِّ وَصْفٍ مُنَاقِضٍ لِعُبُودِيَّتِكَ لِتَكُونَ لِنِدَاءِ الحَقِّ مُجِيبًا، وَمِنْ حَضْرَتِهِ قَرِيبًا.
Keluarlah dari sifat-sifat kemanusiaanmu (yakni yang jelek dan rendah), ialah semua sifat yang menyalahi kehambaanmu, supaya mudah bagimu untuk menyambut panggilan Allah dan mendekat kepadaNya. Sifat-sifat manusia yang berhubungan dengan faham agama terbagi dua : Lahir yaitu yang dilakukan dengan anggota jasmani, dan Batin yaitu yang berlaku dalam hati (rohani). Sedang yang berhubungan dengan anggota lahir juga terbagi dua : Yang sesuai dengan perintah bernama taat dan yang menyalahi perintah bernama maksiat. Demikian pula yang berhubungan dengan hati terbagi dua : Yang sesuai dengan hakikat (kebenaran) bernama iman dan ilmu, dan yang berlawanan dengan hakikat kebenaran bernama nifaq dan kebodohan. Sifat-sifat yang jelek (rendah) yaitu : Hasud, iri hati, dengki, sombong, mengadu domba, merampok dan gila pangkat, sangat cinta pada dunia, dan tamak, rakus dan lain-lain sebagainya. Dan dari sifat-sifat jelek ini akan timbul cabang-cabangnya yang berupa permusuhan kebencian, merendah terhadap orang kaya, menghina orang miskin, bermuka-muka, sempit dada, hilang kepercayaan terhadap jaminan Allah, kejam, tidak malu dan lain-lain sebagainya. Apabila seorang telah dapat mengusir dan membersihkan diri dari sifat-sifat yang rendah, yang bertentangan dengan kehambaan itu, maka pasti ia akan sanggup menerima dan menyambut tuntunan Tuhan baik yang langsung dalam ayat-ayat Qur'an atau yang berupa tuntunan dan contoh yang diberikan oleh Rasulullah saw. Dan dengan demikian berarti ia telah mendekat ke hadirat Tuhan. Sifat ubudiyah (kehambaan) ialah patuh taat terhadap semua perintah dan larangan mengerjakan perintah dan meninggalkan larangan tanpa membantah dan merasa keberatan.
Keluarlah dari sifat-sifat kemanusiaanmu (yakni yang jelek dan rendah), ialah semua sifat yang menyalahi kehambaanmu, supaya mudah bagimu untuk menyambut panggilan Allah dan mendekat kepadaNya. Sifat-sifat manusia yang berhubungan dengan faham agama terbagi dua : Lahir yaitu yang dilakukan dengan anggota jasmani, dan Batin yaitu yang berlaku dalam hati (rohani). Sedang yang berhubungan dengan anggota lahir juga terbagi dua : Yang sesuai dengan perintah bernama taat dan yang menyalahi perintah bernama maksiat. Demikian pula yang berhubungan dengan hati terbagi dua : Yang sesuai dengan hakikat (kebenaran) bernama iman dan ilmu, dan yang berlawanan dengan hakikat kebenaran bernama nifaq dan kebodohan. Sifat-sifat yang jelek (rendah) yaitu : Hasud, iri hati, dengki, sombong, mengadu domba, merampok dan gila pangkat, sangat cinta pada dunia, dan tamak, rakus dan lain-lain sebagainya. Dan dari sifat-sifat jelek ini akan timbul cabang-cabangnya yang berupa permusuhan kebencian, merendah terhadap orang kaya, menghina orang miskin, bermuka-muka, sempit dada, hilang kepercayaan terhadap jaminan Allah, kejam, tidak malu dan lain-lain sebagainya. Apabila seorang telah dapat mengusir dan membersihkan diri dari sifat-sifat yang rendah, yang bertentangan dengan kehambaan itu, maka pasti ia akan sanggup menerima dan menyambut tuntunan Tuhan baik yang langsung dalam ayat-ayat Qur'an atau yang berupa tuntunan dan contoh yang diberikan oleh Rasulullah saw. Dan dengan demikian berarti ia telah mendekat ke hadirat Tuhan. Sifat ubudiyah (kehambaan) ialah patuh taat terhadap semua perintah dan larangan mengerjakan perintah dan meninggalkan larangan tanpa membantah dan merasa keberatan.
272. اَلْخِذْلاَنُ كُلُّ الْخِذْلاَنِ أَنْ تَتَفَرَّغَ مِنَ الشَّوَاغِلِ، ثُمَّ لاَ تَرْحَلَ إِلَيْهِ، وَلاَ تَتَوَجَّهَ إِلَيْهِ وَتَقِلَّ عَوَائِقُكَ.
Kekecewaan yang serendah-rendah kekecewaan ialah jika kosong lari segala kesibukan/kerja, tetapi kemudian tidak menghadap kepada Allah atau sedikit rintangan, kemudian tidak pergi kepadaNya (Allah). Siapa yang cukup mendapat kesempatan untuk tagarrub (mendekat) kepada Allah, lalu tidak dipergunakannya, maka yang demikian itu suatu kekecewaan dan kehinaan yang tidak ada bandingnya, sebab tiap detik bagi anak Adam, dapat dipergunakan untuk menebus dosa dan segera masuk surga, karena itu bila kesempatan itu disia-siakan hingga akhirnya masuk ke dalam jurang neraka, maka itulah contoh
Firman Allah :
انفِرُوا خِفَافًا وَثِقَالًا (التوبة: ٤١)
Berjuanglah kamu baik dalam keadaan ringan atau berat. Lain ayat : Tiadalah kami menjadikan manusia dan jin, kecuali supaya mereka beribadah. Sebab ibadah itulah amal manusia yang utama dan terbaik dunia akhirat, dan dengan itu manusia dapat mencapai bahagia dunia akhirat.
Kekecewaan yang serendah-rendah kekecewaan ialah jika kosong lari segala kesibukan/kerja, tetapi kemudian tidak menghadap kepada Allah atau sedikit rintangan, kemudian tidak pergi kepadaNya (Allah). Siapa yang cukup mendapat kesempatan untuk tagarrub (mendekat) kepada Allah, lalu tidak dipergunakannya, maka yang demikian itu suatu kekecewaan dan kehinaan yang tidak ada bandingnya, sebab tiap detik bagi anak Adam, dapat dipergunakan untuk menebus dosa dan segera masuk surga, karena itu bila kesempatan itu disia-siakan hingga akhirnya masuk ke dalam jurang neraka, maka itulah contoh
Firman Allah :
انفِرُوا خِفَافًا وَثِقَالًا (التوبة: ٤١)
Berjuanglah kamu baik dalam keadaan ringan atau berat. Lain ayat : Tiadalah kami menjadikan manusia dan jin, kecuali supaya mereka beribadah. Sebab ibadah itulah amal manusia yang utama dan terbaik dunia akhirat, dan dengan itu manusia dapat mencapai bahagia dunia akhirat.