Allah telah menerangi alam dengan cahaya makhluknya, dan menerangi hati dengan nur (cahaya) sifatnya, maka karena itu terbenam cahaya alam dan tidak dapat terbenam nur (cahaya) hati dan sir. Kata seorang syair : “Sesungguhnya matahari siang itu terbenam di waktu malam”. “Tetapi matahari hati tidak pernah terbenam” Sahl bin Abdullah ketika ditanya tentang makanan (qut) Jawabnya : Huwa alhayyul ladzi laa yamut (la yang hidup dan tiada mati). Penanya berkata : Saya tidak bertanya tentang makanan itu, telapi makanan yang menegakkan (menguatkan) Jawabnya : Ilmu. Ketika ditanya : Makanan sehari-hari yang lazim ? Jawabnya : Dzikir. Ditanya : makanan jasmani ? Jawabnya : Apa urusanmu dengan jasmani, biarkan pada yang membuat pada mulanya dia akan mengurusi selanjutnya, jika ada kerusakan kembalikan kepada yang membuat, tidakkah sudah lazim, buatan sesuatu jika rusak dikembalikan kepada yang membuat untuk diperbaiki. Allah menerangi alam dengan nur (cahaya) bulan, bintang dan matahari yang semua itu makhluk yang rusak dan berubah, tetapi Allah menerangi hati (sir) dengan nur (cahaya), ilmu dan ma’rifat yang langsung dari sifat-sifat Allah, maka karenanya tidak dapat suram terbenam.
207. قَيَّدَ الطَّاعَاتِ بِأَعْيَانِ الْأَوْقَاتِ كَيْ لاَ يَمْنَعَكَ عَنْهَا وُجُودُ التَّسْوِيفِ، وَوَسَّعَ عَلَيْكَ الْوَقْتَ كَيْ تَبْقَى لَكَ حِصَّةُ الاِخْتِيَارِ.
Allah sengaja mengikat amal taat itu dengan waktu yang tertentu untuk tidak menahan engkau daripada mengerjakannya karena kebiasaan keteledoran dan kemalasanmu yang suka menunda- nunda, tetapi Allah memperluas waktunya supaya tetap ada bagimu kesempatan memilih waktu yang lebih tepat/ringan atau lebih khusyuk. Sebab apabila waktu itu tidak ditetapkan, niscaya manusia akan menunda-nunda yang akhirnya tidak sampai berbuat, dan diperluas waktu bagi orang yang betul-betul masih sibuk, sehingga ia berbuat setelah tenang dan dapat mengerjakan dengan lebih sempurna.
Allah sengaja mengikat amal taat itu dengan waktu yang tertentu untuk tidak menahan engkau daripada mengerjakannya karena kebiasaan keteledoran dan kemalasanmu yang suka menunda- nunda, tetapi Allah memperluas waktunya supaya tetap ada bagimu kesempatan memilih waktu yang lebih tepat/ringan atau lebih khusyuk. Sebab apabila waktu itu tidak ditetapkan, niscaya manusia akan menunda-nunda yang akhirnya tidak sampai berbuat, dan diperluas waktu bagi orang yang betul-betul masih sibuk, sehingga ia berbuat setelah tenang dan dapat mengerjakan dengan lebih sempurna.
291. وَقَدْ سُئِلَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَنْ قَوْلِهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: وَجُعِلَتْ قُرَّةُ عَيْنِي فِي الصَّلاَةِ – قُرَّةُ الْعَيْنِ كِنَايَةٌ عَنْ غَايَةِ الْفَرَحِ وَالسُّرُورِ وَاللَّذَّةِ، فَكَأَنَّهُ يَقُولُ: وَجُعِلَتْ غَايَةُ فَرَحِي وَسُرُورِي فِي الصَّلاَةِ لِمُشَاهَدَةِ الرَّبِّ فِيهَا – هَلْ ذٰلِكَ خَاصٌّ بِهِ أَوْ لِغَيْرِهِ مِنْ أُمَّتِهِ مِنْهُ شِرْبٌ وَنَصِيبٌ؟ فَأَجَابَ: إِنَّ قُرَّةَ الْعَيْنِ بِالشُّهُودِ عَلَى قَدْرِ الْمَعْرِفَةِ بِالْمَشْهُودِ، فَالرَّسُولُ صَلَوَاتُ اللهِ عَلَيْهِ وَسَلاَمُهُ لَيْسَ مَعْرِفَةُ غَيْرِهِ كَمَعْرِفَتِهِ، فَلَيْسَ قُرَّةُ عَيْنٍ كَقُرَّتِهِ. وَإِنَّمَا قُلْنَا إِنَّ قُرَّةَ عَيْنِهِ فِي صَلاَتِهِ لِشُهُودِ جَلاَلِ مَشْهُودِهِ، وَلِأَنَّهُ قَدْ أَشَارَ.
