Langkau ke kandungan
Alhiyara
Alhiyara
Hikam Ibnu 'Atoillah

214. تَمَكُّنُ حَلاَوَةِ الْهَوَى مِنَ الْقَلْبِ هُوَ الدَّاءُ الْعُضَالُ.

Meresapnya rasa manisnya hawa nafsu dalam hati merupakan penyakit yang sukar diobatinya (disembuhkan). Hati itu tempat iman keyakinan dan ma’rifat, dan semua itu sebagai obat, tetapi apabila kecintaan kepada dunia dan syahwat telah menguasai/ memenuhi hati, maka tidak ada tempat untuk obatnya, maka disitulah letak kesukaran untuk mengobatinya, sehingga sukar disembuhkannya.

Rasulullah saw. bersabda :

حُبُّ الدُّنْيَا رَأْسُ كُلِّ خَطِيئَةٍ.

Cinta kepada dunia itulah induk/pokok dari segala dosa.

Petikan lain
Hikam Ibnu 'Atoillah

147. لَوْ أَشْرَقَ لَكَ نُورُ الْيَقِينِ لَرَأَيْتَ الْآخِرَةَ أَقْرَبَ إِلَيْكَ مِنْ أَنْ تَرْحَلَ إِلَيْهَا، وَلَرَأَيْتَ مَحَاسِنَ الدُّنْيَا قَدْ ظَهَرَتْ كِسْفَةُ الْفَنَاءِ عَلَيْهَا.

Andaikan nur keyakinan itu telah menerangi hatimu, niscaya engkau dapat melihat akherat itu lebih dekat kepadamu sebelum engkau melangkahkan kaki kepadanya, juga niscaya engkau akan dapat melihat segala kecantikan dunia ini, telah diliputi kesuraman kerusakan yang bakal menghinggapinya.

Rasulullah saw. berkata : Sesungguhnya nur cahaya jika masuk dalam hati, terbuka lapanglah dada untuknya. Ketika Nabi saw. ditanya : Ya Rasulullah apakah yang demikian itu ada tandanya? Jawab Nabi saw. : Ya, yaitu merenggangkan diri dari dunia tipuan, dan condong pada akherat yang kekal, dan bersiap-siap untuk menghadapi maut (mati) sebelum tibanya.

Anas ra. berkata : Ketika Rasulullah saw. sedang berjalan berjumpa dengan seorang pemuda dari sahabat Anshar, Rasulullah langsung bertanya : Bagaimanakah keadaanmu hai Haritsah pada pagi ini ? Jawabnya : Saya kini menjadi seorang mukmin yang sungguh-sungguh. Rasulullah berkata : Hai Haritsah perhatikan perkataanmu, sebab tiap kata itu harus ada bukti hakikinya. Maka berkata Haritsah : Ya Rasulullah jiwaku jemu dari dunia, sehingga saya bangun malam dan puasa siang hari, kini seolah-olah aku berhadapan dengan arasy, dan melihat ahli surga sedang ziarah menziarahi satu pada yang lain,

sebagaimana seolah-olah aku melihat ahli neraka sedang menjerit- jerit di dalamnya. Bersabda Nabi saw. : Engkau telah melihat, maka tetapkanlah (jangan berubah). Seorang hamba, yang telah diberi nur iman dalam hatinya. Haritsah berkata : Ya Rasulullah doakan aku mati syahid, maka Nabi saw. berdoa untuknya. Dan ketika pada suatu hari ada panggilan untuk berjihad (Hai kuda Allah segeralah), maka dialah yang pertama menyambut dan pertama kali mati syahid. Dan ketika ibunya mendengar berita bahwa anaknya telah mati syahid, ia datang bertanya kepada Rasulullah saw. : Ya Rasulullah beritahukan kepadaku tentang Haritsah putraku, jika ia di surga aku tidak akan menangis atau menyesal, tetapi jika lain dari itu, maka aku akan menangis selama hidupku di dunia ! Jawab Nabi saw. : Hai Ibu Haritsah, bukan hanya satu surga tetapi surga di dalam surga-surga. Dan Haritsah telah mencapai firdaus yang tertinggi. Maka kembalilah ibu Haritsah sambil tertawa dan berkata : Untung-untung bagimu hai Haritsah.

