Langkau ke kandungan
Alhiyara
Alhiyara
Hikam Ibnu 'Atoillah

276. وَقَالَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ مِمَّا كَتَبَ بِهِ لِبَعْضِ إِخْوَانِهِ: أَمَّا بَعْدُ، فَإِنَّ الْبِدَايَاتِ مَرْآةُ النِّهَايَاتِ، وَإِنَّ مَنْ كَانَتْ بِاللهِ بِدَايَتُهُ كَانَتْ إِلَيْهِ نِهَايَتُهُ.

Berkată Ibn Atha’allah dalam surat yang ditulis untuk kawan-kawannya : Amma ba’du : Sesungguhnya bidayah (permulaan) itu bagaikan cermin yang memperlihatkan nihayah (puncak akhirnya). Dan siapa yang sejak mula (bidayahnya) selalu bersandar kepada Allah, maka pasti akhirnya (nihayahnya) akan sampai kepada Allah).

Petikan lain
Hikam Ibnu 'Atoillah

200. الْعِبَارَاتُ قُوتٌ لِعَائِلَةِ الْمُسْتَمِعِينَ، وَلَيْسَ لَكَ إِلاَّ مَا أَنْتَ لَهُ آكِلٌ.

Ibarat (kata-kata) itu sebagai makanan bagi pendengar yang berhajat dan membutuhkannya, dan engkau tidak mendapat apa-apa daripadanya kecuali yang engkau makan. Bagaimanapun aneka warnanya hidangan, maka yang berguna bagi tiap orang hanya yang dimakannya, dan masing-masing makan kesukaannya, memilih yang dimengertinya.

Terjadi ada tiga orang sama-sama mendengar suara yang berkata : Ya sa'tara birri maka masing-masing menerima kalimat itu sendiri-sendiri, Yang satu berkata : Saya telah mendengar suara itu berkata : Is'a tara birri. Berusahalah niscaya engkau akan melihat (mendapat) kurnia pemberianKu. Yang kedua berkata : Saya telah mendengar : Assa' atatara birri : Pada saat itu juga engkau akan mendapat (melihat) kurnia pemberianKu. Yang ketiga berkata : Saya telah mendengar : Ma ausa'a birri : Alangkah luasnya kurnia pemberianKu.

Firman Allah :

تُسْقَىٰ بِمَاءٍ وَاحِدٍ وَنُفَضِّلُ بَعْضَهَا عَلَىٰ بَعْضٍ فِي الْأُكُلِ (الرعد: ٤)

Disiram dengan satu macam air, tetapi Kami lebihkan yang satu dari yang lain dalam rasa makanannya.

Firman Allah :

قَدْ عَلِمَ كُلُّ أُنَاسٍ مَّشْرَبَهُمْ (البقرة: ٦٠)

Masing-masing golongan telah mengetahui di mana tempat minumnya. Muhyiddin (Muhammad) bin Al-Araby ra. berkata : Pada suatu hari kami mendapat undangan dari teman di Zugagil-ganadil di Mesir, tiba- tiba di situ bertemu dengan guru-guru, dan setelah hidangan dikeluarkan, di situ ada suatu wadah dipakai untuk tempat kencing, tetapi karena sudah tidak terpakai lagi, maka dipakai juga untuk tempat makanan, maka setelah selesai orang-orang makanan tiba-tiba wadah itu berkata : Karena kini saya telah mendapat kehormatan dari Allah untuk tempat makanan guru-guru ini maka sejak kini saya tidak rela untuk dipakai tempat kotoran, kemudian ia belah dua. Syaikh Muhyiddin bertanya kepada hadirin : Apakah yang kamu telah mendengar ? Jawab mereka : Ya, kami mendengar ia berkata : Sejak saya dipakai tempat makan untuk guru-guru, maka saya tidak mau menjadi tempat kotoran lagi. Berkata Muhyiddin : Tidak begitu katanya. Bertanya para hadirin : Lalu berkata apa ? Jawab Muhyiddin : Demikian pula hatimu setelah mendapat kehormatan dari Allah dijadikan tempat iman, maka janganlah rela ditempati najis-najis, syirik, maksiat dan cinta dunia.

Hikam Ibnu 'Atoillah

189. الْفَاقَاتُ بُسُطُ الْمَوَاهِبِ.

Berbagai macam ujian bala' (serta kekurangan) itu, bagaikan hamparan untuk hidangan pemberian-pemberian kurnia Allah. • Apabila Allah akan memberi kurnia besar kepada seorang hamba- Nya, tetapi ternyata dari amal ibadah lahirnya, tidak mencukupi untuk menerima pemberian itu, maka Allah menguji padanya dengan bala', dan di situlah tertebusnya berbagai dosa, kemudian dinaikkan ke tingkat yang telah disediakanNya itu.

Disalin