Ketika Ibn Atha' Allah ditanya tentang sabda Nabi sav. Dan telah diberi oleh Allah kepuasanku dalam sembahyang. Apakah itu khusus untuk Rasulullah saw. sendiri atau juga ummatnya mendapat
(bagian)? Jawabnya : Sesungguhnya kesenangan melihat kebesaran Jalalullah itu menurut kadar kekuatan ma'rifatnya terhadap apa yang dilihat itu, sedang ma'rifat Rasulullah saw. tidak dapat disamakan dengan ma'rifat lain-lainnya, karena itu tidak ada kesenangan (kepuas- an) seperti kesenangannya. Dan kami katakan bahwa kesenangan itu dalam sembahyang, karena melihat kebesaran yang dilihatnya, sebab Nabi sendiri telah mengisyaratkan dalam sabdanya : "Di dalam sembahyang", dan tidak berkata "Dengan sembahyang," sebab Nabi saw. tidak akan puas/senang hatinya selain kepada Tuhannya. Bagaimana tidak demikian, padahal ia sendiri menganjurkan untuk mencapai tingkat itu dalam sabdanya : Sembahlah Allah seakan-akan engkau melihat kepadaNya. Dan mustahil jika melihat Allah dan melihat lain-lainnya di samping Allah. Jika ada orang berkata : Adakalanya kesenangan itu karena sembahyang (dengan sembahyang), sebab sembahyang itu sebagai kurnia yang timbul langsung dari sumber pemberian Allah, maka bagaimana tidak akan gembira dengan itu, dan bagaimana tidak menjadi puncak kesenangan karenanya, sedang Allah telah berfirman : Katakanlah : Hanya dengan (karena) kurnia dan rahmat Allah itulah mereka harus bergembira. Maka ketahuilah bahwa dalam ayat itu juga telah ada isyarat untuk jawaban terhadap pertanyaan ini bagi orang yang memperhatikan rahasia kata-katanya. Sebab Allah berkata : Maka dengan itulah mereka harus bergembira. Dan tidak berkata : Dengan itulah engkau bergembira ya Muhammad. Seolah-olah berkata : Katakan kepada mereka supaya mereka bergembira dengan pemberian kurnia itu, tetapi kegembiraanmu hanya dengan yang memberi kurnia itu, sebagaimana tersebut dalam ayat : Katakanlah : Allah, kemudian biarkan mereka dalam kesibukan mereka ber- kecimpung- Sembahyang itu sebagai pemberian Allah yang terbesar untuk hambaNya, sebagaimana tersebut dalam sabda Nabi saw. : Tiada diberi- kan kepada seorang hamba di dunia ini sesuatu yang lebih baik daripada Grizinkan baginya untuk sembahyang dua rakaat. Sebab sembahyang itu sebagai hubungan langsung antara hamba dengan Allah, bertemu berkata-kata, dan berkhalwat. Di situlah seorang menyatakan kehambaan, kerendahan, kehinaan, hajat dan kebutuhannya.
Ketika Ibn Atha' Allah ditanya tentang sabda Nabi sav. Dan telah diberi oleh Allah kepuasanku dalam sembahyang. Apakah itu khusus untuk Rasulullah saw. sendiri atau juga ummatnya mendapat
(bagian)? Jawabnya : Sesungguhnya kesenangan melihat kebesaran Jalalullah itu menurut kadar kekuatan ma'rifatnya terhadap apa yang dilihat itu, sedang ma'rifat Rasulullah saw. tidak dapat disamakan dengan ma'rifat lain-lainnya, karena itu tidak ada kesenangan (kepuas- an) seperti kesenangannya. Dan kami katakan bahwa kesenangan itu dalam sembahyang, karena melihat kebesaran yang dilihatnya, sebab Nabi sendiri telah mengisyaratkan dalam sabdanya : "Di dalam sembahyang", dan tidak berkata "Dengan sembahyang," sebab Nabi saw. tidak akan puas/senang hatinya selain kepada Tuhannya. Bagaimana tidak demikian, padahal ia sendiri menganjurkan untuk mencapai tingkat itu dalam sabdanya : Sembahlah Allah seakan-akan engkau melihat kepadaNya. Dan mustahil jika melihat Allah dan melihat lain-lainnya di samping Allah. Jika ada orang berkata : Adakalanya kesenangan itu karena sembahyang (dengan sembahyang), sebab sembahyang itu sebagai kurnia yang timbul langsung dari sumber pemberian Allah, maka bagaimana tidak akan gembira dengan itu, dan bagaimana tidak menjadi puncak kesenangan karenanya, sedang Allah telah berfirman : Katakanlah : Hanya dengan (karena) kurnia dan rahmat Allah itulah mereka harus bergembira. Maka ketahuilah bahwa dalam ayat itu juga telah ada isyarat untuk jawaban terhadap pertanyaan ini bagi orang yang memperhatikan rahasia kata-katanya. Sebab Allah berkata : Maka dengan itulah mereka harus bergembira. Dan tidak berkata : Dengan itulah engkau bergembira ya Muhammad. Seolah-olah berkata : Katakan kepada mereka supaya mereka bergembira dengan pemberian kurnia itu, tetapi kegembiraanmu hanya dengan yang memberi kurnia itu, sebagaimana tersebut dalam ayat : Katakanlah : Allah, kemudian biarkan mereka dalam kesibukan mereka ber- kecimpung- Sembahyang itu sebagai pemberian Allah yang terbesar untuk hambaNya, sebagaimana tersebut dalam sabda Nabi saw. : Tiada diberi- kan kepada seorang hamba di dunia ini sesuatu yang lebih baik daripada Grizinkan baginya untuk sembahyang dua rakaat. Sebab sembahyang itu sebagai hubungan langsung antara hamba dengan Allah, bertemu berkata-kata, dan berkhalwat. Di situlah seorang menyatakan kehambaan, kerendahan, kehinaan, hajat dan kebutuhannya.