Anas ra. juga berkata : Pada suatu hari Mu'adz bin Jabal masuk ke tempat Nabi saw. sambil menangis, maka ditanya oleh nabi saw. : Bagai- manakah keadaanmu pagi ini hai Mu'adz ? Jawab Mu'adz : Aku pagi ini mukmin benar-benar kepada Allah. Bersabda Nabi saw. : Tiap kata-kata yang benar itu harus ada bukti hakikatnya, maka apakah bukti pernyataan- mu itu ? Jawab Mu'adz : Ya Nabiyallah, kini jika aku berada di waktu pagi merasa mungkin tidak sampai sore, dan jika sore merasa tidak mungkin sampai pagi, dan tiap melangkahkan kaki merasa mungkin tidak dapat melangkahkan yang lain, dan terlihat kepadaku seolah-olah manusia semua telah dipanggil untuk menerima suratan amal bersama dengan Nabi-nabi dan berhala-berhalanya yang disembah selain dari Allah, juga seolah-olah saya melihat siksa ahli neraka dan pahala ahli surga. Maka bersabda Nabi : Engkau telah mengetahui, maka tetapkanlah. Rasulullah saw. ketika memberitahukan kepada sahabat-sahabat- nya hal gugurnya sahabat Zaid bin Haritsah dan Ja' far bin Abi Thalib dan Abdullah bin Rawahah ra. berkata : Demi Allah mereka tidak akan senang, andaikan mereka masih berada di antara kami. Rasulullah memberitakan demikian dengan air mata yang berlinang-linang.

Hikam Ibnu 'Atoillah

162. مَطْلِعُ الْأَنْوَارِ الْقُلُوبُ وَالْأَسْرَارُ.

Tempat terbitnya berbagai nur cahaya Ilahi itu dalam hati manusia dan rahasia-rahasianya. Bintang ilmu dan bulan ma'rifat dan matahari tauhid semuanya bersarang dan terbit hanya pada hati manusia.

Rasulullah saw. bersabda : Allah telah berfirman :

لَمْ يَسَعْنِي أَرْضِي وَلَا سَمَائِي، وَلَكِنْ وَسِعَنِي قَلْبُ عَبْدِي الْمُؤْمِنِ.

Tidak cukup untukKu langit dan bumiKu, tetapi yang cukup bagiku hanya hati hambaKu yang beriman (mukmin). Abdul-Hasan Asysyadzily berkata : Andaikan Allah membuka penerangan nur seorang mukmin yang berbuat dosa, niscaya memenuhi antara langit dan bumi, maka bagaimanakah dengan nur cahaya seorang mukmin yang taat. Abul-Abbas Almarsy berkata : Andaikan Allah membuka hakikat kewalian seorang wali, niscaya akan disembah orang, sebab ia bersifat dengan sifat-sifat Allah swt. Andaikan Allah membuka nur cahaya hati para walinya, niscaya akan sirna cahaya matahari, bukan karena kuat nur para wali itu tetapi karena nur matahari dan bulan dapat hapus dengan gerhana, sedang nur para wali itu tidak ada gerhananya. Sesungguhnya matahari terbenam di waktu malam. Sedang matahari hati itu tidak terbenam untuk selamanya.

