Adakalanya orang yang membicarakan (menerangkan) tentang suatu magam (tingkat) dalam kewalian itu, seorang yang ingin sampai kepadanya dan baru mengintai. Dan adakalanya orang yang membicarakan itu orang yang telah sampai kedalamnya, dan yang demikian itu kabur, kecuali terhadap orang yang tajam matahati (terang hati nuraninya).
175. وَمَنْ فَنِيَ بِهِ غَابَ عَنْ كُلِّ شَيْءٍ.
Dan siapa yang fana dengan Allah, pasti ia lupa (ghaib) dari segala sesuatu.
Dan siapa yang fana dengan Allah, pasti ia lupa (ghaib) dari segala sesuatu.
150. أَظْهَرَ كُلَّ شَيْءٍ لِأَنَّهُ الْبَاطِنُ، وَطَوَى وُجُودَ كُلِّ شَيْءٍ لِأَنَّهُ الظَّاهِرُ.
Allah yang mendhahirkan segala sesuatu, karena Dia (Allah) yang bersifat batin, dan Allah melipat adanya segala sesuatu sebab Allah itulah yang dhahir (jelas) pada tiap-tiap sesuatu. Sebab alat penglihatan manusia ini serba gelap, tidak hanya cukup dengan mata dan benda yang dilihat, harus dibantu oleh nur cahaya yang menerangi mata dan benda yang akan dilihat. Sedang Allah itulah yang "Nurus samaawati wal'ardhi" : Allah itulah yang menerangi langit dan bumi.
Allah yang mendhahirkan segala sesuatu, karena Dia (Allah) yang bersifat batin, dan Allah melipat adanya segala sesuatu sebab Allah itulah yang dhahir (jelas) pada tiap-tiap sesuatu. Sebab alat penglihatan manusia ini serba gelap, tidak hanya cukup dengan mata dan benda yang dilihat, harus dibantu oleh nur cahaya yang menerangi mata dan benda yang akan dilihat. Sedang Allah itulah yang "Nurus samaawati wal'ardhi" : Allah itulah yang menerangi langit dan bumi.
018. كَيْفَ يُتَصَوَّرُ أَنْ يَحْجُبَهُ شَيْءٌ وَهُوَ الَّذِي ظَهَرَ فِي كُلِّ شَيْءٍ.
Bagaimana akan mungkin dihijab oleh sesuatu, padahal Dia yang terlihat dalam tiap sesuatu.
Bagaimana akan mungkin dihijab oleh sesuatu, padahal Dia yang terlihat dalam tiap sesuatu.