Langkau ke kandungan
Alhiyara
Alhiyara
Hikam Ibnu 'Atoillah

155. أَجْهَلُ النَّاسِ مَنْ تَرَكَ يَقِينَ مَا عِنْدَهُ لِظَنِّ مَا عِنْدَ النَّاسِ.

Sebodoh-bodoh manusia yaitu orang yang meninggalkan (mengabaikan) keyakinan yang sungguh ada padanya, karena menurut persangkaan yang ada pada orang-orang. Yang yakin ia ketahui yaitu kekurangan-kekurangan dan dosa- dosa yang telah dilakukannya atau kerendahan akhlak dan kelemahan imannya sendiri. Sedang persangkaan orang lain yang mengira baik padanya karena kebodohannya dan tidak mengetahui apa yang di balik tirai yang tertutup fantasi lahir yang baik itu. Karena itu jika ia tidak sadar diri terhadap sesuatu yang yakin itu, karena menurutkan perkiraan orang lain, maka nyata ia sebodoh-bodoh manusia. Al-Harits Al-Muhasiby mengumpamakan orang yang senang dengan pujian orang itu, bagaikan orang yang senang dengan ejekan orang padanya : Andaikan ada orang berkata : Kotoranmu itu tidak berbau, atau berbau harum, lalu engkau gembira dengan keterangan pujian yang demikian, padahal engkau sendiri jijik dan berbuat busuk. Maka ketahuilah bahwa kotoran dosa dan jiwa itu lebih busuk dari kotoran (tai) orang. Seorang hakiem dipuji oleh orang awam, maka ia menangis lalu di- tanya : Mengapakah engkau menangis padahal orang itu memuji padamu ? Jawabnya : la tidak memuji kepadaku, melainkan setelah mengetahui bahwa ada padaku sifat-sifat yang sama dengan sifat-sifatnya.

Petikan lain
Hikam Ibnu 'Atoillah

225. وُصُولُكَ إِلَى اللهِ وُصُولُكَ إِلَى الْعِلْمِ بِهِ، وَإِلاَّ فَجَلَّ رَبُّنَا أَنْ يَتَّصِلَ بِهِ شَيْءٌ أَوْ يَتَّصِلَ هُوَ بِشَيْءٍ.

Sampaimu kepada Allah itu ialah sampaimu kepada ilmu yakin, atau ma'rifatmu yang sempurna terhadap Allah, (sehingga bagaikan melihat : Ka annakatarahu : Seolah-olah engkau melihat

kepada Allah). Kalau tidak demikian, maka maha suci (maha agung) Allah untuk disambung oleh sesuatu atau bersambung dengan sesuatu. Karena soal sampai kepada Allah itu berbeda antara semua orang yang sampai, sebab iman itu suatu kurnia Allah yang tidak dapat dicapai oleh apapun juga, dan itu pertama jalan untuk sampai kepada yakin yang bernama ilmul yagin, 'ainul-yaqin dan haqqul-yaqin. Maka apabila seorang telah beriman dan tiada ragu, dan makin hari makın bertambah kuat/tebal inannya hingga berupa keyakinan, maka di saat itulah manusia berarti telah sampai kepada Tuhan Allah swt.

Hikam Ibnu 'Atoillah

043. أَصْلُ كُلِّ مَعْصِيَةٍ وَغَفْلَةٍ وَشَهْوَةٍ: الرِّضَا عَنِ النَّفْسِ، وَأَصْلُ كُلِّ طَاعَةٍ وَيَقَظَةٍ وَعِفَّةٍ: عَدَمُ الرِّضَا مِنْكَ عَنْهَا.

Pokok dari semua maksiat dan kelalaian serta syahwat itu, karena ingin memuaskan hawa nafsu. Sedang pokok dari segala ketaatan, kesadaran dan kesopanan akhlak budi, ialah karena ada pengekangan (penahanan) terhadap hawa nafsu. Sebagaimana firman Allah :

وَمَا أُبَرِّئُ نَفْسِي ۚ إِنَّ النَّفْسَ لَأَمَّارَةٌ بِالسُّوءِ إِلَّا مَا رَحِمَ رَبِّي ۚ إِنَّ رَبِّي غَفُورٌ رَّحِيمٌ (يوسف: ٥٣)

Dan Aku tidak mengakui kebersihan diriku, karena hawa nafsu itu selalu mengajak (menyuruh) berbuat kejahatan, kecuali bagi siapa yang mendapat rahmat (perlindungan) Tuhan, sungguh Tuhanku maha pengampun lagt penyayang.

