Langkau ke kandungan
Alhiyara
Alhiyara
Hikam Ibnu 'Atoillah

123. وُرُودُ الْإِمْدَادِ بِحَسَبِ الاِسْتِعْدَادِ، وَشُرُوقُ الْأَنْوَارِ عَلَى حَسَبِ صَفَاءِ الْأَسْرَارِ.

Datangnya kurnia bantuan Allah itu menurut persiapan, dan terbitnya nur cahaya ilahi menurut bersihnya (jernihnya) hati. Karena itu ada tuntunan : Bersihkan hatimu dari segala sesuatu selain Allah, niscaya Kami (Allah) akan mengisi (memenuhi)nya dengan pengertian- pengertian ma’rifat dan rahasia-rahasia keyakinan. Karena itu tiap-tiap waarid (pemberian kurnia) itu tergantung kepada wirid. Apabila wirid itu timbul dari hati yang suci bersih, maka datangnya waarid demikian terang bersihnya, demikian pula bila wirid itu tetap terus, maka waaridnya pun demikian tidak berhenti. Allah tidak akan jemu memberi pahala sehingga kamu jemu beramal.

Petikan lain
Hikam Ibnu 'Atoillah

147. لَوْ أَشْرَقَ لَكَ نُورُ الْيَقِينِ لَرَأَيْتَ الْآخِرَةَ أَقْرَبَ إِلَيْكَ مِنْ أَنْ تَرْحَلَ إِلَيْهَا، وَلَرَأَيْتَ مَحَاسِنَ الدُّنْيَا قَدْ ظَهَرَتْ كِسْفَةُ الْفَنَاءِ عَلَيْهَا.

Andaikan nur keyakinan itu telah menerangi hatimu, niscaya engkau dapat melihat akherat itu lebih dekat kepadamu sebelum engkau melangkahkan kaki kepadanya, juga niscaya engkau akan dapat melihat segala kecantikan dunia ini, telah diliputi kesuraman kerusakan yang bakal menghinggapinya.

Rasulullah saw. berkata : Sesungguhnya nur cahaya jika masuk dalam hati, terbuka lapanglah dada untuknya. Ketika Nabi saw. ditanya : Ya Rasulullah apakah yang demikian itu ada tandanya? Jawab Nabi saw. : Ya, yaitu merenggangkan diri dari dunia tipuan, dan condong pada akherat yang kekal, dan bersiap-siap untuk menghadapi maut (mati) sebelum tibanya.

Anas ra. berkata : Ketika Rasulullah saw. sedang berjalan berjumpa dengan seorang pemuda dari sahabat Anshar, Rasulullah langsung bertanya : Bagaimanakah keadaanmu hai Haritsah pada pagi ini ? Jawabnya : Saya kini menjadi seorang mukmin yang sungguh-sungguh. Rasulullah berkata : Hai Haritsah perhatikan perkataanmu, sebab tiap kata itu harus ada bukti hakikinya. Maka berkata Haritsah : Ya Rasulullah jiwaku jemu dari dunia, sehingga saya bangun malam dan puasa siang hari, kini seolah-olah aku berhadapan dengan arasy, dan melihat ahli surga sedang ziarah menziarahi satu pada yang lain,

sebagaimana seolah-olah aku melihat ahli neraka sedang menjerit- jerit di dalamnya. Bersabda Nabi saw. : Engkau telah melihat, maka tetapkanlah (jangan berubah). Seorang hamba, yang telah diberi nur iman dalam hatinya. Haritsah berkata : Ya Rasulullah doakan aku mati syahid, maka Nabi saw. berdoa untuknya. Dan ketika pada suatu hari ada panggilan untuk berjihad (Hai kuda Allah segeralah), maka dialah yang pertama menyambut dan pertama kali mati syahid. Dan ketika ibunya mendengar berita bahwa anaknya telah mati syahid, ia datang bertanya kepada Rasulullah saw. : Ya Rasulullah beritahukan kepadaku tentang Haritsah putraku, jika ia di surga aku tidak akan menangis atau menyesal, tetapi jika lain dari itu, maka aku akan menangis selama hidupku di dunia ! Jawab Nabi saw. : Hai Ibu Haritsah, bukan hanya satu surga tetapi surga di dalam surga-surga. Dan Haritsah telah mencapai firdaus yang tertinggi. Maka kembalilah ibu Haritsah sambil tertawa dan berkata : Untung-untung bagimu hai Haritsah.

Anas ra. juga berkata : Pada suatu hari Mu'adz bin Jabal masuk ke tempat Nabi saw. sambil menangis, maka ditanya oleh nabi saw. : Bagai- manakah keadaanmu pagi ini hai Mu'adz ? Jawab Mu'adz : Aku pagi ini mukmin benar-benar kepada Allah. Bersabda Nabi saw. : Tiap kata-kata yang benar itu harus ada bukti hakikatnya, maka apakah bukti pernyataan- mu itu ? Jawab Mu'adz : Ya Nabiyallah, kini jika aku berada di waktu pagi merasa mungkin tidak sampai sore, dan jika sore merasa tidak mungkin sampai pagi, dan tiap melangkahkan kaki merasa mungkin tidak dapat melangkahkan yang lain, dan terlihat kepadaku seolah-olah manusia semua telah dipanggil untuk menerima suratan amal bersama dengan Nabi-nabi dan berhala-berhalanya yang disembah selain dari Allah, juga seolah-olah saya melihat siksa ahli neraka dan pahala ahli surga. Maka bersabda Nabi : Engkau telah mengetahui, maka tetapkanlah. Rasulullah saw. ketika memberitahukan kepada sahabat-sahabat- nya hal gugurnya sahabat Zaid bin Haritsah dan Ja' far bin Abi Thalib dan Abdullah bin Rawahah ra. berkata : Demi Allah mereka tidak akan senang, andaikan mereka masih berada di antara kami. Rasulullah memberitakan demikian dengan air mata yang berlinang-linang.

