Langkau ke kandungan
Alhiyara
Alhiyara
Hikam Ibnu 'Atoillah

146. مَا أَحَبَّكَ إِلاَّ مَنْ صَحِبَكَ وَهُوَ بِعَيْبِكَ عَلِيمٌ، وَلَيْسَ ذٰلِكَ إِلاَّ مَوْلاَكَ الْكَرِيمُ، خَيْرُ مَنْ تَصْحَبُ مَنْ يَطْلُبُكَ لاَ لِشَيْءٍ يَعُودُ مِنْكَ إِلَيْهِ.

Sebenarnya bukan sahabatmu, kecuali yang bersahabat kepadamu, setelah ia mengetahui benar-benar kejelekanmu, dan tiada yang demikian itu kecuali Tuhanmu yang maha mengetahui. Sebaik- baik sahabatmu ialah yang selalu memperhatikan kepentinganmu, bukan karena suatu kepentingan yang diharap daripadamu untuk dirinya. Dan yang sedemikian itu juga tidak ada, kecuali Tuhan Allah sendiri tiada lain-lainnya. Sedangkan ayah dan ibu masih juga ada kepentingan- kepentingan dan pengharapan-pengharapan daripadamu, sedangkan di dunia tidak ada manusia yang kasih sayang kepadamu sebagaimana ayah dan ibu, demikian pula masih tidak sunyi dari harapan dan kepentingan.

Petikan lain
Hikam Ibnu 'Atoillah

123. وُرُودُ الْإِمْدَادِ بِحَسَبِ الاِسْتِعْدَادِ، وَشُرُوقُ الْأَنْوَارِ عَلَى حَسَبِ صَفَاءِ الْأَسْرَارِ.

Datangnya kurnia bantuan Allah itu menurut persiapan, dan terbitnya nur cahaya ilahi menurut bersihnya (jernihnya) hati. Karena itu ada tuntunan : Bersihkan hatimu dari segala sesuatu selain Allah, niscaya Kami (Allah) akan mengisi (memenuhi)nya dengan pengertian- pengertian ma'rifat dan rahasia-rahasia keyakinan. Karena itu tiap-tiap waarid (pemberian kurnia) itu tergantung kepada wirid. Apabila wirid itu timbul dari hati yang suci bersih, maka datangnya waarid demikian terang bersihnya, demikian pula bila wirid itu tetap terus, maka waaridnya pun demikian tidak berhenti. Allah tidak akan jemu memberi pahala sehingga kamu jemu beramal.

Hikam Ibnu 'Atoillah

002. إِرَادَتُكَ التَّجْرِيدَ مَعَ إِقَامَةِ اللهِ إِيَّاكَ فِي الْأَسْبَابِ مِنَ الشَّهْوَةِ الخَفِيَّةِ، وَإِرَادَتُكَ الْأَسْبَابَ مَعَ إِقَامَةِ اللهِ إِيَّاكَ فِي التَّجْرِيدِ انْحِطَاطٌ مِنَ الْهِمَّةِ الْعَلِيَّةِ.

Keinginan untuk tajrid (melulu beribadat, tanpa berusaha dunia), padahal Allah masih menempatkan engkau pada golongan orang-orang yang harus berusaha (kasab) untuk mendapat kebutuhan sehari-hari, maka keinginanmu itu termasuk syahwat hawa nafsu yang samar (halus). Sebaliknya keinginanmu untuk berusaha kasab, padahal Allah telah menempatkan dirimu pada golongan orang yang melulu beribadat tanpa kasab, maka keinginan yang demikian berarti menurun dari semangat dan tingkat yang tinggi. Sebab kewajiban seorang hamba, menyerah kepada apa yang dipilihkan oleh majikannya. Lebih-lebih apabila majikan itu Tuhan Allah yang mengetahui benar-benar apa yang menguntungkan baginya dan yang menyusahkannya. Dan tanda bahwa Allah menempatkan dirimu dalam golongan orang yang harus berusaha kasab, apabila terasa ringan bagimu, sehingga tidak menyebabkan tertinggalnya sesuatu kewajiban dalam agamamu,juga menyebabkan kau tidak tamak (rakus) terhadap hak orang lain. Dan tanda bahwa Allah telah mendudukkan dirimu dalam golongan hamba yang tidak berusaha kasab : Apabila Tuhan memudahkan bagimu kebutuhan hidup dari jalan yang tidak disangka, kemudian jiwamu tetap tenang ketika terjadi kekurangan, karena tetap ingat dan bersandar kepada Tuhan, dan tidak berubah dalam menunaikan kewajiban-kewajiban. Syaithan sebagai musuh manusia, tidak suka bila melihat manusia itu tenang maka ia datang membisikkan kepada manusia, supaya tidak puas terhadap apa yang telah diberikan Allah kepadanya, dan selalu membayangkan kepadanya kesenangan, kemewahan, ketenangan lain orang untuk membangkitkan sifat tamak (rakus), iri hati terhadap apa yang bukan bagiannya, sehingga apabila ia telah melepaskan apa yang ia telah tenang, tentram itu untuk menurutkan sifat tamak rakusnya gagal amal perbuatannya dan kecewa. Firman Allah yang menunjukkan bagaimana tipu daya syaithan terhadap bapak Adam dan Hawa as.

