Langkau ke kandungan
Alhiyara
Alhiyara
Hikam Ibnu 'Atoillah

227. الْحَقَائِقُ تَرِدُ فِي حَالِ التَّجَلِّي مُجْمَلَةً، وَبَعْدَ الْوَعْيِ يَكُونُ الْبَيَانُ: فَإِذَا قَرَأْنَاهُ فَاتَّبِعْ قُرْآنَهُ، ثُمَّ إِنَّ عَلَيْنَا بَيَانَهُ.

Hakikat ilmu yang diturunkan Allah kepada orang-orang arifin ketika tajali itu mujmal (singkat), tetapi setelah tertangkap terjadinya penerangan (keterangan)nya Ayat : maka apabila kami bacakan, ikutilah bacaannya, kemudian kami sendiri yang akan menerangkannya (penjelasan periňcian). Ilmu ialah sesuatu yang kita dapat dengan belajar, dan hakikat ialah ilmu yang berupa ilham dari Allah ke dalam hati tanpa perantara.

Abubakar Alwarraq berkata : Ketika saya sedang berada di hutan Bani Isra’il tiba-tiba tergerak dalam hatiku bahwa ilmu hakikat itu berlawanan dengan ilmu syari’at, mendadak terlihat padaku seorang di bawah pohon (umghailaan) menjerit sambil memanggil : Hai Abubakar tiap-tiap hakikat yang bertentangan dengan syariat, maka kekufuran. Hakikat itu juga dapat disebut ilmu ladunni yang langsung dari Allah.

Petikan lain
Hikam Ibnu 'Atoillah

144. السَّتْرُ عَلَى قِسْمَيْنِ: سَتْرٌ عَنِ الْمَعْصِيَةِ، وَسَتْرٌ فِيهَا، فَالْعَامَّةُ يَطْلُبُونَ مِنَ اللهِ تَعَالَى السَّتْرَ فِيهَا خَشْيَةَ سُقُوطِ مَرْتَبَتِهِمْ عِنْدَ الْخَلْقِ، وَالْخَاصَّةُ يَطْلُبُونَ مِنَ اللهِ السَّتْرَ عَنْهَا خَشْيَةَ سُقُوطِهِمْ مِنْ نَظَرِ الْمَلِكِ الْحَقِّ.

Tutup Allah itu terbagi dua, (1) tertutup dari berbuat maksiat (dosa) dan tertutup dalam perbuatan maksiat (dosa). Manusia pada umumnya minta kepada Allah supaya ditutupi dalam perbuatan dosa, karena kuatir jatuh kedudukannya dalam pandangan sesama manusia, tetapi orang-orang yang khusus minta kepada Allah, supaya ditutupi daripada maksiat (dosa), jangan sampai berbuat dosa karena takut jatuh dari pandangan Allah.

Firman Allah :

يَسْتَخْفُونَ مِنَ النَّاسِ وَلَا يَسْتَخْفُونَ مِنَ اللَّهِ وَهُوَ مَعَهُمْ (النساء: ١٠٨)

Mereka sembunyi dari sesama manusia, tetapi tidak sembunyi dari Allah yang selalu beserta mereka.

Firman Allah :

يُرَاءُونَ النَّاسَ وَلَا يَذْكُرُونَ اللَّهَ إِلَّا قَلِيلًا (النساء: ١٤٢)

Mereka orang munafiq bermuka-muka kepada orang (riyaa') dan tiada ingat dzikir kepada Allah kecuali sedikit sekali. Ady Bin Hatim ra berkata : Rasulullah saw. bersabda : Kelak pada hari Qiamat ada beberapa orang yang dibawa ke surga, tetapi setelah melihat segala kesenangan yang tersedia dan merasakan hawa enaknya, tiba-tiba diperintahkan menghalaukan mereka dari surga, sebab mereka tidak ada bagian dalam surga itu, maka kembalilah mereka dengan penuh penyesalan. Sehingga mereka berkata : Ya Tuhan, andaikan Engkau

masukkan kami ke dalam neraka sebelum memperlihatkan kepada kami surga dan segala yang disediakan untuk para waliMu, niscaya akan lebih ringan bagi kami. Jawab Tuhan : Memang kami sengaja demikian, kamu dahulu jika sendirian berbuat segala dosa-dosa yang besar, tetapi jika bertemu pada orang-orang berlagak khusuk bermuka-muka pada manusia berlawanan dengan apa yang dalam hatimu, kamu takut kepada sesama manusia dan tidak takut kepadaKu, mengagungkan manusia dan tidak condong kepada-Ku, maka hari ini Aku rasakan siksaKu yang sepedih- pedihnya, di samping diharamkan atas kamu segala RahmatKu.

Hikam Ibnu 'Atoillah

019. كَيْفَ يُتَصَوَّرُ أَنْ يَحْجُبَهُ شَيْءٌ وَهُوَ الَّذِي ظَهَرَ لِكُلِّ شَيْءٍ. كَيْفَ يُتَصَوَّرُ أَنْ يَحْجُبَهُ شَيْءٌ وَهُوَ الظَّاهِرُ قَبْلَ وُجُودِ كُلِّ شَيْءٍ.