Hikam Ibnu 'Atoillah

277. وَالْمُشْتَغَلُ بِهِ هُوَ الَّذِي أَحْبَبْتَهُ وَسَارَعْتَ إِلَيْهِ، وَالْمُشْتَغَلُ عَنْهُ هُوَ الْمُؤْثَرُ عَلَيْهِ.

Dan yang harus dikerjakan ialah amal ibadah yang kau sukai serta cekatan dalam melakukan untuk tagarrub kepada Allah, sedang

yang harus diabaikan ialah hawa nafsu dan urusan dunia yang akan lenyap, yang sering-sering mempengaruhi. Karena itu harus mengutamakan yang tetap kekal abadi, dan mengabaikan yang sementara dan pasti musnah lenyap. Abdullah bin Ishaq Algafiqy berkata : Pada suatu malam ketika saya berjalan ke Masjidil Haram (Makkah) bertemu seorang yang sedang mem- bersihkan tanah, maka saya kira ia gila atau miskin (kelaparan), lalu saya tegur : Hai orang, untuk apakah kau main-main tanah? Jawabnya : Apakah ini tanah? Sambil memberikan kepadaku segenggam, tiba- tiba itu tepung. Maka tergerak dalam hatiku ini seorang waliyullah, kemudian saya duduk mendekatinya sambil berkata kepadanya : Doakanlah saya, maka ia berdoa : Semoga Allah memberitahu kepada- mu kebesaran apa yang kau minta itu, sehingga ringan bagimu meninggalkan segala kepentingan dunia yang fana ini.

Hikam Ibnu 'Atoillah

173. غَيِّبْ نَظَرَ الْخَلْقِ إِلَيْكَ بِنَظَرِ اللهِ إِلَيْكَ، وَغِبْ عَنْ إِقْبَالِهِمْ عَلَيْكَ بِشُهُودِ إِقْبَالِهِ عَلَيْكَ.

Hilangkan pandangan makhluk kepadamu karena puas dengan penglihatan Allah kepadamu, dan lupakan perhatian (menghadapnya) makhluk kepadamu, karena melihat bahwa Allah menghadap kepadamu.

Sahl bin Abdullah Attustary berkata kepada kawan-kawannya : seorang tidak dapat mencapai hakikat kewalian sehingga menghilangkan pandangan orang dari fikirannya, sehigga tidak melihat apa-apa di dunia, hanya ia dengan Tuhan yang menjadikannya, sebab tidak ada seorangpun yang dapat menguntungkan atau merugikan. Atau menghilangkan perasaan diri (hawa nafsunya) sehingga tidak menghiraukan orang, dan tidak segan atau takut kepada mereka, apa saja yang akan terjadi. Mengharap kepuasan dari semua manusia itu suatu tujuan yang tidak mungkin tercapai, dan sebodoh-bodoh manusia siapa yang berusaha untuk mendapatkan apa yang tidak mungkin tercapai. Lukman Alhakiem ketika memberi nasehat kepada putranya, diajak masuk ke pasar dengan berkendaraan himar ia yang berkendaraan dan

anaknya yang menuntun. Orang mencela : Orang tua kejam, dia berkendaraan dan anaknya disuruh berjalan. Kemudian ia suruh anaknya naik tiba-tiba orang mencela : Dua orang naik satu himar. Lalu turun Lukman, dan anaknya tetap di atas, tiba-tiba ada orang mencela : Anak kurang ajar, bapak dijadikan buruh menuntun. Kemudian turun keduanya menuntun himar, tiba-tiba orang mencela. Bodoh benar himar tidak dinaiki hanya dituntun semata-mata. Tujuan Lukman ontuk menunjukkan kepada putranya bahwa orang yang beramal atau mengambil-ambil hati orang tidak selamat dari celaan mereka. Karena itu seorang yang sempurna akal fikiran di dalam beramal hanya menuju kepada hak, benar dan diridhai Allah, hanya itu saja yang dikerjakan.

Muhammad bin Aslam ra. berkata : Ada kepentingan apakah saya pada manusia padahal sejak saya dalam punggung Ayah seorang diri, lalu di dalam perut ibu juga seorang diri dan keluar di dunia juga seorang diri, (yakni tidak melalui bantuan manusia) hingga mati dan masuk ke kubur juga seorang diri, dan menghadapi persoalan alam kubur sampai kemudian menghadap kepada Allah, dan masuk surga atau neraka juga seorang diri, maka apakah kebutuhan saya dengan manusia ? Al-Harits Almuhasiby ra. ketika ditanya tentang tanda orang yang sungguh-sungguh ikhlas yaitu yang tidak hirau (menghiraukan) dinilai apa saja oleh sesama manusia, asalkan ia sudah benar hubungannya dengan Allah dan tidak ada orang yang mengetahui walau sekecil debu dari amal kebaikannya, dan tidak takut jika ada orang mengetahui amal perbuatannya yang tidak baik. Sebab jika ia merasa enggan untuk diketahui orang kebusukannya, berarti ia ingin dipuji atau besar dalam pandangan orang, dan itu tidak termasuk kelakuan atau akhlak orang yang benar-benar ikhlas.

Disalin