Langkau ke kandungan
Alhiyara
Alhiyara
Hikam Ibnu 'Atoillah

126. أَمَرَكَ فِي هٰذِهِ الدَّارِ بِالنَّظَرِ فِي مُكَوَّنَاتِهِ، وَسَيَكْشِفُ لَكَ فِي تِلْكَ الدَّارِ عَنْ كَمَالِ ذَاتِهِ.

Allah menyuruh engkau semasa hidup di dunia ini memper- hatikan alam buatan Allah, dan kelak di akherat Allah akan memper- lihatkan kepadamu kesempurnaan dzatNya.

Firman Allah :

قُلِ انظُرُوا مَاذَا فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ (يونس: ١٠١)

Katakanlah : Perhatikanlah apa yang di langit itu ?

Firman Allah :

وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ نَّاضِرَةٌ * إِلَىٰ رَبِّهَا نَاظِرَةٌ (القيامة: ٢٢ – ٢٣)

“Beberapa wajah pada hari kiamat itu berseri-seri (bercahaya). Karena ia dapat melihat kepada Tuhannya”. Penglihatan seorang hamba kepada Allah menurut apa yang di- bukakan oleh Allah, maka selama hidup di dunia Allah memperlihatkan kepada mereka kebesaran kekuasaanNya, dan kelak di akherat akan dibukakan hijab sehingga langsung melihat dzatNya.

Petikan lain
Hikam Ibnu 'Atoillah

091. الْعَارِفُونَ إِذَا بُسِطُوا أَخْوَفُ مِنْهُمْ إِذَا قُبِضُوا، وَلاَ يَقِفُ عَلَى حُدُودِ الْأَدَبِ فِي الْبَسْطِ إِلاَّ قَلِيلٌ.

Orang aarif jika merasa lapang lebih kuatir (takut), dari pada jika berada dalam kesempitan, dan tidak dapat tegak di batas-batas adab dalam keadaan lapang itu kecuali sedikit sekali.

Abu Bakar Assiddiq ra. berkata : Kami diuji dengan kesukaran, maka kami tahan sabar, tetapi ketika diuji dengan kesenangan (kelapangan), hampir tidak sabar (tahan). Yusuf bin Husain Arrazy menulis surat kepada Al-Junaid : Semoga Allah tidak memberi kepadamu rasa kelezatan hawa nafsumu, sebab jika engkau merasakan kelezatannya, maka tidak akan merasakan kebaikan untuk selamanya.

Hikam Ibnu 'Atoillah

208. عَلِمَ قِلَّةَ نُهُوضِ الْعِبَادِ إِلَى مُعَامَلَتِهِ، فَأَوْجَبَ عَلَيْهِمْ وُجُودَ طَاعَتِهِ، فَسَاقَهُمْ إِلَيْهَا بِسَلاَسِلِ الْإِيجَابِ. عَجِبَ رَبُّكَ مِنْ قَوْمٍ يُسَاقُونَ إِلَى الْجَنَّةِ بِالسَّلاَسِلِ.

Allah mengetahui kurang semangatnya hamba untuk mengerjakan taat maka diwajibkan kepada mereka melakukan taat dan ditarik mereka itu dengan rantai kewajiban : Tuhanmu kagum dari kaum yang ditarik masuk ke surga dengan rantai.

Hikam Ibnu 'Atoillah

183. عَلِمَ أَنَّ الْعِبَادَ يَتَشَوَّفُونَ إِلَى ظُهُورِ سِرِّ الْعِنَايَةِ، فَقَالَ: يَخْتَصُّ بِرَحْمَتِهِ مَنْ يَشَاءُ، وَعَلِمَ أَنَّهُ لَوْ خَلاَّهُمْ وَذٰلِكَ لَتَرَكُوا الْعَمَلَ اعْتِمَادًا عَلَى الْأَزَلِ، فَقَالَ: إِنَّ رَحْمَةَ اللهِ قَرِيبٌ مِنَ الْمُحْسِنِينَ.

Allah telah mengetahui bahwa semua hamba -hamba ingin mendapat rahasia (kebesaran) kurnia Allah berrfirman : Allah

sendiri yang menentukan rahmat kurnia yang benar itu pada siapa yang dikehendakiNya. Juga Allah yang mengetahui andaikan manusia (para hamba) itu dibiarkan begitu saja, mungkin mereka meninggalkan amal usaha karena berserah kepada keputusan Azal, karena itu Allah berfirman : Sesungguhnya rahmat Allah itu dekat pada orang-orang yang berbuat kebaikan dan memperbaiki amal perbuatannya. Semua orang ingin untuk mencapai rahasia kurnia yang besar-besar, maka karenanya mereka kejar dengan doa dan amal shalih tetapi lalu Allah berfirman : Allah sendiri yang menentukan rahmatNya itu terhadap siapa yang dipilihNya sendiri. Allah lebih mengetahui di mana la meletakkan risalahNya. Tetapi di samping itu Allah tidak mematahkan hati semangat orang yang akan menginginkannya, karena itu Allah menunjukkan tanda-tanda yang mendekatinya, ialah mereka yang berbuat baik, dan memperbaiki perbuatan amal usahanya. Bukan amal kebaikan itu yang mendatangkan/menyebabkan tibanya kurnia, hanya ia sebagai tanda belaka, tetapi tidak mempengaruhi kehendak putusan Allah dan kebijaksanaanNya.

Disalin