Bagaimana akan dapat ditutupi oleh sesuatu, padahal la yang tampak pada tiap segala sesuatu. Bagaimana akan dapat dibayangkan, bahwa Allah dapat dihijab oleh sesuatu, padahal Allah yang ada dhahir sebelum adanya sesuatu.

Hikam Ibnu 'Atoillah

147. لَوْ أَشْرَقَ لَكَ نُورُ الْيَقِينِ لَرَأَيْتَ الْآخِرَةَ أَقْرَبَ إِلَيْكَ مِنْ أَنْ تَرْحَلَ إِلَيْهَا، وَلَرَأَيْتَ مَحَاسِنَ الدُّنْيَا قَدْ ظَهَرَتْ كِسْفَةُ الْفَنَاءِ عَلَيْهَا.

Andaikan nur keyakinan itu telah menerangi hatimu, niscaya engkau dapat melihat akherat itu lebih dekat kepadamu sebelum engkau melangkahkan kaki kepadanya, juga niscaya engkau akan dapat melihat segala kecantikan dunia ini, telah diliputi kesuraman kerusakan yang bakal menghinggapinya.

Rasulullah saw. berkata : Sesungguhnya nur cahaya jika masuk dalam hati, terbuka lapanglah dada untuknya. Ketika Nabi saw. ditanya : Ya Rasulullah apakah yang demikian itu ada tandanya? Jawab Nabi saw. : Ya, yaitu merenggangkan diri dari dunia tipuan, dan condong pada akherat yang kekal, dan bersiap-siap untuk menghadapi maut (mati) sebelum tibanya.

Anas ra. berkata : Ketika Rasulullah saw. sedang berjalan berjumpa dengan seorang pemuda dari sahabat Anshar, Rasulullah langsung bertanya : Bagaimanakah keadaanmu hai Haritsah pada pagi ini ? Jawabnya : Saya kini menjadi seorang mukmin yang sungguh-sungguh. Rasulullah berkata : Hai Haritsah perhatikan perkataanmu, sebab tiap kata itu harus ada bukti hakikinya. Maka berkata Haritsah : Ya Rasulullah jiwaku jemu dari dunia, sehingga saya bangun malam dan puasa siang hari, kini seolah-olah aku berhadapan dengan arasy, dan melihat ahli surga sedang ziarah menziarahi satu pada yang lain,

sebagaimana seolah-olah aku melihat ahli neraka sedang menjerit- jerit di dalamnya. Bersabda Nabi saw. : Engkau telah melihat, maka tetapkanlah (jangan berubah). Seorang hamba, yang telah diberi nur iman dalam hatinya. Haritsah berkata : Ya Rasulullah doakan aku mati syahid, maka Nabi saw. berdoa untuknya. Dan ketika pada suatu hari ada panggilan untuk berjihad (Hai kuda Allah segeralah), maka dialah yang pertama menyambut dan pertama kali mati syahid. Dan ketika ibunya mendengar berita bahwa anaknya telah mati syahid, ia datang bertanya kepada Rasulullah saw. : Ya Rasulullah beritahukan kepadaku tentang Haritsah putraku, jika ia di surga aku tidak akan menangis atau menyesal, tetapi jika lain dari itu, maka aku akan menangis selama hidupku di dunia ! Jawab Nabi saw. : Hai Ibu Haritsah, bukan hanya satu surga tetapi surga di dalam surga-surga. Dan Haritsah telah mencapai firdaus yang tertinggi. Maka kembalilah ibu Haritsah sambil tertawa dan berkata : Untung-untung bagimu hai Haritsah.

Anas ra. juga berkata : Pada suatu hari Mu'adz bin Jabal masuk ke tempat Nabi saw. sambil menangis, maka ditanya oleh nabi saw. : Bagai- manakah keadaanmu pagi ini hai Mu'adz ? Jawab Mu'adz : Aku pagi ini mukmin benar-benar kepada Allah. Bersabda Nabi saw. : Tiap kata-kata yang benar itu harus ada bukti hakikatnya, maka apakah bukti pernyataan- mu itu ? Jawab Mu'adz : Ya Nabiyallah, kini jika aku berada di waktu pagi merasa mungkin tidak sampai sore, dan jika sore merasa tidak mungkin sampai pagi, dan tiap melangkahkan kaki merasa mungkin tidak dapat melangkahkan yang lain, dan terlihat kepadaku seolah-olah manusia semua telah dipanggil untuk menerima suratan amal bersama dengan Nabi-nabi dan berhala-berhalanya yang disembah selain dari Allah, juga seolah-olah saya melihat siksa ahli neraka dan pahala ahli surga. Maka bersabda Nabi : Engkau telah mengetahui, maka tetapkanlah. Rasulullah saw. ketika memberitahukan kepada sahabat-sahabat- nya hal gugurnya sahabat Zaid bin Haritsah dan Ja' far bin Abi Thalib dan Abdullah bin Rawahah ra. berkata : Demi Allah mereka tidak akan senang, andaikan mereka masih berada di antara kami. Rasulullah memberitakan demikian dengan air mata yang berlinang-linang.

Disalin