Langkau ke kandungan
Alhiyara
Alhiyara
Hikam Ibnu 'Atoillah

014. الْكَوْنُ كُلُّهُ ظُلْمَةٌ، وَإِنَّمَا أَنَارَهُ ظُهُورُ الحَقِّ فِيهِ، فَمَنْ رَأَى الْكَوْنَ وَلَمْ يَشْهَدْهُ فِيهِ أَوْ عِنْدَهُ أَوْ قَبْلَهُ أَوْ بَعْدَهُ، فَقَدْ أَعْوَزَهُ وُجُودُ الْأَنْوَارِ، وَحُجِبَتْ عَنْهُ شُمُوسُ الْمَعَارِفِ بِسُحُبِ الْآثَارِ.

Alam itu kesemuanya berupa kegelapan, sedang yang meneranginya, hanya karena tampaknya haq (Allah) padanya, maka siapa yang melihat alam kemudian tidak melihat Allah di dalamnya, atau padanya atau sebelumnya atau sesudahnya, maka benar-benar ia telah disilaukan oleh nur cahaya, dan tertutup baginya surya (nur) ma’rifat oleh tebalnya awan benda-benda alam ini. Alam semesta yang mulanya tidak ada (Adam) memang gelap, sedang yang mendhahirkannya sehingga berupa kenyataan, hanya kekuasaan Allah padanya, karena itu siapa yang melihat sesuatu benda alam ini, kemudian tidak terlihat olehnya kebesaran kekuasaan Allah yang ada pada benda itu, sebelum atau sesudahnya, berarti ia telah disilaukan oleh cahaya. Bagaikan ia melihat cahaya yang kuat, lalu ia mengira tidak ada bola yang menimbulkan cahaya itu. Maka semua seisi alam ini bagaikan sinar sedang yang hakiki (sebenarnya) terlihat itu semata-mata kekuasaan zat Allah swt.

Petikan lain
Hikam Ibnu 'Atoillah

142. لَوْلاَ جَمِيلُ سِتْرِهِ لَمْ يَكُنْ عَمَلٌ أَهْلاً لِلْقَبُولِ.

Andaikata tidak ada kebaikan tutup dari Allah niscaya tidak ada amal yang layak untuk diterima. Syarat untuk diterima tiap amal itu adalah ikhlas, tulus kepada Allah, tetapi manusia teruji dengan sombong diri, merasa sudah cukup beramal lebih jahat lagi jika ia riya' dengan amal perbuatannya, dan mengharap pujian atas amal perbuatan itu. Karena demikian tabiat tiap hamba, maka sukar untuk dapat diterimanya segala amal perbuatannya, kecuali mengharap rahmat kurnia dan kesabaran Allah semata-mata.

Abu Abdullah Al-Qurasyi berkata : Jika Allah menuntut mereka tentang keikhlasan, maka lenyaplah semua amal perbuatan mereka, dan apabila telah lenyap semua amal perbuatan mereka, bertambahlah hajat kebutuhan mereka, maka dengan itu mereka lalu melepaskan diri daripada bergantung kepada segala sesuatu, dan apabila ia telah bebas dari segala sesuatu kembalilah mereka kepada Allah dalam keadaan telah bersih dari segala sesuatu, meskipun amal perbuatan sendiri atau tenaga kekuatan tidak karena baiknya kurnia Allah yang menutupi kekurangan- kekurangan kita dalam semua amal perbuatan kami, maka tidak akan ada amal perbuatan yang dapat diterima oleh Allah. maka nyata bahwa diterimanya amal taat itu hanya kurnia dan rahmat Allah semata-mata.

Hikam Ibnu 'Atoillah

196. كُلُّ كَلاَمٍ يَبْرُزُ وَعَلَيْهِ كِسْوَةُ الْقَلْبِ الَّذِي مِنْهُ بَرَزَ.

Tiap-tiap kalimat yang keluar, pasti membawa corak bentuk hati yang mengeluarkannya. Dalam peribahasa :

كُلُّ إِنَاءٍ يَنْضَحُ بِمَا فِيهِ.

Tiap bejana (moci dan sebagainya) pasti mengeluarkan yang terisi didalamnya. Terjadi seorang mencela : Mengapakah hati orang-orang sekarang tidak khusyu' dan matapun tidak mencucurkan air mata. Maka dijawab oleh Muhammad bin Wasi : Kemungkinan yang demikian itu dari engkau sendiri, sebab bila nasehat itu keluar dari hati yang ikhlas pasti masuk ke dalam hati. Sebaliknya yang hanya berupa gubahan lidah dan fantasi belaka, maka ia akan masuk dari telinga kanan dan keluar dari telinga kiri. Abul-Abbas Almarsy berkata : Keadaan hamba ini hanya ada empat macam : Nikmat, bala', taat dan maksiat. Maka jika di dalam nikmat kewajiban hamba bersyukur kepada Allah, dan jika menerima bala' harus sabar. Dan jika dapat melakukan taat harus merasa taufiq hidayat dari kurnia Allah. dan bila tergelincir dalam dosa maksiat maka harus membaca istighfar.

Disalin