(Yusuf 53).

Abu Hafsh berkata : Siapa yang tidak menuduh hawa nafsunya sepanjang masa, dan tidak menentangnya dalam segala hal, dan tidak menariknya ke jalan kebaikannya, maka ia telah tertipu. Dan siapa yang memandang padanya dengan merasa sudah baik, berarti telah membinasakannya.

Al-Junaid berkata : Jangan mempercayai hawa nafsumu, meskipun telah lama taat kepadamu, untuk berbuat ibadat kepada Tuhanmu. AI-Bushiry dalam Burdahnya berkata : Tentang selalu hawa nafsu dan syaithan dan jangan menurutkan keduanya, meskipun keduanya itu memberi nasehat kepadamu untuk berbuat kebaikan, tetap engkau harus curiga dan berhati-hati.

Hikam Ibnu 'Atoillah

008. إِذَا فَتَحَ لَكَ وِجْهَةً مِنَ التَّعَرُّفِ فَلاَ تُبَالِ مَعَهَا إِنْ قَلَّ عَمَلُكَ، فَإِنَّهُ مَا فَتَحَهَا لَكَ إِلاَّ وَهُوَ يُرِيدُ أَنْ يَتَعَرَّفَ إِلَيْكَ. أَلَمْ تَعْلَمْ أَنَّ التَّعَرُّفَ هُوَ مُورِدُهُ عَلَيْكَ، وَالْأَعْمَالَ أَنْتَ مُهْدِيهَا إِلَيْهِ، وَأَيْنَ مَا تُهْدِيهِ إِلَيْهِ مِمَّا هُوَ مُورِدُهُ عَلَيْكَ.

Apabila Tuhan membukakan bagimu suatu jalan untuk ma'rifat (mengenal padaNya), maka jangan menghiraukan soal amal-mu yang masih sedikit, sebab Tuhan tidak membukakan bagimu, melainkan la akan memperkenalkan diri kepadamu. Tidakkah kau ketahui bahwa ma' rifat itu semata-mata pemberian karunia Allah kepadamu, sedang amal per- buatanmu hadiah daripadamu, maka di manakah letak perbandingannya antara hadiahmu dengan pemberian karunia Allah kepadamu. Ma'rifat (mengenal) kepada Allah, itu adalah puncak keuntungan seorang hamba, maka apabila Tuhan telah membukakan bagimu suatu jalan untuk mengenal kepadaNya, maka tidak usah kau hiraukan berapa banyak amal perbuatanmu meskipun masih sangat sedikit amal kebaikanmu. Sebab ma'rifat itu suatu karunia pemberian langsung dari Allah, maka ia sekali-kali tidak tergantung kepada banyak atau sedikitnya amal kebaikan.

Abuhurairah ra. berkata : Bersabda Rasulullah saw : Allah berfirman : Apabila Aku menguji hambaKu yang beriman, kemudian ia tidak mengeluh kepada pengunjung-pengunjungnya, maka Aku lepaskan ia dari ikatanKu dan Aku gantikan baginya daging dan darah yang lebih baik dari semula, dan ia boleh memperbaharui amal, sebab yang lalu telah diampuni semua.

Diriwayatkan : Allah telah menurunkan wahyu kepada salah seorang Nabi saw. Aku telah menurunkan bala' (ujian) kepada seorang hamba maka ia berdoa, dan tetap Aku tunda permintaannya, akhirnya ia mengelu, maka Aku berkata kepadanya : Hambaku bagaimana aku akan melepas- kan daripadamu rahmat yang justru bala' itu mengandung rahmatku. Karena dengan segala kelakuan kebaikanmu engkau tak dapat sampai ke tingkat yang akan Aku berikan kepadamu, maka dengan balä' itulah engkau dapat mencapai tingkat dan kedudukan di sisi Allah.

Disalin