Langkau ke kandungan
Alhiyara
Alhiyara
Hikam Ibnu 'Atoillah

108. أَنْعَمَ عَلَيْكَ أَوَّلاً بِالْإِيجَادِ، وَثَانِيًا بِتَوَالِي الْإِمْدَادِ.

Pada pertamanya Allah memberi kepadamu nikmat me- wujudkan (menjadikan), kemudian nikmat yang kedua : Melengkapi kebutuhan-kebutuhan wujudmu yang terus-menerus (yang kedua : Terus menerusnya bantuan Allah kepadamu).

Firman Allah :

وَأَسْبَغَ عَلَيْكُمْ نِعَمَهُ ظَاهِرَةً وَبَاطِنَةً (لقمان: ٢٠)

Allah menuangkan kepadamu nikmat lahir dan batin yang terang dan yang samar, yang terasa dan yang tidak terasa.

Firman Allah :

وَلَٰكِنَّ اللَّهَ حَبَّبَ إِلَيْكُمُ الْإِيمَانَ وَزَيَّنَهُ فِي قُلُوبِكُمْ وَكَرَّهَ إِلَيْكُمُ الْكُفْرَ وَالْفُسُوقَ وَالْعِصْيَانَ أُولَٰئِكَ هُمُ الرَّاشِدُونَ * فَضْلًا مِّنَ اللَّهِ وَنِعْمَةً ۚ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ (الحجرات: ٧ – ٨)

Tetapi Allah yang mencintakan kamu kepada iman, dan Allah yang menghias iman itu dalam hatimu, dan Allah yang membencikan kamu kepada kufur (kekafiran) dan pelanggaran dan maksiat dosa. Mereka- lah orang yang dapat petunjuk. Itu semua kurnia dari Allah dan nikmat, dan Allah maha mengetahui lagi bijaksana. (Alhujaraat 8). Dzin-Nun AI-Misri berkata : Siapa yang di dalam tauhid itu merasa seolah-olah sebagai hasil kecerdasannya sendiri, maka tauhid itu tidak dapat menyelamatkannya dari api neraka, sehingga merasa bahwa tauhidnya itupun karunia dari Allah ta’ala.

Seorang apabila telah merasa asal kejadiannya dari Allah dan kelanjutannyapun dari Allah, merasa bahwa sifat fakirnya itu memang asli pada kejadiannya, dan ia tidak dapat melepaskan diri dari Tuhan yang dihajatkannya pada tiap detik dalam wujudnya.

Petikan lain
Hikam Ibnu 'Atoillah

277. وَالْمُشْتَغَلُ بِهِ هُوَ الَّذِي أَحْبَبْتَهُ وَسَارَعْتَ إِلَيْهِ، وَالْمُشْتَغَلُ عَنْهُ هُوَ الْمُؤْثَرُ عَلَيْهِ.

Dan yang harus dikerjakan ialah amal ibadah yang kau sukai serta cekatan dalam melakukan untuk tagarrub kepada Allah, sedang

yang harus diabaikan ialah hawa nafsu dan urusan dunia yang akan lenyap, yang sering-sering mempengaruhi. Karena itu harus mengutamakan yang tetap kekal abadi, dan mengabaikan yang sementara dan pasti musnah lenyap. Abdullah bin Ishaq Algafiqy berkata : Pada suatu malam ketika saya berjalan ke Masjidil Haram (Makkah) bertemu seorang yang sedang mem- bersihkan tanah, maka saya kira ia gila atau miskin (kelaparan), lalu saya tegur : Hai orang, untuk apakah kau main-main tanah? Jawabnya : Apakah ini tanah? Sambil memberikan kepadaku segenggam, tiba- tiba itu tepung. Maka tergerak dalam hatiku ini seorang waliyullah, kemudian saya duduk mendekatinya sambil berkata kepadanya : Doakanlah saya, maka ia berdoa : Semoga Allah memberitahu kepada- mu kebesaran apa yang kau minta itu, sehingga ringan bagimu meninggalkan segala kepentingan dunia yang fana ini.

Hikam Ibnu 'Atoillah

044. لَأَنْ تَصْحَبَ جَاهِلاً لاَ يَرْضَى عَنْ نَفْسِهِ خَيْرٌ لَكَ مِنْ أَنْ تَصْحَبَ عَالِمًا يَرْضَى عَنْ نَفْسِهِ، فَأَيُّ عِلْمٍ لِعَالِمٍ يَرْضَى عَنْ نَفْسِهِ، وَأَيُّ جَهْلٍ لِجَاهِلٍ لاَ يَرْضَى عَنْ نَفْسِهِ.

Dan sekiranya engkau berkawan seorang bodoh yang tidak menurutkan hawa nafsunya, lebih baik daripada berkawan seorang alim yang selalu menurutkan hawa nafsunya. Maka ilmu, apakah yang dapat digelarkan bagi seorang alim yang selalu menurutkan hawa nafsunya itu, sebaliknya kebodohan apakah yang dapat

disebutkan bagi seorang yang sudah dapat mengekang (menahan) hawa nafsunya. Bagaimana akan dinamakan bodoh, seorang yang telah dapat menahan dan mengekang hawa nafsunya, sehingga membuktikan bahwa semua amal perbuatannya hanya semata-mata untuk keridhaan Allah dan bersih dari dorongan hawa nafsu. Sebaliknya apakah arti syatu ilmu yang tidak dapat menahan atau memimpin hawa nafsu dari sifat kebinatangan dan kejahatannya.

Dalam sebuah hadits ada keterangan :

الْمَرْءُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ.

Seorang itu akan mengikuti pendirian sahabat karibnya, karena itu hendaknya seseorang itu memperhatikan, siapakah yang harus dikawaninya.

Ahli syair berkata :

مَنْ عَاشَرَ الْأَشْرَافَ عَاشَ مُشَرَّفًا وَمُعَاشِرُ الْأَنْذَالِ غَيْرُ مُشَرَّفٍ.

Siapa bergaul dengan orang-orang yang baik, akan hidup mulia. Dan yang bergaul dengan orang-orang yang rendah akhlagnya, pasti tidak mulia.

Hikam Ibnu 'Atoillah

113. الْعَارِفُ لاَ يَزُولُ اضْطِرَارُهُ، وَلاَ يَكُونُ مَعَ غَيْرِ اللهِ قَرَارُهُ.

Seorang aarif tidak kunjung hilang rasa hajat kebutuhannya, dan tidak pernah merasa tenang, atau bersandar pada sesuatu selain Allah ta'ala. Seorang aarif (wali) yaitu yang tetap merasa berhajat kepada Allah, sebab memang tidak ada sesuatu yang dapat memuaskan kepadanya selain Allah. Juga karena sadar benar-benar terhadap kekuasaan Allah di samping kelemahan dan kebutuhan diri sendiri kepada Allah.

Disalin