Langkau ke kandungan
Alhiyara
Alhiyara
Hikam Ibnu 'Atoillah

287. وَأَنَّ النَّاسَ فِي ذٰلِكَ عَلَى ثَلاَثَةِ أَقْسَامٍ: غَافِلٌ مُنْهَمِكٌ فِي غَفْلَتِهِ، قَوِيَتْ دَائِرَةُ حِسِّهِ وَانْطَمَسَتْ حَضْرَةُ قُدْسِهِ، فَنَظَرَ الْإِحْسَانَ مِنَ الْمَخْلُوقِينَ، وَلَمْ يَشْهَدْهُ مِنْ رَبِّ الْعَالَمِينَ، إِمَّا اعْتِقَادًا فَشِرْكُهُ جَلِيٌّ، وَإِمَّا اسْتِنَادًا فَشِرْكُهُ خَفِيٌّ.

Dan manusia dalam menghadapi nikmat pemberian Tuhan terbagi tiga : 1. Orang yang lalai terhadap Tuhan dan sangat memuncak kelalaiannya. Orang ini sangat kuat jiwa materialnya, sangat terpengaruh oleh panca inderanya, hingga padam sama sekali jiwa rohaninya (kesucian jiwanya), maka ia melihat bantuan/kebaikan itu hanya semata-mata dari sesama makhluk, dan sama sekali tidak melihat dari Allah Tuhan Rabbul-alamiin. Jika yang demikian ini berupa i tigad keyakinan, maka siriknya jelas, atau sekedar dianggap sebagai sebab yang andaikan tidak ada sebab itu tidak terjadi itu kurnia, maka ini sirik juga tetapisamar.

Mereka itu jika ditanya : Siapakah yang memberi kepadamu? Jawabnya : Allah, tetapi andaikan tidak ada fulan itu tentu tidak ada pemberian atau kurnia ini.

Petikan lain
Hikam Ibnu 'Atoillah

152. الْأَكْوَانُ ثَابِتَةٌ بِإِثْبَاتِهِ، وَمَمْحُوَّةٌ بِأَحَدِيَّةِ ذَاتِهِ.

Alam ini ada bila ditetapkan oleh Allah, tetapi alam ini musnah lenyap dengan keesaan dzat Allah. Ke-esaan dzat Allah yang tidak bersekutu atau berbanding itu melenyapkan segala apa saja, yakni tetap Allah yang tunggal dan segala sesuatu selain Allah bayangan belaka dan bekas buatan Allah.

Hikam Ibnu 'Atoillah

182. عِنَايَتُهُ فِيكَ لاَ لِشَيْءٍ مِنْكَ، وَأَيْنَ كُنْتَ حِينَ وَاجَهَتْكَ عِنَايَتُهُ وَقَابَلَتْكَ رِعَايَتُهُ، لَمْ يَكُنْ فِي أَزَلِهِ إِخْلاَصُ أَعْمَالٍ وَلاَ وُجُودُ أَحْوَالٍ، بَلْ لَمْ يَكُنْ هُنَاكَ إِلاَّ مَحْضُ الإِفْضَالِ وَعَظِيمُ النَّوَالِ.

Perhatian Allah kepadamu bukan karena sesuatu yang timbul daripadamu, buktinya : Di manakah engkau ketika Allah menetapkan kurniaNya kepadamu di dalam azal itu, dan disaat itu doa atau amal yang ikhlas atau lain-lain hal, bahkan tidak ada apa-apa ketika itu selain semata-mata kurnia dan kebesaran pemberian Allah. Perhatikan pemeliharaan Allah kepadamu sejak engkau berupa mani yang sama sekali belum dapat berdoa atau beramal, tetapi perlengkapan yang diberikan Allah kepadamu tidak berkurang sedikitpun, dan demikianlah selanjutnya hingga engkau lahir, kecil, dewasa dan tua tetap tidak berubah kurnia Allah kepadamu tidak bersandar kepada amal atau doamu, tetapi semata-mata kekuasaan dan kehendak Allah yang mutlak dan kurnianya yang tiada tara bandingannya, dan tiada henti-hentinya. Allah melengkapi hajat kebutuhan di saat engkau sendiri belum mengerti apa saja hajat kebutuhanmu yang primer yang tidak dapat tidak harus engkau mempunyainya, yang sekiranya satu saja dikurangi berarti tidak sempurna bentuk kejadianmu itu.

Hikam Ibnu 'Atoillah

180. كَيْفَ يَكُونُ طَلَبُكَ الْحَادِثُ سَبَبًا فِي عَطَائِهِ السَّابِقِ.

Bagaimanakah mungkin permintaanmu yang datang belakangan itu dapat menjadi sebab pemberian Allah yang telah diputuskan lebih dahulu. Keputusan Allah dalam menentukan peraturan alam sudah di tentukan dalam azal sebelum adanya alam ini, dan termasuk juga segala kebutuhan hajat hidup semua makhluk tidak kecuali engkau hai manusia, karena itu jangan mengira bahwa Allah seolah-olah lupa terhadap hajat kebutuhanmu, sehingga sekiranya tidak engkau ingatkan mungkin tidak diberi, kalau demikian kepercayaanmu terhadap Allah, berarti benar-benar engkau belum mengenal Allah dalam sifat kesempurnaannya. Suatu contoh : Umpama, jika ada seorang ayah dianggap oleh anaknya, andaikan tidak diingatkan oleh anaknya niscaya ia melupakan kebutuhan anaknya itu, maka bagaimanakah ayah yang demikian itu. Sedangkan Allah tidak dapat diumpamakan dengan ayah itu sebab Allah maha sempurna, maha mengetahui, mencukupi, bijaksana dalam memelihara seisi alam.

Disalin