Amal perbuatan itu sebagai kerangka yang tegak, sedang ruh (jiwa)nya, ialah terdapatnya rahasia ikhlas (ketulusan) dalam amal perbuatan itu. Keikhlasan seseorang dalam amal perbuatannya menurut tingkat kedudukannya, maka keikhlasan orang abrar, apabila amal perbuatan itu telah bersih dari riyaa’ yang jelas maupun yang samar, sedang tujuan amal perbuatan mereka selalu hanya pahala yang dijanjikan oleh Allah kepada hambaNya yang ikhlas. Dan ini terambil dari ayat : “Iyyaaka na’budu : Hanya kepadaMu kami menyembah, dan tiada kami mempersekutukan Engkau dalam ibadatku ini kepada sesuatu yang lain. Adapun keikhlasan orang-orang mugarrabin ialah menterapkan pengertian : “Laa haula walaa quwwata illaa billaahi” : Tiada daya untuk mengelakkan, dan tiada kekuatan untuk berbuat apapun kecuali dengan pertolongan langsung dari Allah, tiada daya kekuatan sendiri, sedang semua itu hanya daripada Allah, ia merasa bahwa semua amal perbuatan semata-mata kurnia Allah kepadanya, sebab Allah yang memberi hidayat dan taufiq, ini terambil dari ayat : “Iyyaaka nasta’ iin” Hanya kepadaMu kami mengharap bantuan pertolongan, sebab kami sendiri tidak berdaya. Amal orang abrar dinamakan amal lillah : Beramal karena Allah. Sedangkan amal mugarrabin dinamakan : Amal billahi : Beramal dengan bantuan kurnia Allah. Amal lillah menghasilkan sekedar memperhatikan hukum lahir, sedangkan amal billahi menembus ke dalam perasaan hati. Seorang guru berkata : Perbaikilah amal perbuatan- mu dengan ikhlas, dan perbaikilah keikhlasanmu itu dengan perasaan tidak ada kekuatan sendiri, sedang semua kejadian itu hanya semata- mata karena bantuan pertolongan Allah ta’ala.
231. لاَ تَيْأَسْ مِنْ قَبُولِ عَمَلٍ لَمْ تَجِدْ فِيهِ وُجُودَ الْحُضُورِ، فَرُبَّمَا قُبِلَ مِنَ الْعَمَلِ مَا لَمْ تُدْرَكْ ثَمَرَتُهُ عَاجِلاً.
Jangan putus harapan untuk diterimanya amal perbuatan yang engkau kerjakan dengan tidak khusuk (hadir hati di dalamnya), sebab masih ada kemungkinan amal itu diterima padahal belum dapat dilihat buahnya dengan segera.
Meskipun dalam alam perbuatan belum mencapai hadirnya hati dan manis taat yang dilakukan itu, maka jangan keburu putus harapan untuk diterimanya amal itu, meskipun masih dalam taraf sekedar tagarrub kepada Allah dan merasa bahwa itu kurnia Allah kepadanya, maka yang demikian itu sudah cukup baik.
Jangan putus harapan untuk diterimanya amal perbuatan yang engkau kerjakan dengan tidak khusuk (hadir hati di dalamnya), sebab masih ada kemungkinan amal itu diterima padahal belum dapat dilihat buahnya dengan segera.
Meskipun dalam alam perbuatan belum mencapai hadirnya hati dan manis taat yang dilakukan itu, maka jangan keburu putus harapan untuk diterimanya amal itu, meskipun masih dalam taraf sekedar tagarrub kepada Allah dan merasa bahwa itu kurnia Allah kepadanya, maka yang demikian itu sudah cukup baik.
250. مَنْ أَثْبَتَ لِنَفْسِهِ تَوَاضُعًا فَهُوَ الْمُتَكَبِّرُ حَقًّا، إِذِ التَّوَاضُعُ لاَ يَكُونُ إِلاَّ عَنْ رِفْعَةٍ، فَمَتَى أَثْبَتَّ لِنَفْسِكَ رِفْعَةً فَأَنْتَ الْمُتَكَبِّرُ حَقًّا.
