Langkau ke kandungan
Alhiyara
Alhiyara
Hikam Ibnu 'Atoillah

257. جَعَلَكَ فِي الْعَالَمِ الْمُتَوَسِّطِ بَيْنَ مُلْكِهِ وَمَلَكُوتِهِ لِيُعْلِمَكَ جَلاَلَةَ قَدْرِكَ بَيْنَ مَخْلُوقَاتِهِ، وَأَنَّكَ جَوْهَرٌ تَنْطَوِي عَلَيْكَ أَصْدَافُ مُكَوَّنَاتِهِ.

Allah sengaja menempatkan engkau dalam alam yang pertengahan antara alam mulk (dunia) dan alam malakut (ghaib) untuk memberimu pengetahuan tentang kebesaran kedudukanmu diantara semua makhluk, dan bahwa engkau sebagai permata yang diliputi/ dikelilingi oleh wadah tempatnya yang berupa alam ini.

Abul-Abbas Almarsy ra. berkata : Isi alam ini semua bagaikan hamba tunduk padamu hai manusia, sedang engkau hanya hamba Allah ta’ala semata-mata. Tersebut dalam kitab-kitab Allah yang terdahulu : Hai anak Adam, Akulah (Allah kepentinganmu/kebutuhanmu) yang tidak dapat engkau abaikan, karena itu tetaplah engkau pada apa yang engkau butuhkan itu.

Allah juga berfirman : Hai anak Adam, Aku jadikan segala sesuatu untukmu dan aku jadikan engkau untukku, karena itu jangan sibuk dengan apa yang pasti datang kepadamu, sehingga meninggalkan apa yang engkau dijadikan untukNya.

Firman Allah :

هُوَ الَّذِي خَلَقَ لَكُم مَّا فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا (البقرة: ٢٩)

Dialah Allah yang menjadikan untuk kamu semua apa yang di bumi.

Firman Allah :

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ (الذاريات: ٥٦)

Tiadalah Aku menjadikan manusia dan jin kecuali supaya ibadah kepadaKu. Al-Wasithy dalam menafsirkan ayat : Sungguh Kami (Allah) telah memuliakan anak Adam (manusia). Yakni Kami serahkan kepada mereka alam seisinya supaya mereka tidak bingung atau tertipu oleh sesuatu dan supaya bulat melulu beribadah (mengabdikan diri kepada Allah).

Petikan lain
Hikam Ibnu 'Atoillah

117. لاَ يُخَافُ عَلَيْكَ أَنْ تَلْتَبِسَ الطُّرُقُ عَلَيْكَ، وَإِنَّمَا يُخَافُ عَلَيْكَ مِنْ غَلَبَةِ الْهَوَى عَلَيْكَ.

Tidak dikuatirkan padamu bingung jalan, tetapi yang di- kuatirkan atasmu daripada menangnya hawa nafsu atas akal dan imanmu. Jalan untuk menuju kepada Tuhan sudah jelas, cukup tuntunan dalam kitab Allah atau sunnat Rasulullah. Baik ketika berbuat taat atau maksiat atau mendapat nikmat atau bala'. Jika berbuat taat hendaknya merasa itu sebagai kurnia Allah, jika berbuat dosa lekas

membaca istighfar dah bertobat, jika menerima nikmat harus syukur, jika menderita bala' harus sabar. Tetapi yang dikhawatirkan padamu ialah merajalelanya hawa nafsu, sehingga lupa terhadap 'Tuhan dan tidak mengenal tuntunan/jalan Tuhan.

Hikam Ibnu 'Atoillah

240. إِنْ رَغَّبَتْكَ الْبِدَايَاتُ زَهَّدَتْكَ النِّهَايَاتُ، إِنْ دَعَاكَ إِلَيْهَا ظَاهِرٌ نَهَاكَ عَنْهَا بَاطِنٌ.

Jika engkau tertarik oleh permulaannya, pandangan luarnya (lahir), maka akan menjemukan engkau pada akhirnya jika engkau terpengaruh oleh pandangan lahir, maka akan dilarang oleh hakekat batinnya (akan dicegah oleh hakikat batinnya). Memang kedudukan itu pada lahirnya menarik tetapi pada hakikatnya amanat yang berat jarang orang yang selamat dari bahaya firnahnya.

Firman Allah :

اعْلَمُوا أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِي الْأَمْوَالِ وَالْأَوْلَادِ ۖ كَمَثَلِ غَيْثٍ أَعْجَبَ الْكُفَّارَ نَبَاتُهُ ثُمَّ يَهِيجُ فَتَرَاهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَكُونُ حُطَامًا ۖ وَفِي الْآخِرَةِ عَذَابٌ شَدِيدٌ وَمَغْفِرَةٌ مِّنَ اللَّهِ وَرِضْوَانٌ ۚ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ (الحديد: ٢٠)

Ketahuilah bahwa penghidupan dunia, hanya main-main, dan hiburan dan perhiasan, dan bangga-banggaan di antara kamu dan berlomba memperbanyak harta dan anak buah. Bagaikan air hujan yang mengagumkan petani hasil tanamannya, kemudian berubah menjadi kering, maka terlihat menguning warnanya, kemudian menjadi sampah (bahan bakar), sedang di akherat tersedia siksa yang berat, disamping ada pula peng- ampunan Allah dan keridhaanNya. Dan tiadalah kehidupan dunia kecuali kesenangan yang menipu. (Alhadid 20).

Rasulullah saw. bersabda :

حُبُّ الدُّنْيَا رَأْسُ كُلِّ خَطِيئَةٍ.

Cinta pada dunia itu pokok dari segala dosa.

Hikam Ibnu 'Atoillah

259. الْكَائِنُ فِي الْكَوْنِ وَلَمْ تُفْتَحْ لَهُ مَيَادِينُ الْغُيُوبِ مَسْجُونٌ بِمُحِيطَاتِهِ وَمَحْصُورٌ فِي هَيْكَلِ ذَاتِهِ.

Orang yang ada di alam dunia dan belum terbuka baginya lapangan ghaib, tetap terkurung dengan (oleh) syahwat dan adat kebiasaan- nya, dan terkepung oleh kepentingan-kepentingan kerangka badannya.

Demikianlah keadaan manusia yang belum terbuka nur iman dalam hatinya sehingga tidak mengenal pada Allah, medan (lapangan) perjuangannya hanya terkurung pada kebendaan belaka untuk pemuasan hawa nafsu dan syahwat semata-mata. Allah telah berfirman : HambaKu, jadikanlah perhatianmu seratus persen kepadaKu, niscaya Aku cukupi segala hajat kepentinganmu (kebutuhanmu), selama Aku dengan engkau, engkau dalam kedudukan hamba, dan selama engkau dengan Aku, maka engkau di tempat yang dekat, mintalah apa saja untuk dirimu.

Disalin