Langkau ke kandungan
Alhiyara
Alhiyara
Hikam Ibnu 'Atoillah

130. الصَّلاَةُ مَحَلُّ الْمُنَاجَاةِ وَمَعْدِنُ الْمُصَافَاةِ، تَتَّسِعُ فِيهَا مَيَادِينُ الْأَسْرَارِ، وَتُشْرِقُ فِيهَا شَوَارِقُ الْأَنْوَارِ.

Sembahyang itu sebagai tempat bermunajat (menyampaikan hajat kepada Allah), serta memanjatkan puji syukur. Dam sebagai tempat pembersihan hati dari berbagai kotoran. Leluasa di dalamnya datangnya berbagai rahasia-rahasia Tuhan. Dan terbit terang padanya cahaya-cahaya ilmu dan ma’rifat.

Firman Allah :

وَأَقِمِ الصَّلَاةَ لِذِكْرِي (طه: ١٤)

Tegakkan sembahyang itu untuk dzikir ingat kepadaKu. Sesungguhnya seorang hamba bila ia berdiri sembahyang, maka Allah membuka untuknya tirai hijab, dan langsung dihadapinya, dan berdiri tegak para Malaikat dari atas bahunya hingga langit, mengikuti sembahyangnya dan mengaminkan doanya. Dan seorang yang sembahyang itu ditaburi rahmat dari langit hingga ubun kepalanya. Dan dipanggil oleh suara: Andaikata orang yang munajat ini mengetahui siapakah yang diajak bicara, tidak akan berhenti (memutuskan) sembahyangnya. Dan sesungguhnya pintu pintu langit terbuka untuk orang yang sembahyang. Dan sesungguhnya Allah membanggakan barisan orang-orang yang sembahyang di hadapan MalaikatNya. Dalam Kitab Taurat ada tersebut demikian : Hai anak Adam, jangan malas untuk berdiri sembahyang dihadapanKu sambil menangis, maka Akulah Allah yang telah mendekat dari hatimu, dan karena ghaib engkau telah dapat melihat cahayaKu.

Muhammad bin Ali Attirmidzy berkata : Allah telah memanggil orang- orang yang bertauhid supaya sembahyang lima waktu, karena rahmat kasihan kepada mereka, dan menyediakan berbagai macam hidangan, supaya seorang hamba itu dapat merasakan pada tiap bacaan dan gerak itu kurnia pemberian-pemberiannya, maka gerak itu bagaikan makanan, sedang bacaan itu bagaikan minuman. Dan hidangan itu disediakan oleh Allah tiap hari lima kali, supaya tidak ada lagi sisa kotoran atau debunya.

Petikan lain
Hikam Ibnu 'Atoillah

265. كَيْفَ تَطْلُبُ الْعِوَضَ عَلَى عَمَلٍ هُوَ مُتَصَدِّقٌ بِهِ عَلَيْكَ، أَمْ كَيْفَ تَطْلُبُ الْجَزَاءَ عَلَى صِدْقٍ هُوَ مُهْدِيهِ إِلَيْكَ.

Bagaimana engkau akan minta upah terhadap suatu amal yang Allah sendiri yang bersedekah kepadamu amal itu, atau bagaimanakah engkau minta balasan atas suatu keikhlasan, padahal Allah sendiri yang memberi hidayah keikhlasan itu kepadamu. Amal yang boleh minta upah, ialah apabila amal itu menguntungkan atau menghindarkan kerugian terhadap siapa yang engkau beramal untuknya, sedang amal ibadah itu semuanya tidak menguntungkan Tuhan, dan tidak menolak mudharat terhadap Tuhan, bahkan semua amal itu kembali kepada yang beramal sendiri. Lebih-lebih amal perbuatan itu sebagai sedekah dari Tuhan, sedang keikhlasan beramal itu suatu hadiah yang sangat berharga dari Tuhan pula. Al-Wasithy berkata : Menuntut balasan atas amal taat itu disebabkan oleh karena lupa terhadap kurnia pemberian Allah. Abul-Abbas bin Atha'-ullah ketika ditanya : Amal perbuatan apakah yang terdekat kepada murka Allah? Jawabnya : Melihat diri dan perbuatannya, dan lebih dari itu menuntut upah/balasan atas kelakuan amalnya.

Hikam Ibnu 'Atoillah

209. أَوْجَبَ عَلَيْكَ وُجُودَ خِدْمَتِهِ، وَمَا أَوْجَبَ عَلَيْكَ إِلاَّ دُخُولَ جَنَّتِهِ.

