Beberapa nur Ilahi hanya diizinkan oleh Allah untuk sampai ke hati, dan ada beberapa nur Ilahi yang lainnya diizinkan oleh Allah untuk masuk ke dalam hati. Nur Ilahi hanya sampai ke hati, tetapi tidak masuk ke dalam, maka orang yang mendapat nur ini masih dapat melihat Tuhan dan dirinya, dunia dan akheratnya, yakni cinta dunia dan cinta akherat, cinta diri dan cinta Tuhan. Adapun nur Ilahi yang langsung masuk ke dalam hati, maka tidak ada pandangan kecuali Allah, tidak ada yang dicintai, diharap, disembah melainkan Allah semata-mata. Apabila nur iman mașih di luar hati, maka orang masih cinta Allah dan dunia, tetapi apabila nur iman menembus ke dalam hati, maka hanya cinta kepada Allah tidak ada lainnya. Jika nur iman di luar hati bernama Islam, dan jika masuk ke dalam hati barulah bernama iman.
223. لاَ تَنْفَعُهُ طَاعَتُكَ وَلاَ تَضُرُّهُ مَعْصِيَتُكَ، وَإِنَّمَا أَمَرَكَ بِهٰذِهِ وَنَهَاكَ عَنْ هٰذِهِ لِمَا يَعُودُ عَلَيْكَ.
Tidak berguna bagi Allah taatmu dan tidak madharrat (bahaya) pada Allah maksiat (dosa)mu, dan sesungguhnya Allah menyuruh kamu berbuat taat dan melarang kamu dari maksiat (dosa) itu untuk kepentinganmu sendiri. Allah Tuhan yang maha sempurna, kesempurnaan Allah tidak membutuhkan apa-apa, sedang semua makhluk sebagai hamba Tuhan tetap berhajat kepada Tuhan. Maka karena rahmat Allah untuk kepentingan kemaslahatan hamba, maka mengadakan perintah dan larangan, perintah dan larangan itu sedikitpun tidak berguna atau Dalam Hadits Allah berfirman : Hai hambaKu, andaikan orang yang pertama hingga yang terakhir dari kamu, manusia dan jin semua berbuat setaqwa-taqwa (sebaik-baik) hati seorang di antara kamu, maka yang demikian itu tidak menambah kekayaanKu sedikitpun, dan sebaliknya jika semua itu berbuat sejahat-jahat perbuatan seorang di antara kamu, maka yang demikian itu tidak mengurangi kekuasaan kerajaanKu sedikitpun, kecuali sebagai kurangnya air laut jika diambil dengan jarum, hai hambaKu sesungğuhnya amal perbuatanmu Aku catat untukmu kemudian Aku. serahkan kembali kepadamu, maka siapa yang mendapat kebaikan, hendaknya mengucapkan Alhamdulillah, dan siapa yang mendapatkan kejahatan maka jangan menista kecuali dirinya sendiri.
Tidak berguna bagi Allah taatmu dan tidak madharrat (bahaya) pada Allah maksiat (dosa)mu, dan sesungguhnya Allah menyuruh kamu berbuat taat dan melarang kamu dari maksiat (dosa) itu untuk kepentinganmu sendiri. Allah Tuhan yang maha sempurna, kesempurnaan Allah tidak membutuhkan apa-apa, sedang semua makhluk sebagai hamba Tuhan tetap berhajat kepada Tuhan. Maka karena rahmat Allah untuk kepentingan kemaslahatan hamba, maka mengadakan perintah dan larangan, perintah dan larangan itu sedikitpun tidak berguna atau Dalam Hadits Allah berfirman : Hai hambaKu, andaikan orang yang pertama hingga yang terakhir dari kamu, manusia dan jin semua berbuat setaqwa-taqwa (sebaik-baik) hati seorang di antara kamu, maka yang demikian itu tidak menambah kekayaanKu sedikitpun, dan sebaliknya jika semua itu berbuat sejahat-jahat perbuatan seorang di antara kamu, maka yang demikian itu tidak mengurangi kekuasaan kerajaanKu sedikitpun, kecuali sebagai kurangnya air laut jika diambil dengan jarum, hai hambaKu sesungğuhnya amal perbuatanmu Aku catat untukmu kemudian Aku. serahkan kembali kepadamu, maka siapa yang mendapat kebaikan, hendaknya mengucapkan Alhamdulillah, dan siapa yang mendapatkan kejahatan maka jangan menista kecuali dirinya sendiri.
062. إِنَّمَا أَوْرَدَ عَلَيْكَ الْوَارِدَ لِتَكُونَ بِهِ عَلَيْهِ وَارِدًا.
Sesunggunya Tuhan memberikan kepadamu warid (yaitu ilmu pengertian atau perasaan dalam hati, sehingga mengenal dan merasa benar-benar akan kebesaran kurnia rahmat Allah), hanya semata-mata supaya kau mendekat dan masuk ke hadirat Allah.
