Langkau ke kandungan
Alhiyara
Alhiyara
Hikam Ibnu 'Atoillah

273. الْفِكْرَةُ سَيْرُ الْقَلْبِ فِي مَيَادِينِ الْأَغْيَارِ.

Fikir itu ialah jalannya perasaan hati di dalam lapangan makhluk benda-benda alam ini. Berfikir yang dianjurkan Allah kepada makhluknya, ialah memperhatikan kebesaran kekuasaan Allah yang telah dijelmakan pada makhluk yang dijadikan di alam ini. Rasulullah saw. melihat suatu kaum, maka ditanya : Mengapakah 1 kamu? Jawab mereka: Kami sedang memikirkan dzat Allah. Maka sabda Nabi : Berfikirlah (perhatikanlah) makhluk Allah, dan jangan memikirkan dzat Allah, maka sungguh kamu tidak dapat memper- kirakannya (menjangkaunya), atau membatasi kebésaranNya.

Petikan lain
Hikam Ibnu 'Atoillah

203. لاَ تَمُدَّنَّ يَدَكَ إِلَى الْأَخْذِ مِنَ الْخَلاَئِقِ إِلاَّ أَنْ تَرَى أَنَّ الْمُعْطِيَ فِيهِمْ مَوْلاَكَ، فَإِذَا كُنْتَ كَذٰلِكَ فَخُذْ مَا وَافَقَكَ الْعِلْمُ.

Jangan mengulurkan tangan untuk menerima pemberian makhluk, kecuali bila merasa bahwa yang memberi itu sebenarnya Tuhanmu, maka bila engkau telah sedemikian, maka terimalah dari mereka yang sesuai, dengan ilmu pengetahuanmu.

Sebab bila engkau masih merasa ada sesuatu selain Allah yang dapat membantu kepadamu, maka tauhidmu belum benar (murni) menerima pengertian keesaan Allah dalam kalimat : Laa ilaaha illallaah dan Laa haula walaa quwwata illa billahi. Allah menjadikan dan memberi rizqi, yang menghidupkan dan mematikan, ini semua hak kekuasaan Allah semata-mata, sehingga kalau ada pemberian itu dari tangan siapa saja datangnya, harus tidak boleh lupa bahwa itu langsung dari Allah yang menyuruh salah satu hamba pesuruhNya, menyampaikan kepadamu. Khalid Al-Juhany ra. berkata : Rasullullah saw. bersabda : Siapa yang kedatangan hadiah/sedekah dari temannya tanpa minta-minta dan mengharap-harap dalam hatinya, maka hendaknya diterima, sebab yang demikian itu sebagai rizgi yang dihantar oleh Allah kepadanya. Dalam lain riwayat ada tambahan : Dan bila ia tidak membutuh- kannya karena sudah cukup, maka hendaknya diberikan kepada orang yang lebih berhajat daripadanya.

Ibrahim Al-Khawwas berkata : Seorang shufi tidak harus memilih jalan tidak berusaha, terkecuali jika memang sudah cukup keadaannya.

Abu Abdullah Alqurasy berkata : Selama keinginan berusaha itu kuat dalam perasaan nafsu, maka berkasab usaha itu lebih utama.

Umar bin Alkhattab ra. berkata : Rasulullah selalu memberi kepada saya, maka saya berkata : Berikan kepada orang yang lebih berhajat dari saya. Rasulullah berkata : Terimalah dan pergunakan atau sedekahkan, dan tiap harta yang datang kepadamu dengan tidak engkau harapkan atau engkau minta, maka terimalah, dan yang tidak jangan engkau angan-angan (harap-harapkan). Al-A'masy (Sulaiman) ra. berkata : Ada seorang pemuda yang datang kepada Ibrahim Attaimy untuk memberi hadiah uang sebanyak 2000 dirham, sambil berkata : Terimalah uang ini, ini bukan dari raja, juga bukan uang syubhat dan lain-lainnya. Jawab Ibrahim : Semoga Allah memberkahi hartamu, dan membalas engkau kebaikan dan terima kasih, lalu ditolaknya uang itu. Setelah pergi pemuda itu saya bertanya : Ya Aba Imran, mengapakah engkau tolak pemberian itu, demi Allah isterimu tidak mempunyai gamis (roko). Jawab Ibrahim : Benar, tetapi anak itu masih muda, belum banyak pengertian/pengalaman, saya kuatir kalau ia kembali ke kampungnya lalu memberi tahu kepada