Hikam Ibnu 'Atoillah

292. النَّاسُ فِي وُرُودِ الْمِنَنِ عَلَى ثَلاَثَةِ أَقْسَامٍ: فَمُفْرَحٌ بِالْمِنَنِ لاَ مِنْ حَيْثُ مُهْدِيهَا وَمُنْشِئُهَا، وَلٰكِنْ بِوُجُودِ مُتْعَةٍ فِيهَا، فَهٰذَا مِنَ الْغَافِلِينَ يَصْدُقُ عَلَيْهِ قَوْلُهُ تَعَالَى: حَتَّى إِذَا فَرِحُوا بِمَا أُوتُوا أَخَذْنَاهُمْ بَغْتَةً. وَمُفْرَحٌ بِالْمِنَنِ مِنْ حَيْثُ إِنَّهُ شَهِدَهَا مِنَّةً مِمَّنْ أَنْشَأَهَا وَنِعْمَةً مِمَّنْ أَوْصَلَهَا، يَصْدُقُ عَلَيْهِ قَوْلُهُ تَعَالَى: قُلْ بِفَضْلِ اللهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذٰلِكَ فَلْيَفْرَحُوا هُوَ خَيْرٌ مِمَّا يَجْمَعُونَ. وَمُفْرَحٌ بِاللهِ مَا شَغَلَهُ مِنَ الْمِنَنِ ظَاهِرُ مُتْعَتِهَا وَلاَ بَاطِنُ مِنَّتِهَا، بَلْ شَغَلَهُ النَّظَرُ إِلَى اللهِ عَمَّا سِوَاهُ، وَالْجَمْعُ عَلَيْهِ، فَلاَ يَشْهَدُ إِلاَّ إِيَّاهُ، يَصْدُقُ عَلَيْهِ قَوْلُهُ تَعَالَى: قُلِ اللهُ ثُمَّ ذَرْهُمْ فِي خَوْضِهِمْ يَلْعَبُونَ.

Manusia di dalam menghadapi nikmat kurnia Allah terbagi tiga : 1. Gembira dengan nikmat itu, bukan karena yang memberikannya, tetapi semata-mata karena kelezatan dan kepuasan hawa nafsu dari nikmat itu, maka ini termasuk orang lalai (ghafil), orang ini sesuai dengan firman Allah : Sehingga bila mereka telah puas gembira dengan apa yang diberikan itu, Kami tangkap mereka dengan tiba-tiba (Kami siksa mereka dengan tiba-tiba). 2. Orang yang gembira dengan nikmat karena ia merasa bahwa itu kuria yang diberikan Allah kepadanya, ini sesuai dengan firman Allah : Katakanlah : Karena merasa mendapat kurnia dan rahmat Allah, maka dengan itulah mereka harus gembira. yang demikian itu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan. 3. Orang yang hanya gembira dengan

Allah, tidak terpengaruh oleh kelezatan lahirnya nikmat, dan tidak karena kurnia Allah, sebab ia sibuk memperhatikan Allah sehingga terhibur dari segala lainNya, maka tidak ada yang terlihat padanya kecuali Allah, ini sesuai dengan firman Allah : Katakanlah : Hanya Allah, kemudian biarkan mereka dalam kesibukan mereka berkecimpung (main-main).

Asysyibly berkata : Syukur itu jalan melihat pada yang memberi, bukan melihat nikmat pemberiannya.

Abdul Aziz Almahdawy berkata : Siapa yang tidak melihat pemberi nikmat di dalam nikmat itu, maka nikmat itu hanya berupa istidraj (dilulu) dan berubah menjadi bala. Abu Hamid (Muhammad) Alghazzaly membuat contoh : Seorang raja memberi hadiah kuda pada rakyatnya, maka dalam menerima nikmat pemberian hadiah ada tiga macam : 1. Merasa gembira karena ia mendapat sesuatu yang berguna dan berharga, sesuai dengan maksud tujuannya, dan dapat menyampaikan hajat keinginannya. Orang yang sedemikian ini tidak memperhatikan raja sama sekali, pandangannya hanya semata-mata pada kuda, diberi raja atau mendapat di hutan tidak beda baginya. 2. Orang yang gembira bukan karena kudanya, tetapi karena merasa diberi, diingati, dikasihi oleh raja, orang ini dapat membedakan antara pemberian raja dengan jika ia mendapat di hutan. 3. Orang yang merasa gembira karena dengan pemberian itu, ia dapat menggunakan untuk lebih mendekat kepada raja, sehingga dapat lebih meningkatkan kedudukannya di sisi raja.

Disalin