Langkau ke kandungan
Alhiyara
Alhiyara
Hikam Ibnu 'Atoillah

004. أَرِحْ نَفْسَكَ مِنَ التَّدْبِيرِ، فَمَا قَامَ بِهِ غَيْرُكَ عَنْكَ لاَ تَقُمْ بِهِ لِنَفْسِكَ.

Istirahatkan dirimu/fikiranmu daripada kerisauan mengatur kebutuhan duniamu, sebab apa yang sudah dijamin/diselesaikan oleh lainmu, tidak usah kau sibuk memikirkannya . Sebagai seorang hamba wajib dan harus melulu mengenal kewajiban, sedang jaminan upah ada ditangan majikan, maka tidak usah risau fikiran perasaan untuk mengatur, karena kuatir kalau apa yang telah dijamin itu tidak tiba, atau terlambat, sebab ragu terhadap jaminan Allah tanda kurangnya iman.

Petikan lain
Hikam Ibnu 'Atoillah

237. مِنْ تَمَامِ النِّعْمَةِ عَلَيْكَ أَنْ يَرْزُقَكَ مَا يَكْفِيكَ وَيَمْنَعَكَ مَا يُطْغِيكَ.

Setengah dari kesempurnaan nikmat Allah kepadamu jika Allah memberi rizqi yang cukup dan menahan daripadamu apa yang dapat menyesatkan kamu.

Firman Allah :

كَلَّا إِنَّ الْإِنسَانَ لَيَطْغَىٰ * أَن رَّآهُ اسْتَغْنَىٰ (العلق: ٦ - ٧)

Sesungguhnya manusia itu pasti melampaui batas (tersesat) jika merasa diri kaya tidak berhajat. Sa'ad bin Abi Waggash ra. berkata : Saya telah mendengar Rasulullah saw. bersabda : Sebaik-baik rizqi yang mencukupi, dan sebaik-baik dzikir yang samar. Abu Dardaa' ra. berkata : Rasulullah saw bersabda : Tiada terbit atau terbenam matahari melainkan disisinya ada dua Malaikat yang berseru, seruan itu dapat didengar oleh semua makhluk kecuali manusia dan jin : Hai sekalian manusia silahkan kembali kepada Tuhan, sesungguhnya yang sedikit tetapi mencukupi itu lebih baik dari yang banyak hingga melalaikan (menyesatkan).

Firman Allah :

وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ ۖ وَلَا تَنسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا (القصص: ٧٧)

Pergunakan semua yang diberikan Allah kepadamu (yaitu yang berupa hidup panca indera, akal pikiran, tenaga dan harta kekayaan) untuk mencapai kebahagiaan dan keuntungan akherat, dan jangan kau lupakan bagianmu daripada dunia. Kepentingan yang pertama dan,utama ialah keselamatan akherat, adapun dunia maka ia sambil lalu jika tidak lupa. Sebab siapa yang sungguh beramal untuk akherat maka dunianya terjamin untung dan puas, sebaliknya jika amal usahanya hanya untuk dunia maka baginya tidak bertambah dari ketetapan Allah dan akheratnya rugi tidak dapat apa-apa.

Rasulullah saw. bersabda :

لَيْسَ الْغِنَى عَنْ كَثْرَةِ الْعَرَضِ، وَلَكِنَّ الْغِنَى غِنَى النَّفْسِ.

Bukannya kekayaan itu dengan banyaknya harta benda, tetapi kekayaan yang sesungguhnya ialah kaya hati/tenang jiwa. Tersebut dalam kitab-kitab yang dahulu, Allah berfirman : Sesungguhnya seringan-ringan hukumanKu terhadap seorang alim jika ia condong kepada keduniaan, akan Aku cabut daripadannya kelezatan bermunajat kepadaKu.

Hikam Ibnu 'Atoillah

025. مَا تَرَكَ مِنَ الْجَهْلِ شَيْئًا مَنْ أَرَادَ أَنْ يُحْدِثَ فِي الْوَقْتِ غَيْرَ مَا أَظْهَرَهُ اللهُ فِيهِ.

