Bukan seorang arif itu, orang yang bila ia menunjuk sesuatu ia merasa bahwa Allah lebih dekat dari isyaratNya, tetapi orang arif itu ialah yang tidak mempunyai isyarat, karena merasa lenyap diri dalam wujud Allah, dan diliputi oleh pandangan (syuhud) kepada Allah. Yakni siapa yang masih mempunyai pandangan kepada sesuatu selain Allah, maka belum sempurna sebagai seorang (yang mengenal kepada Allah). Tetapi seorang arif yang sesungguhnya ialah yang merasakan kepalsuan segala sesuatu selain Allah, sehingga pandangan- nya tiada lain melainkan kepada Allah.
289. وَأَكْمَلُ مِنْهُ عَبْدٌ شَرِبَ فَازْدَادَ صَحْوًا، وَغَابَ فَازْدَادَ حُضُورًا، فَلاَ جَمْعُهُ يَحْجُبُهُ عَنْ فَرْقِهِ، وَلاَ فَرْقُهُ يَحْجُبُهُ عَنْ جَمْعِهِ، وَلاَ فَنَاؤُهُ يَصُدُّهُ عَنْ بَقَائِهِ، وَلاَ بَقَاؤُهُ يَصُدُّهُ عَنْ فَنَائِهِ، يُعْطِي كُلَّ ذِي حَقٍّ حَقَّهُ، وَيُوَفِّي كُلَّ ذِي حَقٍّ حَقَّهُ.
Dan yang sempurna ialah seorang hamba yang minum dari nur tauhid, maka ia bertambah kesadarannya, dan lenyap dari melihat sesuatu selain Allah, kemudian bertambah dekatnya, maka dekatnya kepada Allah tidak mempengaruhi (menutup) pisahnya, demikian pula pisahnya tidak menutupi dekatnya, fana'nya dari makhluk tidak menghalangi tetap ingatnya, demikjan ingatnya kepada makhluk tidak merintangi fana'nya, dapat menempatkan segala sesuatu pada tempatnya, dan memberi pada tiap sesuatu haknya.
Dan yang sempurna ialah seorang hamba yang minum dari nur tauhid, maka ia bertambah kesadarannya, dan lenyap dari melihat sesuatu selain Allah, kemudian bertambah dekatnya, maka dekatnya kepada Allah tidak mempengaruhi (menutup) pisahnya, demikian pula pisahnya tidak menutupi dekatnya, fana'nya dari makhluk tidak menghalangi tetap ingatnya, demikjan ingatnya kepada makhluk tidak merintangi fana'nya, dapat menempatkan segala sesuatu pada tempatnya, dan memberi pada tiap sesuatu haknya.
234. تَطَلُّعُكَ إِلَى بَقَاءِ غَيْرِهِ دَلِيلٌ عَلَى عَدَمِ وِجْدَانِكَ لَهُ، وَاسْتِيحَاشُكَ لِفِقْدَانِ مَا سِوَاهُ دَلِيلٌ عَلَى عَدَمِ وُصْلَتِكَ بِهِ.
Keinginanmu untuk tetapnya sesuatu selain Allah itu sebagai bukti bahwa kau belum bertemu pada Allah, dan kerisauanmu karena kehilangan sesuatu selain Allah itu sebagai bukti tidak adanya hubungan- mu dengan Allah atau sebagai tanda belum sampaimu kepada Allah. Bertemunya manusia kepada Tuhan dan sampainya kepadaNya, inilah puncak harapan, dan dengan itulah ia mencapai kebahagiaan dan kerajaan yang besar, bahkan dengan itu ia akan lupa dan terhibur dari segala sesuatu selain Allah. Abu Sulaiman Addarany ketika ditanya : Apakah yang terdekat dari segala sesuatu yang orang bertagarrub (mendekat) kepada Allah ? Jawabnya : Supaya Allah mengetahui bahwa di dalam hatimu tidak ada sesuatu yang diinginkan kecuali Allah, baik di dunia maupun di akherat. Dan itulah bukti bahwa ia telah mencapai tingkat yang besar, tetapi selama ia masih menginginkan tetapnya sesuatu atau risau karena tidak adanya sesuatu, maka itu suatu bukti bahwa ia belum mencapai hakikat tingkat yang besar itu dan harus segera memperbaiki dirinya.
Keinginanmu untuk tetapnya sesuatu selain Allah itu sebagai bukti bahwa kau belum bertemu pada Allah, dan kerisauanmu karena kehilangan sesuatu selain Allah itu sebagai bukti tidak adanya hubungan- mu dengan Allah atau sebagai tanda belum sampaimu kepada Allah. