Langkau ke kandungan
Alhiyara
Alhiyara
Hikam Ibnu 'Atoillah

001. مِنْ عَلاَمَاتِ الاِعْتِمَادِ عَلَى العَمَلِ نُقْصَانُ الرَّجَاءِ عِنْدَ وُجُودِ الزَّلَلِ.

Setengah dari tanda bahwa seorang itu bersandar diri pada kekuatan amal usahanya, yaitu berkurangnya pengharapan terhadap rahmat karunia Allah ketika terjadi padanya suatu kesalahan / dosa. Kalimat : Laa ilaaha illallaah. Tidak ada Tuhan, berarti tidak ada tempat bersandar, berlindung, berharap kecuali Allah, tidak ada yang menghidupkan dan mematikan, tiada yang memberi dan menolak melainkan Allah. Dhohirnya syariat menyuruh kita berusaha beramal, sedang hakikat syariah melarang kita menyandarkan diri pada amal usaha itu, supaya tetap bersandar pada karunia rahmat Allah. Kalimat : Laa haula walaa quwwata illaa billaahi. Tidak ada daya untuk mengelakkan diri dari bahaya kesalahan. Dan tidak ada kekuatan untuk berbuat amal kebaikan kecuali dengan bantuan pertolongan Allah dan karunia rahmat-Nya semata-mata.

Firman Allah :

قُلْ بِفَضْلِ اللَّهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَٰلِكَ فَلْيَفْرَحُوا هُوَ خَيْرٌ مِّمَّا يَجْمَعُونَ (يونس: ٥٨)

“Katakanlah : Hanya karena merasakan kurnia rahmat Allah lah kamu boleh bergembira, dan itulah yang lebih baik (berguna) bagi mereka daripada apa yang dapat mereka kumpulkan sendiri.

(Yunus 59).

Sedang bersandar pada amal usaha itu berarti lupa pada kurnia rahmat Allah yang memberi taufiq hidayat kepadanya yang akhirnya pasti ia ujub, sombong, merasa sempurna diri, sebagaimana yang telah terjadi pada iblis ketika diperintah bersujud kepada Adam, ia berkata : Aku lebih baik dari dia (Adam).

أَنَا خَيْرٌ مِّنْهُ

Juga telah terjadi pada Qaarun ia berkata :

إِنَّمَا أُوتِيتُهُ عَلَىٰ عِلْمٍ عِندِي (القصص: ٧٨)

“Sesungguhnya Aku mendapat kekayaan ini karena ilmuku semata-mata.

(Al-Qashash 78).

Apabila kita dilarang menyekutukan Allah dengan berhala, batu, kayu, pohon, binatang dan manusia, maka janganlah menyekutukan Allah dengan kekuatan diri sendiri, seolah-olah merasa sudah cukup kuat dan dapat berdiri sendiri tanpa pertolongan Allah, tanpa rahmat taufiq hidayat dan karunia Allah. Sedangkan kita harus bertauladan pada Nabi Sulaiman as. ketika ia menerima nikmat karunia Allah, ketika mendapat istana ratu Bulqis.

Firman Allah :

هَٰذَا مِن فَضْلِ رَبِّي لِيَبْلُوَنِي أَأَشْكُرُ أَمْ أَكْفُرُ ۚ وَمَن شَكَرَ فَإِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهِ ۖ وَمَن كَفَرَ فَإِنَّ رَبِّي غَنِيٌّ كَرِيمٌ (النمل:٤٠)

Ini semata-mata dari karunia Tuhanku, untuk menguji padaku, apakah aku bersyukur (terima kasih) atau kufur (lupa pada Allah). Maka siapa yang syukur, maka syukur itu untuk dirinya. Dan siapa yang kufur, maka Tuhanku dzat yang terkaya lagi

pemurah (tidak berhajat sedikitpun dari makhluknya, bahkan makhluk yang berhajat kepada-Nya)”;

(An-Naml 40).

Petikan lain
Hikam Ibnu 'Atoillah

097. الطَّيُّ الْحَقِيقِيُّ أَنْ تُطْوَى مَسَافَةُ الدُّنْيَا عَنْكَ حَتَّى تَرَى الْآخِرَةَ أَقْرَبَ إِلَيْكَ مِنْكَ.

Singkatnya jalan yang sesungguhnya, ialah jika terlipat untukmu jarak-jarak dunia ini, sehingga engkau dapat melihat akherat itu lebih dekat kepadamu daripada dirimu sendiri. Ath-thayyu : Terlipatnya bumi, sehingga jarak yang sejauh- jauhnya dapat ditempuh dengan satu langkah sudah sampai. Ath-thayyu, juga berarti menghabiskan masa siang malam dengan sembahyang dan puasa semata-mata. Dalam lain keterangan Ibn Atha Allah berkata : Andaikan nur keyakinan itu telah terbit terang dalam hatimu, pasti engkau akan dapat melihat akherat itu lebih dekat kepadamu daripada engkau akan pergi ke sana, dan pasti dapat melihat segala keindahan dunia ini diliputi oleh suramnya kerusakan/kehancuran yang bakal menimpa kepadanya.

Hikam Ibnu 'Atoillah

052. وَانْظُرْ إِلَى قَوْلِهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُولِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُولِهِ، وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى دُنْيَا يُصِيبُهَا أَوِ امْرَأَةٍ يَتَزَوَّجُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ. فَافْهَمْ قَوْلَهُ عَلَيْهِ الصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ، وَتَأَمَّلْ هٰذَا الْأَمْرَ إِنْ كُنْتَ ذَا فَهْمٍ.

Dan perhatikan sabda Nabi saw. : Maka siapa yang hijrahnya menuju kepada Allah dan Rasulullah(karena menurut perintah Allah dan Rasulullah), maka hijrahnya akan sampai diterima oleh Allah dan Rasulullah. Dan siapa yang hijrah karena kekayaan dunia yang akan di dapat, atau karena perempuan yang akan dikawin, maka hijrahnya terhenti pada apa yang ia hijrah kepadanya. Camkanlah sabda Nabi saw. ini dan perhatikan persoalan ini jika engkau mem- punyai kecerdasan faham. Dan yang utama dalam haditś ini ialah sabda Nabi saw. bahwa hijrah yang tidak niat ikhlas kepada Allah akan terhenti pada tujuan yang sangat rendah dan tidak berarti, dan tidak akan mencapai keridhaan Allah. Seorang minta naschat kepada Abu Yazid Al-busthami, maka berkata Abu Yazid : Jika Allah menawarkan kepadamu akan diberi kekayaan dari Arsy sampai ke bumi, maka katakanlah : Bukan itu ya Allah, tetapi hanya Engkau ya Allah Tujuanku.

Abu Sulaiman Addarani berkata : Andaikan aku disuruh pilih antara masuk surga jannatul-Firdaus dengan sembahyang dua takaat, niscaya saya pilih sembahyang dua rakaat. Sebab di dalam surga saya dengan bagianku, dan dalam sembahyang aku dengan Tuhanku. Asysyibli ra. berkata : Berhati-hatilah dari ujian Allah, meskipun dalam perintah : Kuluu wasyarabuu (makan dan minumlah). Sebab dalam pemberian nikmat itu ada ujian untuk diketahui, siapakah yang silau dan lupa kepadaNya setelah menerima nikmat, dan siapa yang tetap padaNya sebelum dan sesudah menerima nikmat. Sorang penyair berkata :

صَلَّى وَصَامَ لِأَمْرٍ كَانَ يَطْلُبُهُ * حَتَّى إِذَا مَا انْقَضَى الْأَمْرُ لَا صَلَّى وَلَا صَامَ.

Sembahyang dan puasa karena sesuatu yang ia harapkan sehingga setelah tercapai hajatnya tidak sembahyang dan tidak puasa.

Hikam Ibnu 'Atoillah

197. مَنْ أُذِنَ لَهُ فِي التَّعْبِيرِ فُهِّمَتْ فِي مَسَامِعِ الْخَلْقِ عِبَارَتُهُ، وَجُلِّيَتْ إِلَيْهِمْ إِشَارَتُهُ.

Şiapa yang telah mendapat izin dari Allah untuk berkata- kata (menerangkan), maka segala kata-katanya dapat dimengerti oleh pendengarannya, dan semua isyarat petunjuknya dapat terang jelas Orang yang diizinkan itu ialah yang berbicara Lillahi wa billahi wa fillah. Karena Allah dan dengan bantuan Allah, dan dalam tuntunan hukum Allah. Hamdun bin Ahmad bin Umarah Algashshar ketika ditanya : Mengapakah kata-kata orang dahulu jauh lebih berguna dari ajaran kita ini ? Jawabnya : Karena mereka bicara (berkata) untuk kemuliaan Islam, dan keselamatan jiwa dan untuk mendapat keridhaan Allah. Sedang kami bicara untuk kemuliaan diri dan mencari dunia, dan keridhaan (penerima) makhluk. Al-Junaid berkata : Kalimat yang benar itu hanya yang diucapkan setelah mendapat izin. Sebagaimana firman Allah :

لَّا يَتَكَلَّمُونَ إِلَّا مَنْ أَذِنَ لَهُ الرَّحْمَٰنُ وَقَالَ صَوَابًا (النبأ: ٣٨)

Mereka tidak dapat berkata-kata, kecuali yang diizinkan oleh Arrahman (Allah dan berkata benar (tepat).

Disalin