Nur cahaya yang dicapai dengan panca indera menerangkan bagimu bekas-bekas buatan Allah yang berupa benda, sebaliknya nur iman keyakinan dapat menunjukkan kamu hakikat sifat-sifat Allah. Dengan nur cahaya matahari engkau melihat benda-benda alam, tetapi dengan nur iman keyakinan engkau dapat langsung melihat kepada Allah yang menjadikan benda alam.
271. مَنْ بُورِكَ لَهُ فِي عُمْرِهِ أَدْرَكَ فِي يَسِيرٍ مِنَ الزَّمَنِ مِنْ مِنَنِ اللهِ تَعَالَى مَا لاَ يَدْخُلُ تَحْتَ دَوَائِرِ الْعِبَارَةِ وَلاَ تَلْحَقُهُ الْإِشَارَةُ.
Siapa yang diberi berkah umur (usia)nya, maka dapat mencapai dalam masa yang singkat dari kurnia Allah yang tidak dapat dihitung oleh kata-kata, dan tidak dapat dikejar oleh isyarat. (Yakni tidak terhitung dan tidak terbatas). Usia (umur) yang berkah itu ialah jika Allah memberi kesadaran terhadap seseorang untuk mempergunakan kesempatan yang ada padanya untuk amal kebaikan, sebab ada kalanya amal kebaikan jika tepat pada sasarannya dapat mencapai apa yang tidak tercapai dalam masa seribu bulan.
Rasulullah saw. bersabda : Amal kebaikan (albirr) itu menambah umur. Bukan bertambah masanya, tetapi kebesaran hasil yang didapat pada usia itu. Abdul-Abbas Almarsy ber mdulillah waktu- waktu kami semuanya berupa lailatul-ga kni semua waktu- waktunya diisi penuh dengan kelakuan dan amal yang sangat berguna.
Siapa yang diberi berkah umur (usia)nya, maka dapat mencapai dalam masa yang singkat dari kurnia Allah yang tidak dapat dihitung oleh kata-kata, dan tidak dapat dikejar oleh isyarat. (Yakni tidak terhitung dan tidak terbatas). Usia (umur) yang berkah itu ialah jika Allah memberi kesadaran terhadap seseorang untuk mempergunakan kesempatan yang ada padanya untuk amal kebaikan, sebab ada kalanya amal kebaikan jika tepat pada sasarannya dapat mencapai apa yang tidak tercapai dalam masa seribu bulan.
Rasulullah saw. bersabda : Amal kebaikan (albirr) itu menambah umur. Bukan bertambah masanya, tetapi kebesaran hasil yang didapat pada usia itu. Abdul-Abbas Almarsy ber mdulillah waktu- waktu kami semuanya berupa lailatul-ga kni semua waktu- waktunya diisi penuh dengan kelakuan dan amal yang sangat berguna.
072. أَنْتَ حُرٌّ مِمَّا أَنْتَ عَنْهُ آيِسٌ، وَعَبْدٌ لِمَا أَنْتَ لَهُ طَامِعٌ.
Engkau bebas merdeka dari segala sesuatu yang tidak engkau butuhkan, dan engkau tetap menjadi hamba kepada apa yang engkau harapkan (inginkan). Andaikan tidak ada keinginan-keinginan yang palsu, pasti orang akan bebas merdeka tidak akan diperbudak oleh sesuatu yang tidak berarti (berharga). Contohnya : Burung elang rajawali yang terbang tinggi di angkasa lepas, sukar seorang akan mendapat menangkapnya, tetapi ia melihat sepotong daging yang tergantung pada perangkap, maka ia turun oleh sifat tamaknya dari angkasa itu, maka terjebak oleh perangkap itu sehingga ia menjadi permainan anak-anak kecil.
