Langkau ke kandungan
Alhiyara
Alhiyara
Hikam Ibnu 'Atoillah

022. كَيْفَ يُتَصَوَّرُ أَنْ يَحْجُبَهُ شَيْءٌ وَهُوَ أَقْرَبُ إِلَيْكَ مِنْ كُلِّ شَيْءٍ.

Bagaimana akan dihijab oleh sesuatu, padahal Dia (Allah) lebih dekat kepadamu dari segala sesuatu.

Petikan lain
Hikam Ibnu 'Atoillah

278. وَإِنَّ مَنْ أَيْقَنَ أَنَّ اللهَ يَطْلُبُهُ صَدَقَ الطَّلَبَ إِلَيْهِ، وَمَنْ عَلِمَ أَنَّ الْأُمُورَ بِيَدِ اللهِ اجْتَمَعَ بِالتَّوَكُّلِ عَلَيْهِ.

Dan bahwasanya siapa yang yakin bahwa Allah menuntut dan menyuruh kepadanya melakukan ibadah, pasti ia bersungguh-sungguh menghadap kepada Allah, dan siapa yang mengetahui bahwa segala urusan itu di tangan Allah, maka pasti bulat tawakkal menyerah kepada Allah.

Hikam Ibnu 'Atoillah

211. رُبَّمَا وَرَدَتِ الظُّلَمُ عَلَيْكَ لِيُعَرِّفَكَ قَدْرَ مَا مَنَّ اللهُ بِهِ عَلَيْكَ.

Adakalanya (kemungkinan) kegelapan-kegelapan (dosa/ maksiat dan syahwat) itu tiba padamu, untuk mengingatkan kepadamu kebesaran nikmat yang diberikan Allah kepadamu. Sebelum mendapat taufiq hidayat seorang hamba dalam berbagai kegelapan, sehingga berbuat segala macam perbuatan kejahatan, tetapi setelah mendapat taufiq hidayat ia hidup dalam alam cahaya, sehingga dengan demikian ia dapat merasakan bagaimana nikmat/ rahmatnya iman hidayat, padahal ia telah lama berkecimpung dalam lumpur/jurang kegelapan syahwat dosa dan kejahatan itu. Sebab adąkalanya nilai sesuatu itu tidak dapat dirasakan kecuali bila telah merasai lawannya, dalam peribahasa : Kesehatan itu bagaikan mahkota

di atas kepala tiap orang yang sehat, tidak ada yang melihatnya kecuali orang-orang yang sakit.

Hikam Ibnu 'Atoillah

077. إِذَا رَأَيْتَ عَبْدًا أَقَامَهُ اللهُ تَعَالَى بِوُجُودِ الْأَوْرَادِ وَأَدَامَهُ عَلَيْهَا مَعَ طُولِ الْإِمْدَادِ، فَلاَ تَسْتَحْقِرَنَّ مَا مَنَحَهُ مَوْلاَهُ، لِأَنَّكَ لَمْ تَرَ عَلَيْهِ سِيمَا الْعَارِفِينَ وَلاَ بَهْجَةَ الْمُحِبِّينَ، فَلَوْلاَ وَارِدٌ مَا كَانَ وِرْدٌ.

Jika kau melihat seorang yang ditetapkan oleh Allah dalam menjaga wiridnya, sampai lama tidak juga menerima kurnia (keistimewaan) dari Allah, maka jangan kau remehkan pemberian Tuhan kepadanya, karena belum terlihat padanya tanda orang arif, atau keindahan orang cinta pada Allah, sebab sekiranya tidak ada warid (kurnia Allah), maka tidak mungkin adanya wirid. Hamba Allah yang mendapat keistimewaan dari Allah ada dua macam : Abraar dan Mugarrabin. Adapun hamba yang mugarrabin itu, maka mereka yang telah dibebaskan dari kepentingan dunia, yang hanya sibuk menunaikan ibadat kepada Tuhan, karena merasa sebagai hamba yang mengharapkan keridhaan Allah semata-mata, dan mereka ini yang disebut aarifin, muhibbin. Adapun orang Abraar, mereka yang masih merasa banyak kepentingan di dunia, di samping kewajiban- kewajiban taat ibadat kepada Allah, dan mereka yang dinamakan orang zahid aabid, dan masing-masing mendapat kurnia sendiri- sendiri di dalam tingkat derajatnya yang langsung dari Allah ta'ala. Sebenarnya seorang yang mendapat taufiq hidayat dari Allah sehingga istigamah dalam menjalankan suatu wirid (kelakuan taat/ ibadat), berarti telah mendapat kurnia dan rahmat yang besar sekali, sebab ia berarti telah diberi kunci oleh Allah untuk membuka dan menghasilkan lain-lain karunia kebesaran dari Allah.

Disalin