teman-temannya : Saya telah memberii kepada Ibrahim dua ribu dirham, maka hilang pahalanya dan hilang pula uangnya.

Rasulullah saw. bersabda : Siapa yang menolak rizqi yang diberi oleh Allah tanpa minta-minta, maka sesungguhnya ia telah menolak pemberian Allah.

Hikam Ibnu 'Atoillah

092. الْبَسْطُ تَأْخُذُ النَّفْسُ مِنْهُ حَظَّهَا بِوُجُودِ الْفَرَحِ، وَالْقَبْضُ لاَ حَظَّ لِلنَّفْسِ فِيهِ.

Di dalam masa kelapangan (baseth) hawa nafsu dapat mengambil bagiannya karena gembira, sedang dalam masa sempit (qabdh) tidak ada bagian sama sekali untuk hawa nafsu. Karena itu manusia lebih aman dalam kesempitan, karena hawa nafsu tidak dapat memperdaya.

Abul-Hasan Assyadzily ra. berkata : Algabdhu wal basthu (risau hati, dan riang hati) selalu silih berganti dalam perasaan tiap hamba, bagaikan silih berganti siang dan malam. Dan sebabnya gabdh (risau hati) itu salah satu dari tiga : Karena dosa atau kehilangan dunia, atau dihina orang, Maka ada seorang hamba, jika merasa berdosa harus segera bertobat, dan jika kehilangan dunia, harus rela dan menyerah kepada hukum Allah, dan bila dihina orang harus sabar. Dan jagalah dirimu jangan sampai kamu merugikan (aniaya) lain orang. dan apabila terjadi qabdh (risau hati) itu tidak diketahui sebabnya, maka harus tenang menyerah. Insya Allah jika tenang menyerah, tidak lamå akan sirna masa gelap dan berganti dengan terang, ada kalanya terang bintang yaitu ilmu atau sinar bulan yaitu tauhid, atau matahari yaitu ma'rifat, tetapi jika tidak tenang dimasa gelap (risau hati) mungkin akan terjerumus dalam kebinasaan. Adapun dalam masa bashet (riang hati), maka sebabnya adalah satu dari tiga : Karena bertambahnya kelakuan ibadat (taat) dan bertambahnya ilmu ma'rifat atau karena bertambahnya kekayaan atau kehormatan, dan yang ketiga karena pujian dan sanjungan orang kepadanya. Maka adab seorang hamba : Jika merasa bertambah taat ibadatnya dan ilmu ma'rifatnya harus merasa bahwa itu semata-mata kurnia Tuhan, dan berhati-hati jangan sampai merasa bahwa itu dari kerajinan sendiri. Dan jika mendapat tambah keduniaan, maka ini pula yang harus dianggap bahwa itu semata- mata kurnia Allah, dan harus waspada jangan sampai terkena bahayanya. Adapun jika berupa pujian sanjungan orang kepadamu, maka kehamba- anmu mengharuskan bersyukur kepada Allah yang telah menutupi kejelekkan- mu, sehingga orang-orang hanya mengenal kebaikanmu, semata-mata.

Hikam Ibnu 'Atoillah

245. الْعِلْمُ إِنْ قَارَنَتْهُ الْخَشْيَةُ فَلَكَ، وَإِلاَّ فَعَلَيْكَ.

Ilmu itu jika disertai rasa takut kepada Allah, maka itu yang menguntungkan bagimu, jika tidak maka itu bahaya bagimu. ulullah saw. bersabda: Tiap hari di mana aku tidak bertambah ilmu yang mendekatkan aku kepada Allah, maka berarti tidak berkat bagiku terbit matahari pada hari itu.

