Langkau ke kandungan
Alhiyara
Alhiyara
Hikam Ibnu 'Atoillah

207. قَيَّدَ الطَّاعَاتِ بِأَعْيَانِ الْأَوْقَاتِ كَيْ لاَ يَمْنَعَكَ عَنْهَا وُجُودُ التَّسْوِيفِ، وَوَسَّعَ عَلَيْكَ الْوَقْتَ كَيْ تَبْقَى لَكَ حِصَّةُ الاِخْتِيَارِ.

Allah sengaja mengikat amal taat itu dengan waktu yang tertentu untuk tidak menahan engkau daripada mengerjakannya karena kebiasaan keteledoran dan kemalasanmu yang suka menunda- nunda, tetapi Allah memperluas waktunya supaya tetap ada bagimu kesempatan memilih waktu yang lebih tepat/ringan atau lebih khusyuk. Sebab apabila waktu itu tidak ditetapkan, niscaya manusia akan menunda-nunda yang akhirnya tidak sampai berbuat, dan diperluas waktu bagi orang yang betul-betul masih sibuk, sehingga ia berbuat setelah tenang dan dapat mengerjakan dengan lebih sempurna.

Petikan lain
Hikam Ibnu 'Atoillah

056. حُسْنُ الْأَعْمَالِ نَتَائِجُ حُسْنِ الْأَحْوَالِ، وَحُسْنُ الْأَحْوَالِ مِنَ التَّحَقُّقِ فِي مَقَامَاتِ الْإِنْزَالِ.

Baiknya amal perbuatan itu, sebagai hasil dari baiknya budi dan hati, dan baiknya hati itu sebagai hasil dari kesungguhan Istiqamah pada apa yang diperintah oleh Tuhan (yakni tidak bergerak dari apa yang didudukkan oleh Tuhan). Amal yang baik itu hanya yang diterima oleh Tuhan, dan itu pasti karena baik dalam segi keikhlasan kepada Allah, dan tidak mungkin ikhlas kecuali jika ia mengerti benar-benar kedudukan dirinya terhadap Tuhannya. Abu Hamid Alghazzaly berkata : Tiap tingkat dalam kepercayaan/keyakinan itu mempunyai ilmu, dan hal (perasaan) dan amal perbuatan. Ilmu-yaqin (keyakinan yang didapat dari pengertian teori pelajaran). Ainul-yaqin keyakinan yang didapat dari fakta kenyataan lahir setelah terungkap/terbuka). Haqqul-yagin (keyakinan yang benar-benar langsung dari Allah, dan tidak dapat diragukan sedikitpun, yaitu keyakinan yang mutlak.

Hikam Ibnu 'Atoillah

267. مَا كَانَ ظَاهِرُ ذِكْرٍ إِلاَّ عَنْ بَاطِنِ شُهُودٍ وَفِكْرٍ.

Tidak terjadi dzikir pada lahirnya kecuali timbul dari pemikiran dan kesadaran/penglihatan batin. Tiap dzikir yang terjadi pada seseorang itu, pasti disebabkan adanya kesadaran ingat akan kebesaran dan mengharap kurnia pemberian Allah.

Hikam Ibnu 'Atoillah

112. مَتَى أَطْلَقَ لِسَانَكَ بِالطَّلَبِ فَاعْلَمْ أَنَّهُ يُرِيدُ أَنْ يُعْطِيَكَ.

Apabila Allah telah melepaskan lidahmu untuk meminta, maka ketahuilah bahwa Allah akan memberi kepadamu.

Abdullah bin Umar ra. berkata : Rasulullah saw. bersabda : Siapa yang telah mendapat izin untuk berdoa, berarti telah dibukakan baginya pintu rahmat, dan tiada dimintai sesuatu yang lebih disukai oleh Allah daripada dimintai maaf dan selamat dunia akherat. Lain Hadits : Rasulullah saw. bersabda : Siapa yang telah diberi kesempatan berdoa, maka tidak akan diharamkan dari ijabah (di- terimanya doa). Anas bin Malik ra. berkata : Rasulullah saw. bersabda : Apabila Allah kasih sayang pada seorang hamba, maka dituangkan kepadanya bala', maka bila ia berdoa, berkata Malaikat : Suara yang sudah terkenal. dan berkata Jibril : Tuhanku, hambaMu Fulan, sampaikan hajatnya. Jawab Allah : Biarkan hambaKu, Aku suka mendengar suaranya. maka apabila hamba berkata : Ya Rabbi. Jawab Tuhan : Labbaika hambaKu, tiada engkau berdoa melainkan Aku sambut, dan n Abdi pade Khalgnya)

tiada engkau minta suatu melainkan pasti Aku berikan, Imma (ada kalanya) Aku segerakan untukmu, atau Aku simpan untukmu yang lebih baik bagimu, atau tolak daripadamu bala' yang lebih besar dari itu.

Disalin