Fateh Al-Maushily ketika ditanya tentang contoh orang yang menurut- kan syahwat hawa nafsu dan sifat tamaknya, sedang tidak jauh dari tempat itu ada dua anak yang sedang makan roti, yang satu hanya makan roti, sedang yang kedua makan roti dengan keju, lalu yang makan roti ingin keju, maka ia berkata kepada temannya : Berilah kepadaku keju. Jawab temannya : Jika engkau suka saya jadikan anjingku, saya beri keju. Jawab yang minta : Baiklah. Maka lalu diikat lehernya dengan tali sebagai anjing dan dituntun. Berkata Fateh kepada orang yang bertanya: Andaikata anak itu tidak tamak pada keju, niscaya tidak menjadi anjing. Terjadi ada seorang murid didatangi oleh gurunya, maka ia ingin menjamu gurunya, lalu ia ingin keluarkan roti tanpa lauk pauk, dan tergerak dalam hati murid sekiranya ada lauk pauknya tentu lebih sempurna. Kemudian setelah selesai dimakan oleh guru apa yang dihidangkan itu, bangunlah guru itu keluar tiba-tiba di bawa ke penjara untuk ditunjukkan berbagai macamnya orang-orang yang dihukum, baik yang dipukul atau dipotong tangan dan lain-lainnya, lalu berkata guru kepada muridnya : Semua orang-orang yang kau lihat itu, yaitu orang yang tidak sabar makan roti saja tanpa lauk pauk. Ada seorang yang baru dikeluarkan dari penjara, yang masih terikat kakinya dengan rantai ia minta-minta sepotong roti kepada orang, maka dikatakan oleh orang yang dimintai : Andaikan sejak dahulu engkau terima dengan sepotong roti, maka takkan terikat kakimu itu. Ada seorang melihat seorang hakiem sedang makan dari rerontokan buah yang jatuh di sungai, maka orang itu berkata : Hai orang hakiem, sekiranya engkau mau kerja pada raja tentu engkau tidak sampai makan rerontokan buah dalam sungai. maka dijawab oleh Hakiem : Andaikan engkau suka menerima makanan ini tidak usah menjadi buruhnya raja (budak raja).
Engkau bebas merdeka dari segala sesuatu yang tidak engkau butuhkan, dan engkau tetap menjadi hamba kepada apa yang engkau harapkan (inginkan). Andaikan tidak ada keinginan-keinginan yang palsu, pasti orang akan bebas merdeka tidak akan diperbudak oleh sesuatu yang tidak berarti (berharga). Contohnya : Burung elang rajawali yang terbang tinggi di angkasa lepas, sukar seorang akan mendapat menangkapnya, tetapi ia melihat sepotong daging yang tergantung pada perangkap, maka ia turun oleh sifat tamaknya dari angkasa itu, maka terjebak oleh perangkap itu sehingga ia menjadi permainan anak-anak kecil.
Fateh Al-Maushily ketika ditanya tentang contoh orang yang menurut- kan syahwat hawa nafsu dan sifat tamaknya, sedang tidak jauh dari tempat itu ada dua anak yang sedang makan roti, yang satu hanya makan roti, sedang yang kedua makan roti dengan keju, lalu yang makan roti ingin keju, maka ia berkata kepada temannya : Berilah kepadaku keju. Jawab temannya : Jika engkau suka saya jadikan anjingku, saya beri keju. Jawab yang minta : Baiklah. Maka lalu diikat lehernya dengan tali sebagai anjing dan dituntun. Berkata Fateh kepada orang yang bertanya: Andaikata anak itu tidak tamak pada keju, niscaya tidak menjadi anjing. Terjadi ada seorang murid didatangi oleh gurunya, maka ia ingin menjamu gurunya, lalu ia ingin keluarkan roti tanpa lauk pauk, dan tergerak dalam hati murid sekiranya ada lauk pauknya tentu lebih sempurna. Kemudian setelah selesai dimakan oleh guru apa yang dihidangkan itu, bangunlah guru itu keluar tiba-tiba di bawa ke penjara untuk ditunjukkan berbagai macamnya orang-orang yang dihukum, baik yang dipukul atau dipotong tangan dan lain-lainnya, lalu berkata guru kepada muridnya : Semua orang-orang yang kau lihat itu, yaitu orang yang tidak sabar makan roti saja tanpa lauk pauk. Ada seorang yang baru dikeluarkan dari penjara, yang masih terikat kakinya dengan rantai ia minta-minta sepotong roti kepada orang, maka dikatakan oleh orang yang dimintai : Andaikan sejak dahulu engkau terima dengan sepotong roti, maka takkan terikat kakimu itu. Ada seorang melihat seorang hakiem sedang makan dari rerontokan buah yang jatuh di sungai, maka orang itu berkata : Hai orang hakiem, sekiranya engkau mau kerja pada raja tentu engkau tidak sampai makan rerontokan buah dalam sungai. maka dijawab oleh Hakiem : Andaikan engkau suka menerima makanan ini tidak usah menjadi buruhnya raja (budak raja).
088. الرَّجَاءُ مَا قَارَنَهُ عَمَلٌ، وَإِلاَّ فَهُوَ أُمْنِيَّةٌ.
