Langkau ke kandungan
Alhiyara
Alhiyara
Hikam Ibnu 'Atoillah

210. مَنِ اسْتَغْرَبَ أَنْ يُنْقِذَهُ اللهُ مِنْ شَهْوَتِهِ، وَأَنْ يُخْرِجَهُ مِنْ وُجُودِ غَفْلَتِهِ، فَقَدِ اسْتَعْجَزَ الْقُدْرَةَ الْإِلٰهِيَّةَ، وَكَانَ اللهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ مُقْتَدِرًا.

Siapa yang merasa ganjil (tidak mungkin) dapat diselamatkan oleh Allah dari pengaruh hawa nafsu syahwatnya, atau dihindarkan dari kelalaiannya, maka berarti ia telah memperlemah kekuasaan Allah. Sedang Allah atas segala sesuatu maha berkuasa. Tuntunan iman harus percaya terhadap qudrat (kekuasaan) Allah secara mutlak tanpa kecuali : Sesungguhnya Allah atas segala sesuatu maha berkuasa. Dan qudrat Allah tergantung pada iradatNya, sehingga tidak ada sesuatu yang terjadi tanpa iradat dan qudratnya, apabila

Allah berkehendak, maka berjalanlah qudratnya dengan perintahnya : Sesungguhnya perintah Allah jika menghendaki sesuatu, hanya berkata : Kun, maka terjadilah apa yang di kehendakiNya, pada saat yang ditentukanNya menurut apa yang dikehendakiNya. Maka karenanya kepercayaan terhadap taqdir kekuasaan Allah yang demikian itu, jangan ada seorang patah harapan dari rahmat Allah walau bagaimanapun keadaannya. Tetapi jangan mempermainkan atau meremehkan kekuasaan Allah itu.

قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَىٰ أَنفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِن رَّحْمَةِ اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا ۚ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ (الزمر: ٥٣)

Katakanlah : Hai hambaKu yang telah keterlampauan menjerumus- kan diri (berbuat dosa), jangan kamu putus harapan dari rahmat Allah, sesungguhnya Allah sanggup mengampunkan semua dosa, sungguh Allah maha pengampun lagi penyayang.

Petikan lain
Hikam Ibnu 'Atoillah

202. لاَ يَنْبَغِي لِلسَّالِكِ أَنْ يُعَبِّرَ عَنْ وَارِدَاتِهِ، فَإِنَّ ذٰلِكَ يُقِلُّ عَمَلَهَا فِي قَلْبِهِ، وَيَمْنَعُ وُجُودَ الصِّدْقِ مَعَ رَبِّهِ.

Tidak layak bagi seorang salik (yang baru merangkak dalam jihad melawan hawa nafsu) membuka atau menerangkan apa yang telah ia dapat daripada kurnia Tuhan, sebab yang demikian ini akan mengurangi pengaruhnya ke dalam hatinya sendiri, dan merusak (menghalangi) kesungguhannya terhadap Tuhan. Rahasia-rahasia yang diberikan oleh Tuhan kepada seorang salik harus disimpan baik-baik, dan jangan diobral murah kepada sesama manusia, kecuali kepada yang dapat memimpinnya. Sebab bila ternyata bahwa ia dapat menyimpan rahasia-rahasia Tuhan yang diberikan kepadanya, ia akan mendapat kepercayaan untuk rahasia-rahasia yang lebih besar selanjutnya. Dan bila selalu diobral, berarti pandangannya belum bulat kepada Allah, tetapi masih selalu mengharap apa-apa kepada sesama makhluk.

Hikam Ibnu 'Atoillah

264. وِجْدَانُ ثَمَرَاتِ الطَّاعَاتِ عَاجِلاً بِشَارَاتُ الْعَامِلِينَ بِوُجُودِ الْجَزَاءِ آجِلاً.

Terasanya kelezatan buah taat ketika hidup di dunia, sebagai bukti (berita gembira) bagi orang yang beramal, atas adanya pahala yang segera (kontan) di akhirat kelak. Rasulullah saw. telah bersabda : Pasti akan dapat merasakan kelezatan iman, siapa yang benar-benar rela ber-Tuhan kepada Allah, bernabikan Nabi Muhammad dan beragama Islam.

Buah iman itu ialah bertambahnya keyakinan, merasa senang melakukan ibadah, bertambah puas menerima segala ajaran tuntunan Allah dan Rasulullah saw. Maka siapa yang dapat merasakan semua itu, sebagai tanda diterima amal dan akan mendapat pembalasan pahala kelak di akhirat, sebagaimana telah mendapat rasa lezat dan enaknya di dunia.

Hikam Ibnu 'Atoillah

199. عِبَارَاتُهُمْ إِمَّا لِفَيَضَانِ وَجْدٍ، أَوْ لِقَصْدِ هِدَايَةِ مُرِيدٍ، فَالْأَوَّلُ حَالُ السَّالِكِينَ، وَالثَّانِي حَالُ أَرْبَابِ التَّمْكِينِ وَالْمُحَقِّقِينَ.

Kata-kata kalimat mereka itu, imma karena luapan perasaan yang penuh dalam hati, yang tidak dapat ditahan, atau karena tujuan memberi petunjuk pada seorang murid. Yang pertama itu hal keadaan yang masih salik (sedang berjalan), sedang kedua : Hal keadaan orang yang sudah matang dan mendalam benar-benar dalam ilmu hakikat. Jika seorang salik (yang sedang berjalan) menuju hakikat itu berkata- kata bukan karena luapan hatinya, niscaya ia hanya merupakan dakwa (pengakuan) yang palsu belaka, demikian pula orang yang sudah di puncak jika bicara bukan untuk memberi petunjuk kepada murid, berarti ia telah membuka rahasia yang tidak diizinkan. Sedang lazimnya ia diam tidak bicara sebab ia selalu dalam adab hadirat Allah ta'ala

Firman Allah :

وَخَشَعَتِ الْأَصْوَاتُ لِلرَّحْمَٰنِ فَلَا تَسْمَعُ إِلَّا هَمْسًا (طه: ١٠٨)

Telah tunduk semua suara-suara itu kepada Arrahman (Allah), maka tidak terdengar kecuali bisik-bisikan semata-mata.

Disalin