Langkau ke kandungan
Alhiyara
Alhiyara
Hikam Ibnu 'Atoillah

018. كَيْفَ يُتَصَوَّرُ أَنْ يَحْجُبَهُ شَيْءٌ وَهُوَ الَّذِي ظَهَرَ فِي كُلِّ شَيْءٍ.

Bagaimana akan mungkin dihijab oleh sesuatu, padahal Dia yang terlihat dalam tiap sesuatu.

Petikan lain
Hikam Ibnu 'Atoillah

128. لَمَّا عَلِمَ الْحَقُّ مِنْكَ وُجُودَ الْمَلَلِ لَوَّنَ لَكَ الطَّاعَاتِ، وَعَلِمَ مَا فِيكَ مِنْ وُجُودِ الشَّرَهِ فَحَجَرَهَا عَلَيْكَ فِي بَعْضِ الْأَوْقَاتِ، لِيَكُونَ هَمُّكَ إِقَامَةَ الصَّلاَةِ لاَ وُجُودَ الصَّلاَةِ، فَمَا كُلُّ مُصَلٍّ مُقِيمٌ.

Ketika Allah mengetahui bahwa engkau mudah jemu, maka Allah membuat bermacam-macam cara taat, dan ketika Allah telah mengetahui bahwa engkau juga bersifat rakus, maka dilarang melakukan sembahyang dalam beberapa waktu, supaya semangatmu tertuju pada sempurnanya sembahyang bukan sekedar sembahyang, sebab bukan semua orang yang sembahyang itu sempurna sembahyangnya. Igamatus-sholah (tegak sempurnanya sembahyang) yaitu dengan menjaga syarat, rukunnya. Kemudian setelah sempurna, menjaga khusyu* dalam sembahyang, supaya dalam sembahyang tidak ingat sesuatu melainkan kepada Allah semata-mata, dan setelah merasa bahwa sembahyangnya itu semata-mata kurnia pemberian Tuhan kepadanya.

Hikam Ibnu 'Atoillah

227. الْحَقَائِقُ تَرِدُ فِي حَالِ التَّجَلِّي مُجْمَلَةً، وَبَعْدَ الْوَعْيِ يَكُونُ الْبَيَانُ: فَإِذَا قَرَأْنَاهُ فَاتَّبِعْ قُرْآنَهُ، ثُمَّ إِنَّ عَلَيْنَا بَيَانَهُ.

Hakikat ilmu yang diturunkan Allah kepada orang-orang arifin ketika tajali itu mujmal (singkat), tetapi setelah tertangkap terjadinya penerangan (keterangan)nya Ayat : maka apabila kami bacakan, ikutilah bacaannya, kemudian kami sendiri yang akan menerangkannya (penjelasan periňcian). Ilmu ialah sesuatu yang kita dapat dengan belajar, dan hakikat ialah ilmu yang berupa ilham dari Allah ke dalam hati tanpa perantara.

Abubakar Alwarraq berkata : Ketika saya sedang berada di hutan Bani Isra'il tiba-tiba tergerak dalam hatiku bahwa ilmu hakikat itu berlawanan dengan ilmu syari'at, mendadak terlihat padaku seorang di bawah pohon (umghailaan) menjerit sambil memanggil : Hai Abubakar tiap-tiap hakikat yang bertentangan dengan syariat, maka kekufuran. Hakikat itu juga dapat disebut ilmu ladunni yang langsung dari Allah.

Hikam Ibnu 'Atoillah

220. حُقُوقٌ فِي الْأَوْقَاتِ يُمْكِنُ قَضَاؤُهَا، وَحُقُوقُ الْأَوْقَاتِ لاَ يُمْكِنُ قَضَاؤُهَا، إِذْ مَا مِنْ وَقْتٍ يَرِدُ إِلاَّ وَلِلَّهِ عَلَيْكَ فِيهِ حَقٌّ جَدِيدٌ وَأَمْرٌ أَكِيدٌ، فَكَيْفَ تَقْضِي فِيهِ حَقَّ غَيْرِهِ وَأَنْتَ لَمْ تَقْضِ حَقَّ اللهِ فِيهِ.

Kewajiban-kewajiban di dalam waktu dapat di godho'inya, tetapi hak-hak yang disediakan oleh Allah dalam waktu tidak dapat diulanginya. Sebab tiada suatu waktu melainkan ada hak kewajiban yang baru dan perintah yang ditekankan, maka bagaimanakah engkau akan menyelesaikan hak lainnya, sedang engkau belum menyelesaikan hak Allah dalam waktu itu. Kewajiban dalam waktu seperti sembahyang, puas jika tidak dikerjakan dalam waktunya dapat digodho'inya, tetap hak-hak waktu itu sendiri yakni apa yang disediakan oleh Allah untuk waktu itu, jika tidak diambil, tidak dilaksanakan menurut tuntunannya, tidak dapat digodho'inya, yaitu waktu menerima nikmat atau taat, atau teruji dengan bala' dan maksiat, yaitu masa yang harus bersyukur, dan masa di mana ia harus bersabar dan istighfar, apabila telah berubah masanya maka berubahlah hak kewajibannya, sehingga tidak dapat digunakan untuk menggodho'i apa yang tertinggal pada masa yang telah lampau itu.

Rasulullah saw. bersabda : Siapa yang diberi lalu bersyukur, dan diuji lalu sabar, dan dianiaya lalu memaafkan dan berdosa lalu minta ampun. Kemudian Rasulullah saw. diam sejenak. Sahabat bertanya : Kemudian apakah ya Rasulullah saw. untuknya ? Jawab Nabi saw. :

أُولَٰئِكَ لَهُمُ الْأَمْنُ وَهُم مُّهْتَدُونَ (الأنعام: ٨٢)

Merekalah yang pasti mendapatkan kesejahteraan, dan merekalah orang yang mendapat petunjuk hidayat.

Disalin