Pengharapan yang sesungguhnya ialah yang disertai amal perbuatan kalau tidak demikian, maka itu hanya angan-angan (lamunan) belaka.
Rasulullah saw. bersabda :
الْكَيِّسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ الْمَوْتِ، وَالْعَاجِزُ مَنْ أَتْبَعَ نَفْسَهُ هَوَاهَا وَتَمَنَّى عَلَى اللَّهِ الْأَمَانِيَّ.
Seorang yang sempurna akal ialah yang mengoreksi dirinya dan bersiap untuk menghadapi maut, sedang orang bodoh ialah yang selalu menurutkan hawa nafsu dan mengharap berbagai macam harapan.
Ma'ruf Alkarkhi berkata : Mengharap surga tanpa amal perbuatan itu dosa, dan mengharap syafaat tanpa sebab berarti tertipu, dan mengharapkan rahmat dari siapa yang tidak engkau taati perintahnya berarti kebodohan.
Al-Hasan ra. berkata : Sesungguhnya ada beberapa orang yang tertipu oleh angan-angan keinginan pengampunan, sehingga mereka keluar dari dunia (mati), sedang belum ada bagi mereka suatu hasanat (kebaikan) sama sekali. Sebab mereka berkata : Kami baik sangka terhadap Allah, pada hal berdusta dalam pengakuan itu, sebab andaikan mereka baik sangka terhadap Allah, tentu baik pula perbuatannya. AI-Hasan lalu membacakan ayat Qur'an :
وَذَٰلِكُمْ ظَنُّكُمُ الَّذِي ظَنَنتُم بِرَبِّكُمْ أَرْدَاكُمْ فَأَصْبَحْتُم مِّنَ الْخَاسِرِينَ (فصلت: ٢٣)
Itulah persangkaanmu terhadap Tuhan telah membinasakan kamu, maka kamu termasuk orang-orang yang rugi.
Al-Hasan berkata : Hai hamba Allah berhati-hatilah kamu dari angan-angan (lamunan) yang palsu, sebab itu sebagai jurang kebinasaan, kamu akan sembrono/teledor karenanya, demi Allah tidak pernah Allah memberi pada seorang hamba kebaikan semata-mata karna angan-angan belaka, baik untuk dunia maupun untuk akherat.
Pengharapan yang sesungguhnya ialah yang disertai amal perbuatan kalau tidak demikian, maka itu hanya angan-angan (lamunan) belaka.
Rasulullah saw. bersabda :
الْكَيِّسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ الْمَوْتِ، وَالْعَاجِزُ مَنْ أَتْبَعَ نَفْسَهُ هَوَاهَا وَتَمَنَّى عَلَى اللَّهِ الْأَمَانِيَّ.
Seorang yang sempurna akal ialah yang mengoreksi dirinya dan bersiap untuk menghadapi maut, sedang orang bodoh ialah yang selalu menurutkan hawa nafsu dan mengharap berbagai macam harapan.
Ma'ruf Alkarkhi berkata : Mengharap surga tanpa amal perbuatan itu dosa, dan mengharap syafaat tanpa sebab berarti tertipu, dan mengharapkan rahmat dari siapa yang tidak engkau taati perintahnya berarti kebodohan.
Al-Hasan ra. berkata : Sesungguhnya ada beberapa orang yang tertipu oleh angan-angan keinginan pengampunan, sehingga mereka keluar dari dunia (mati), sedang belum ada bagi mereka suatu hasanat (kebaikan) sama sekali. Sebab mereka berkata : Kami baik sangka terhadap Allah, pada hal berdusta dalam pengakuan itu, sebab andaikan mereka baik sangka terhadap Allah, tentu baik pula perbuatannya. AI-Hasan lalu membacakan ayat Qur'an :
وَذَٰلِكُمْ ظَنُّكُمُ الَّذِي ظَنَنتُم بِرَبِّكُمْ أَرْدَاكُمْ فَأَصْبَحْتُم مِّنَ الْخَاسِرِينَ (فصلت: ٢٣)
Itulah persangkaanmu terhadap Tuhan telah membinasakan kamu, maka kamu termasuk orang-orang yang rugi.
Al-Hasan berkata : Hai hamba Allah berhati-hatilah kamu dari angan-angan (lamunan) yang palsu, sebab itu sebagai jurang kebinasaan, kamu akan sembrono/teledor karenanya, demi Allah tidak pernah Allah memberi pada seorang hamba kebaikan semata-mata karna angan-angan belaka, baik untuk dunia maupun untuk akherat.