Allah mewajibkan kepadamu berbuat taat, padahal yang sebenarnya hanya mewajibkan kepadamu masuk ke dalam surgaNya (dan tiada mewajibkan apa-apa kepadamu hanya semata-mata supaya masuk ke dalam surgaNya). Sebenarnya segala kewajiban-kewajiban yang diwajibkan oleh Allah kepada hamba semua itu semata-mata untuk kepentingan dan kemaslahatan hamba-hamba itu sendiri, sedang Allah sedikitpun tidak ada kepentingan manfaat atau madharrat. Abul Hasan Asshadzily berkata : Hendaknya engkau mempunyai satu wirid, yang tidak engkau lupakan selamanya, yaitu mengalahkan hawa nafsu dan cinta kepada Tuhan Allah swt. Nafas manusia ini sebagai amanat dari Tuhan, dan sebagai titipan wadah yang harus diisi. Dan hak ke Tuhanan tetap berlaku pada tiap detik yang harus dilakukan oleh hamba.

Abul-Hasan berkata : Pada tiap waktu (saat/detik) ada bagian yang mewajibkan kepadamu hai manusia terhadap Tuhan swt.

Hikam Ibnu 'Atoillah

013. كَيْفَ يَشْرَقُ قَلْبٌ صُوَرُ الْأَكْوَانِ مُنْطَبِعَةٌ فِي مِرْآتِهِ، أَمْ كَيْفَ يَرْحَلُ إِلَى اللهِ وَهُوَ مُكَبَّلٌ بِشَهَوَاتِهِ، أَمْ كَيْفَ يَطْمَعُ أَنْ يَدْخُلَ حَضْرَةَ اللهِ وَهُوَ لَمْ يَتَطَهَّرْ مِنْ جَنَابَةِ غَفَلاَتِهِ، أَمْ كَيْفَ يَرْجُو أَنْ يَفْهَمَ دَقَائِقَ الْأَسْرَارِ وَهُوَ لَمْ يَتُبْ مِنْ هَفَوَاتِهِ.

Bagaimana akan dapat terang hati seseorang yang gambar dunia ini terlukis dalam lensa/cermin hatinya. Atau bagaimana akan pergi menuju kepada Allah. padahal ia masih terikat (terbelenggu) oleh syahwat hawa nafsunya. Atau bagaimana akan dapat masuk kehadirat Allah, padahal ia belum bersih (suci) dari kelalaiannya yang di sini diumpamakan dengan janabatnya. Atau bagaimana mengharap akan mengerti rahasia yang halus (dalam), pada hal ia belum tobat dari kekeliruan-kekeliruannya. Berkumpulnya dua hal yang berlawanan dalam satu tempat dan masa, mustahil (tidak mungkin), sebagaimana berkumpul antara diam dengan gerak, antara cahaya terang dengan gelap. Demikian pula nur (cahaya) iman berlawanan dengan gelap yang disebabkan karena selalu masih berharap/menyandar kepada sesuatu selain Allah. Demikian pula berjalan menuju kepada Allah harus bebas dari belenggu hawa nafsu supaya sampai kepada Allah.

Firman Allah :

وَاتَّقُوا اللَّهَ ۖ وَيُعَلِّمُكُمُ اللَّهُ (البقرة: ٢٨٢)

Bertaqwalah kepada Allah, dan Allah yang akan mengajarkan kepadamu segala hajat kebutuhanmu".

Rasulullah saw. bersabda :

مَنْ عَمِلَ بِمَا عَلِمَ وَرَّثَهُ اللَّهُ عِلْمَ مَا لَمْ يَعْلَمْ.

Siapa yang mengamalkan apa yang telah diketahui, maka Allah akan mewariskan kepadanya pengetahuan apa-apa yang belum ia ketahui". Ahmad bin Hambal ra. bertemu dengan Ahmad bin Abil-Hawari, maka berkata Ahmad bin Hambal : Ceritakanlah kepada kami apa-apa yang pernah kau dapat dari gurumu Abu Sulaiman. Jawab Ibn Hawari : Bacalah Subhaanallaah tetapi tanpa rasa kekaguman. Setelah di baca oleh

Ahmad bin Hambal : "Subhaanallaah". Maka berkata Ibn Abil Hawari : Aku telah mendengar Abu Sulaiman berkata : Apabila jiwa (hati) manusia benar-benar berjanji akan meninggalkan semua dosa, niscaya akan terbang ke alam malakut (di langit), kemudian kembali membawa berbagai ilmu keterangan itu langsung ia bangkit bangun/berdiri dan duduk di tempatnya berulang tiga kali, lalu berkata : Belum pernah aku mendengar keterangan serupa ini sejak aku masuk Islam. la sungguh merasa puas dan sangat gembira menerima keterangan itu, kemudian ia membaca hadits : "man amila bimaa alima ahullaahu ilma maa lam ya'lam".

Disalin