Tiada meninggalkan sedikitpun dari kebodohan, siapa yang berusaha akan mengadakan sesuatu dalam suatu masa, selain dari apa yang dijadikan oleh Allah di dalam masa itu. Sungguh amat bodoh seorang yang akan mengadakan sesuatu yang tidak dikehendaki oleh Allah. Di dalam lain fasal ada keterangan : Tiada suatu saat yang berjalan melainkan di situ pasti ada takdir Allah yang dilaksanakan.

Firman Allah :

كُلَّ يَوْمٍ هُوَ فِي شَأْنٍ (الرحمن: ٢٩)

Tiap hari (tiap saat) Dia (Allah) menentukan urusan. Menciptakan, menghidupkan, mematikan, memuliakan, menghina dan sebagainya. Maka sebaiknya seorang hamba menyerah dengan rela hati kepada hukum ketentuan Allah pada tiap waktu, sebab ia harus percaya kepada rahmat dan kebijaksanaan kekuasaan Allah.

Hikam Ibnu 'Atoillah

247. إِنَّمَا أَجْرَى الْأَذَى عَلَى أَيْدِيهِمْ كَيْ لاَ تَكُونَ سَاكِنًا إِلَيْهِمْ، أَرَادَ أَنْ يُزْعِجَكَ عَنْ كُلِّ شَيْءٍ حَتَّى لاَ يَشْغَلَكَ عَنْهُ شَيْءٌ.

Memang sengaja Allah melaksanakan gangguan terhadap dirimu dari tangan orang-orang itu, supaya engkau tidak jinak kepada mereka. Sengaja Allah menjengkelkan (menjemukan) engkau dari segala sesuatu, supaya tidak ada sesuatu yang melupakan engkau daripada Allah (supaya tidak ada yang mengganggu engkau untuk ingat kepada Allah).

Abul-Hasan Asysyadzily berkata : Larilah dari kebaikan (bantuan orang, melebihi dari larimu dari kejahatan orang kepadamu, sebab kebaikan orang itu langsung membahayakan hatimu sedang kejahatan mereka hanya membahayakan jasmanimu, dan bahaya jasmani itu lebih ringan dari bahaya hati. Bahaya kebaikan orang kepadamu, jika kamu jinak, senang, menyandar, berharap kepada mereka. Sesungguhnya jika ada musuh yang mendekatkan engkau kepada Allah lebih baik dari teman/kawan yang memutuskan engkau dari Allah. Abdussalam bin Masyisy ra. berdoa : Ya Allah ada orang-orang yang minta kepadaMu supaya semua orang jinak kepadanya, maka telah Engkau perkenankan dan mereka puas dengan itu, sebaliknya saya minta supaya semua makhluk menjauh daripadaku sehingga tidak ada bagiku tempat berlindung dan berharap kecuali kepadaMu.

Rasulullah saw. bersabda : Siapa yang memberi kepadamu kebaikan (hadiah), maka lekas engkau balas dengan yang seimbang maka jika tidak dapat kamu membalas, maka doakanlah orang itu. (Yakni supaya tidak merasa berhutang budi padanya). Doanya : Jazaka Allahu Khoira ( Semoga Allah membalasmu kebaikan).

Muhammad bin Al-Hasan berkata : Ketika saya sedang berputar- putar di bukit Lubnan, tiba-tiba ada seorang pemuda yang keluar dari bukit hangus badannya oleh serangan angin samum, maka ketika pemuda melihat padaku, tiba-tiba melarikan diri, lalu saya kejar, dan ketika ia telah berhenti saya minta nasehat kepadanya, maka ia berkata : Berhati-hatilah daripada Allah, karena Allah itu sangat cemburu, ia tidak suka melihat dalam hati hambaNya sesuatu selainNya. (Yakni tidak boleh ada dalam hati hambaNya sedikitpun dari syirik). jangan sampai ada dalam hati perasaan : Barangkali orang akan menolong atau membantu padaku.

Disalin