Siapa yang merasa diri bertawadhu', maka berarti ia benar- benar sombong, sebab tidak mungkin ia merasa tawadhu' kecuali kalau ia merasa besar/tinggi, karena itu bila engkau menetapkan bahwa dirimu itu besar/tinggi, maka benar-benar engkau telah sombong (mutakabbir). Maka apabila engkau menetapkan d (merendah diri) yakni padahal engkau ıtu seorang besar dan tinggi, maka itu berarti engkau benar-benar telah sombong (mutakabbir). Seorang yang merasa bertawadhu' (merendah diri) itu disebabkan ia merasa besar tinggi, hanya saja ia merendah dan perasaan besar/ tinggi diri itulah hakikat kesombongan, dan itu pula arti takabbur yang arul haqqi wa ghamthunnas a orang lain). ar dan tinggi, mulia.
Siapa yang merasa diri bertawadhu', maka berarti ia benar- benar sombong, sebab tidak mungkin ia merasa tawadhu' kecuali kalau ia merasa besar/tinggi, karena itu bila engkau menetapkan bahwa dirimu itu besar/tinggi, maka benar-benar engkau telah sombong (mutakabbir). Maka apabila engkau menetapkan d (merendah diri) yakni padahal engkau ıtu seorang besar dan tinggi, maka itu berarti engkau benar-benar telah sombong (mutakabbir). Seorang yang merasa bertawadhu' (merendah diri) itu disebabkan ia merasa besar tinggi, hanya saja ia merendah dan perasaan besar/ tinggi diri itulah hakikat kesombongan, dan itu pula arti takabbur yang arul haqqi wa ghamthunnas a orang lain). ar dan tinggi, mulia.
288. وَصَاحِبُ حَقِيقَةٍ غَابَ عَنِ الْخَلْقِ بِشُهُودِ الْمَلِكِ الْحَقِّ، وَفَنِيَ عَنِ الْأَسْبَابِ بِشُهُودِ مُسَبِّبِ الْأَسْبَابِ، فَهُوَ عَبْدٌ مُوَاجِهٌ بِالْحَقِيقَةِ، ظَاهِرٌ عَلَيْهِ سَنَاهَا، سَالِكٌ لِلطَّرِيقَةِ قَدِ اسْتَوْلَى عَلَى مَدَاهَا، غَيْرَ أَنَّهُ غَرِيقُ الْأَنْوَارِ مَطْمُوسُ الْآثَارِ، قَدْ غَلَبَ سُكْرُهُ عَلَى صَحْوِهِ، وَجَمْعُهُ عَلَى فَرْقِهِ، وَفَنَاؤُهُ عَلَى بَقَائِهِ، وَغَيْبَتُهُ عَلَى حُضُورِهِ.
Orang ahli hakikat yang telah melupakan makhluk karena langsung melihat kepada Allah raja yang hak, dan lupa dari sebab musabab karena teringat kepada yang menentukan sebab dan menjadikannya. Orang ini sebagai hamba yang menghadapi hakikat yang nyata baginya terang cahayanya, dan sedang berjalan pada jalannya, telah sampai pada puncaknya, hanya ia sedang tenggelam dalam alam cahaya, sehingga tidak kelihatan bekas-bekas makhluk, lebih banyak lupanya terhadap alam daripada ingatnya, dan bertemunya pada Allah dari renggangnya, dan lenyaplah dirinya dari tetapnya perasaannya, dan lupanya terhadap makhluk daripada ingatnya pada mereka.
Orang ahli hakikat yang telah melupakan makhluk karena langsung melihat kepada Allah raja yang hak, dan lupa dari sebab musabab karena teringat kepada yang menentukan sebab dan menjadikannya. Orang ini sebagai hamba yang menghadapi hakikat yang nyata baginya terang cahayanya, dan sedang berjalan pada jalannya, telah sampai pada puncaknya, hanya ia sedang tenggelam dalam alam cahaya, sehingga tidak kelihatan bekas-bekas makhluk, lebih banyak lupanya terhadap alam daripada ingatnya, dan bertemunya pada Allah dari renggangnya, dan lenyaplah dirinya dari tetapnya perasaannya, dan lupanya terhadap makhluk daripada ingatnya pada mereka.