Sesunggunya Tuhan memberikan kepadamu warid (yaitu ilmu pengertian atau perasaan dalam hati, sehingga mengenal dan merasa benar-benar akan kebesaran kurnia rahmat Allah), hanya semata-mata supaya kau mendekat dan masuk ke hadirat Allah.
002. إِرَادَتُكَ التَّجْرِيدَ مَعَ إِقَامَةِ اللهِ إِيَّاكَ فِي الْأَسْبَابِ مِنَ الشَّهْوَةِ الخَفِيَّةِ، وَإِرَادَتُكَ الْأَسْبَابَ مَعَ إِقَامَةِ اللهِ إِيَّاكَ فِي التَّجْرِيدِ انْحِطَاطٌ مِنَ الْهِمَّةِ الْعَلِيَّةِ.
Keinginan untuk tajrid (melulu beribadat, tanpa berusaha dunia), padahal Allah masih menempatkan engkau pada golongan orang-orang yang harus berusaha (kasab) untuk mendapat kebutuhan sehari-hari, maka keinginanmu itu termasuk syahwat hawa nafsu yang samar (halus). Sebaliknya keinginanmu untuk berusaha kasab, padahal Allah telah menempatkan dirimu pada golongan orang yang melulu beribadat tanpa kasab, maka keinginan yang demikian berarti menurun dari semangat dan tingkat yang tinggi. Sebab kewajiban seorang hamba, menyerah kepada apa yang dipilihkan oleh majikannya. Lebih-lebih apabila majikan itu Tuhan Allah yang mengetahui benar-benar apa yang menguntungkan baginya dan yang menyusahkannya. Dan tanda bahwa Allah menempatkan dirimu dalam golongan orang yang harus berusaha kasab, apabila terasa ringan bagimu, sehingga tidak menyebabkan tertinggalnya sesuatu kewajiban dalam agamamu,juga menyebabkan kau tidak tamak (rakus) terhadap hak orang lain. Dan tanda bahwa Allah telah mendudukkan dirimu dalam golongan hamba yang tidak berusaha kasab : Apabila Tuhan memudahkan bagimu kebutuhan hidup dari jalan yang tidak disangka, kemudian jiwamu tetap tenang ketika terjadi kekurangan, karena tetap ingat dan bersandar kepada Tuhan, dan tidak berubah dalam menunaikan kewajiban-kewajiban. Syaithan sebagai musuh manusia, tidak suka bila melihat manusia itu tenang maka ia datang membisikkan kepada manusia, supaya tidak puas terhadap apa yang telah diberikan Allah kepadanya, dan selalu membayangkan kepadanya kesenangan, kemewahan, ketenangan lain orang untuk membangkitkan sifat tamak (rakus), iri hati terhadap apa yang bukan bagiannya, sehingga apabila ia telah melepaskan apa yang ia telah tenang, tentram itu untuk menurutkan sifat tamak rakusnya gagal amal perbuatannya dan kecewa. Firman Allah yang menunjukkan bagaimana tipu daya syaithan terhadap bapak Adam dan Hawa as.
مَا نَهَاكُمَا رَبُّكُمَا عَنْ هَٰذِهِ الشَّجَرَةِ إِلَّا أَن تَكُونَا مَلَكَيْنِ أَوْ تَكُونَا مِنَ الْخَالِدِينَ . (الأعراف: ٢٠)
Berkata syaithan : Tuhan tidak melarang kamu mendekati pohon ini melainkan supaya kamu tidak dapat mencapai kedudukan Malaikat atau tidak dapat kekal.dalam surga. (S. Al -A'raf 20).
Dalam surat Thoha ayat 120 :
فَوَسْوَسَ إِلَيْهِ الشَّيْطَانُ قَالَ يَا آدَمُ هَلْ أَدُلُّكَ عَلَىٰ شَجَرَةِ الْخُلْدِ وَمُلْكٍ لَّا يَبْلَىٰ؟ (طه : ١٢٠)
Maka membisikkan syaithan, ia berkata : Hai Adam sukakah Aku tunjukkan kepadamu pohon khuldi, (sesuatu yang dapat mengekalkan) dan kekayaan yang takkan habis (rusak).
(S. Thoha 120).
Seorang berkata : Beberapa kali saya telah meninggalkan usaha kasab tetapi terpaksa kembali berkasab, sehingga akhirnya akulah yang di tinggalkan oleh kasab itu, maka tiadalah aku kembali kepadanya. Seorang murid merasa, bahwa untuk sampai kepada Allah dan masuk dalam barisan para wali dengan sibuk pada ilmu dhahir dan bergaul dengan sesama manusia agak jauh dan tak mungkin lalu ia pergi menghadap gurunya, tiba-tiba sebelum ia sempat bertanya, guru bercerita : Ada seorang terkemuka dalam ilmu dhahir, ketika ia dapat merasakan sedikit dari perjalanan ini, Ia datang kepadaku dan berkata : Aku akan meninggalkan kebiasaanku untuk mengikuti per- jalananmu. Jawab : Bukan itu yang harus kamu lakukan, tetapi tetapiah dalam kedudukanmu, sedang apa yang akan diberikan Allan kepadamu pasti sampai (tercapai) kepadamu (olehmu).