059. لاَ يَعْظُمُ الذَّنْبُ عِنْدَكَ عِظَمًا يَصُدُّكَ عَنْ حُسْنِ الظَّنِّ بِاللهِ تَعَالَى، فَإِنَّ مَنْ عَرَفَ رَبَّهُ اسْتَصْغَرَ فِي جَنْبِ كَرَمِهِ ذَنْبَهُ.
Jangan sampai terasa bagimu kebesaran sesuatu dosa itu, hingga dapat merintangi engkau dari husnudh-dhan (baik sangka) terhadap Allah ta'ala, sebab siapa yang benar-benar mengenal Allah ta'ala, maka akan menganggap kecil dosanya itu di samping keluasan kemurahan Allah. Merasa besarnya suatu dosa itu baik, jika menimbulkan rasa akan bertobat dan niat tidak akan mengulanginya untuk selamanya. Tetapi jika merasa besarnya dosanya itu akan menyebabkan putus rahmat dari Allah, merasa seolah-olah rahmat dan maaf Allah tidak akan dapat memaafkan padanya, maka perasaan yang demikian itu lebih bahaya baginya dari dosa yang telah dilakukannya, sebab putus harapan dari rahmat Allah itu dosa besar dan itu perasaan orang kafir semata-mata.
Abdullah bin Mas'ud ra. berkata : Seorang mukmin melihat dosanya bagaikan bukit yang akan merubuhinya, sedang orang munafik melihat dosanya bagaikan lalat yang hinggap diujung hidungnya, maka diusir dengan tangannya, nabi saw. telah bersabdą : Demi Allah yang jiwaku ada di tanganNya, andaikan kamu tidak berbuat dosa niscaya Allah akan mematikan kamu, dan mendatangkan suatu kaum yang berbuat dosa lalu istighfar (minta ampun) dan diampunkan bagi mereka itu.
Nabi saw. bersabda : Andaikan perbuatan dosa itu tidak lebih baik bagi seorang mukmin daripada ujub (merasa sombong karena amal kebaikannya), maka Allah tidak akan membiarkan seorang mukmin berbuat dosa untuk selamanya. Sebab ujub itu menjauhkan seorang hamba dari Allah, sedang dosa itu menarik hamba mendekat kepada Allah. Dan ujub merasa besar diri, sedang dosa merasa kecil dan rendah dari sisi Allah.
Jangan sampai terasa bagimu kebesaran sesuatu dosa itu, hingga dapat merintangi engkau dari husnudh-dhan (baik sangka) terhadap Allah ta'ala, sebab siapa yang benar-benar mengenal Allah ta'ala, maka akan menganggap kecil dosanya itu di samping keluasan kemurahan Allah. Merasa besarnya suatu dosa itu baik, jika menimbulkan rasa akan bertobat dan niat tidak akan mengulanginya untuk selamanya. Tetapi jika merasa besarnya dosanya itu akan menyebabkan putus rahmat dari Allah, merasa seolah-olah rahmat dan maaf Allah tidak akan dapat memaafkan padanya, maka perasaan yang demikian itu lebih bahaya baginya dari dosa yang telah dilakukannya, sebab putus harapan dari rahmat Allah itu dosa besar dan itu perasaan orang kafir semata-mata.
Abdullah bin Mas'ud ra. berkata : Seorang mukmin melihat dosanya bagaikan bukit yang akan merubuhinya, sedang orang munafik melihat dosanya bagaikan lalat yang hinggap diujung hidungnya, maka diusir dengan tangannya, nabi saw. telah bersabdą : Demi Allah yang jiwaku ada di tanganNya, andaikan kamu tidak berbuat dosa niscaya Allah akan mematikan kamu, dan mendatangkan suatu kaum yang berbuat dosa lalu istighfar (minta ampun) dan diampunkan bagi mereka itu.
Nabi saw. bersabda : Andaikan perbuatan dosa itu tidak lebih baik bagi seorang mukmin daripada ujub (merasa sombong karena amal kebaikannya), maka Allah tidak akan membiarkan seorang mukmin berbuat dosa untuk selamanya. Sebab ujub itu menjauhkan seorang hamba dari Allah, sedang dosa itu menarik hamba mendekat kepada Allah. Dan ujub merasa besar diri, sedang dosa merasa kecil dan rendah dari sisi Allah.