مَا نَهَاكُمَا رَبُّكُمَا عَنْ هَٰذِهِ الشَّجَرَةِ إِلَّا أَن تَكُونَا مَلَكَيْنِ أَوْ تَكُونَا مِنَ الْخَالِدِينَ . (الأعراف: ٢٠)

Berkata syaithan : Tuhan tidak melarang kamu mendekati pohon ini melainkan supaya kamu tidak dapat mencapai kedudukan Malaikat atau tidak dapat kekal.dalam surga. (S. Al -A'raf 20).

Dalam surat Thoha ayat 120 :

فَوَسْوَسَ إِلَيْهِ الشَّيْطَانُ قَالَ يَا آدَمُ هَلْ أَدُلُّكَ عَلَىٰ شَجَرَةِ الْخُلْدِ وَمُلْكٍ لَّا يَبْلَىٰ؟ (طه : ١٢٠)

Maka membisikkan syaithan, ia berkata : Hai Adam sukakah Aku tunjukkan kepadamu pohon khuldi, (sesuatu yang dapat mengekalkan) dan kekayaan yang takkan habis (rusak).

(S. Thoha 120).

Seorang berkata : Beberapa kali saya telah meninggalkan usaha kasab tetapi terpaksa kembali berkasab, sehingga akhirnya akulah yang di tinggalkan oleh kasab itu, maka tiadalah aku kembali kepadanya. Seorang murid merasa, bahwa untuk sampai kepada Allah dan masuk dalam barisan para wali dengan sibuk pada ilmu dhahir dan bergaul dengan sesama manusia agak jauh dan tak mungkin lalu ia pergi menghadap gurunya, tiba-tiba sebelum ia sempat bertanya, guru bercerita : Ada seorang terkemuka dalam ilmu dhahir, ketika ia dapat merasakan sedikit dari perjalanan ini, Ia datang kepadaku dan berkata : Aku akan meninggalkan kebiasaanku untuk mengikuti per- jalananmu. Jawab : Bukan itu yang harus kamu lakukan, tetapi tetapiah dalam kedudukanmu, sedang apa yang akan diberikan Allan kepadamu pasti sampai (tercapai) kepadamu (olehmu).

Hikam Ibnu 'Atoillah

249. جَعَلَهُ لَكَ عَدُوًّا لِيَحُوشَكَ بِهِ إِلَيْهِ، وَحَرَّكَ إِلَيْهِ النَّفْسَ لِيَدُومَ إِقْبَالُكَ عَلَيْهِ.

Sengaja Allah menjadikan syaithan sebagai musuhmu, supaya engkau jemu pada syaithan dan berlindung kepada Allah. demikian pula Allah tetap menggerakkan hawa nafsumu supaya engkau tetap selalu menghadap kepada Allah untuk melawan hawa nafsu. Allah berfirman :

إِنَّهُ لَيْسَ لَهُ سُلْطَانٌ عَلَى الَّذِينَ آمَنُوا وَعَلَىٰ رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ (النحل: ٩٩)

Sesungguhnya syaithan tidak berdaya (tidak kuasa) terhadap orang yang betul-betul beriman dan kepada Tuhan mereka berserah diri dan bertawakkal kepada Allah. (Annahl 99).

إِنَّمَا سُلْطَانُهُ عَلَى الَّذِينَ يَتَوَلَّوْنَهُ وَالَّذِينَ هُم بِهِ مُشْرِكُونَ (النحل: ١٠٠)

Sesungguhnya kekuatan/kekuasaan syaithan itu hanya pada orang- orang yang berwali kepadanya (menurut pada pimpinan/bisikan- bisikannya, dan dengan itu mereka mehyekutukan Allah). (Annahl 100).

Firman Allah :

وَمَا أُبَرِّئُ نَفْسِي ۚ إِنَّ النَّفْسَ لَأَمَّارَةٌ بِالسُّوءِ إِلَّا مَا رَحِمَ رَبِّي ۚ إِنَّ رَبِّي غَفُورٌ رَّحِيمٌ (يوسف: ٥٣)

Dan tiadalah saya merasa bersih diri, sebab hawa nafsu itu men- dorong kepada kejahatan, kecuali bagi orang yang dapat hidayat/

rahmat Tuhanku, sungguh Tuhanku maha pengampun lagi penyayang.

(Yusuf 53)

Kata pujangga : Sungguh aku telah diuji dengan empat musuh yang selalu melempar aku dengan anak panah yang dapat menembus. Yaitu : Iblis, dunia, hawa nafsu dan syahwat. Ya Tuhanku hanya Engkau yang dapat menyelamatkan aku. Allah menjadikan syaithan sebagai musuh manusia ini suatu nikmat besar bagi manusia, sebab dengan demikian manusia selalu harus berlindung dan mendekat kepada Allah, untuk menjaga keselamatan diri dari syaithan (musuhnya) itu. Sebab dia sendiri tidak akan sanggup melawan musuhnya yang kawankan dan sangat samar itu, kecuali dengan perlindungan Allah.

Disalin