Rasulullah saw. bersabda : Akan keluar pada akhir zaman orang yang mencari (mencuri) dunia dengan kedok agama, memperlihatkan (memakai) di muka orang bulu domba karena lunak, lidahnya lebih manis dari madu, tetapi hatinya hati srigala. Allah akan berkata kepada mereka : Apakah kamu akan menentang kepadaKu, atau mempermainkan Aku, maka demi kebesaran-Ku Aku akan menurunkan terhadap mereka ujian fitnah, sehingga orang yang sabar tenang menjadi kebingungan.

Rasulullah saw. bersabda : Akan tiba suatu masa pada ummat manusia, tiada tinggal dari Qur'an kecuali tulisannya saja dan Islam hanya namanya belaka. Hati orang-orangnya kosong dari petunjuk hidayat, dan masjid hanya penuh jasad manusia yang tak berhati taqwa, sejahat manusia waktu itu ialah para ulama, sebab dari mereka sumber fitnah dan kepada mereka pula kembalinya.

Abuhurairah ra. berkata : Bersabda Nabi saw. : Siapa yang belajar ilmu agama, tidak untuk mencapai keridhaan Allah, tidak mempelajarinya kecuali untuk mencapai suatu kepentingan dunia, maka ia tidak akan mendapat (merasai) bau surga pada hari kiamat. Al-hasan ra. berkata : Siksa bagi seorang alim itu matinya hati. Ketika ditanya : bagaimana matinya hati itu ? Mencari dunia dengan menjual amal akherat.

Dan lebih jahat lagi jika ia menjilat-jilat kepada raja (pemerintah) untuk mencari keuntungan dari uang haram atau syubhat, maka yang demikian terang-terangan menentang murka Allah.

Abud-Dardaa' ra. berkata : Rasulullah saw. bersabda : Allah telah menurunkan wahyu pada salah seorang nabi : Katakanlah kepada orang-orang yang belajar figih agama, tidak untuk kepentingan agama, dan belajar tidak untuk diamalkan, mereka mencari dunia dengan amal akherat, memakai bulu kambing, tetapi hati mereka hati srigala, lidahnya lebih manis dari madu, dan hatinya lebih pahit dari jadam, apakah mereka akan mempermainkan Aku, atau mengejek kepadaKu, pasti akan Aku turunkan kepada mereka fitnah ujian, sehingga orang yang tenang sabar menjadi bingung.

Rasulullah saw. bersabda : Sesungguhnya Allah akan memperkuat/ menyebarluaskan agama ini dengan lidah seorang yang lacur/lancung Fargad Assindy bertanya pada Abul-Hasan Al-Bashry suatu masalah, dan setelah dijawab, ia berkata : Para fuqahaa' (ahli-ahli ilmu figih) berbeda dengan keteranganmu itu. Berkata Abul-Hasan : Pernahkah engkau melihat dengan mata kepalamu orang fagih (yang alim figih) itu. Seorang faqih ialah yang zuhud (tidak rakus) terhadap dunia, yang gemar akherat, yang waspada dalam agama, yang tetap pada taat ibadahnya, yang wara', tidak melukai kehormatan sesama muslim, yang menjauhi harta mereka, yang rajin beribadat, yang mengikuti sunnaturrasul, yang tidak membenci orang yang di atasnya, dan tidak menghina orang yang di bawahnya, yang tidak mencari dunia dengan ilmu yang diajarkannya oleh Allah. Berkata pengarang kitab Azzubad : Seorang alim yang tidak mengamalkan ilmunya akan disiksa sebelum menyembah berhala. Dan siapa yang bertambah ilmu tetapi tidak bertambah baik budi akhlaknya dan takutnya kepada Allah, maka tiada bertambah dekaı kepada Allah, bahkan bertambah jauh dari Allah ta'ala.

Disalin