Keinginan untuk tajrid (melulu beribadat, tanpa berusaha dunia), padahal Allah masih menempatkan engkau pada golongan orang-orang yang harus berusaha (kasab) untuk mendapat kebutuhan sehari-hari, maka keinginanmu itu termasuk syahwat hawa nafsu yang samar (halus). Sebaliknya keinginanmu untuk berusaha kasab, padahal Allah telah menempatkan dirimu pada golongan orang yang melulu beribadat tanpa kasab, maka keinginan yang demikian berarti menurun dari semangat dan tingkat yang tinggi. Sebab kewajiban seorang hamba, menyerah kepada apa yang dipilihkan oleh majikannya. Lebih-lebih apabila majikan itu Tuhan Allah yang mengetahui benar-benar apa yang menguntungkan baginya dan yang menyusahkannya. Dan tanda bahwa Allah menempatkan dirimu dalam golongan orang yang harus berusaha kasab, apabila terasa ringan bagimu, sehingga tidak menyebabkan tertinggalnya sesuatu kewajiban dalam agamamu,juga menyebabkan kau tidak tamak (rakus) terhadap hak orang lain. Dan tanda bahwa Allah telah mendudukkan dirimu dalam golongan hamba yang tidak berusaha kasab : Apabila Tuhan memudahkan bagimu kebutuhan hidup dari jalan yang tidak disangka, kemudian jiwamu tetap tenang ketika terjadi kekurangan, karena tetap ingat dan bersandar kepada Tuhan, dan tidak berubah dalam menunaikan kewajiban-kewajiban. Syaithan sebagai musuh manusia, tidak suka bila melihat manusia itu tenang maka ia datang membisikkan kepada manusia, supaya tidak puas terhadap apa yang telah diberikan Allah kepadanya, dan selalu membayangkan kepadanya kesenangan, kemewahan, ketenangan lain orang untuk membangkitkan sifat tamak (rakus), iri hati terhadap apa yang bukan bagiannya, sehingga apabila ia telah melepaskan apa yang ia telah tenang, tentram itu untuk menurutkan sifat tamak rakusnya gagal amal perbuatannya dan kecewa. Firman Allah yang menunjukkan bagaimana tipu daya syaithan terhadap bapak Adam dan Hawa as.
مَا نَهَاكُمَا رَبُّكُمَا عَنْ هَٰذِهِ الشَّجَرَةِ إِلَّا أَن تَكُونَا مَلَكَيْنِ أَوْ تَكُونَا مِنَ الْخَالِدِينَ . (الأعراف: ٢٠)
Berkata syaithan : Tuhan tidak melarang kamu mendekati pohon ini melainkan supaya kamu tidak dapat mencapai kedudukan Malaikat atau tidak dapat kekal.dalam surga. (S. Al -A'raf 20).
Dalam surat Thoha ayat 120 :
فَوَسْوَسَ إِلَيْهِ الشَّيْطَانُ قَالَ يَا آدَمُ هَلْ أَدُلُّكَ عَلَىٰ شَجَرَةِ الْخُلْدِ وَمُلْكٍ لَّا يَبْلَىٰ؟ (طه : ١٢٠)
Maka membisikkan syaithan, ia berkata : Hai Adam sukakah Aku tunjukkan kepadamu pohon khuldi, (sesuatu yang dapat mengekalkan) dan kekayaan yang takkan habis (rusak).
(S. Thoha 120).
Seorang berkata : Beberapa kali saya telah meninggalkan usaha kasab tetapi terpaksa kembali berkasab, sehingga akhirnya akulah yang di tinggalkan oleh kasab itu, maka tiadalah aku kembali kepadanya. Seorang murid merasa, bahwa untuk sampai kepada Allah dan masuk dalam barisan para wali dengan sibuk pada ilmu dhahir dan bergaul dengan sesama manusia agak jauh dan tak mungkin lalu ia pergi menghadap gurunya, tiba-tiba sebelum ia sempat bertanya, guru bercerita : Ada seorang terkemuka dalam ilmu dhahir, ketika ia dapat merasakan sedikit dari perjalanan ini, Ia datang kepadaku dan berkata : Aku akan meninggalkan kebiasaanku untuk mengikuti per- jalananmu. Jawab : Bukan itu yang harus kamu lakukan, tetapi tetapiah dalam kedudukanmu, sedang apa yang akan diberikan Allan kepadamu pasti sampai (tercapai) kepadamu (olehmu).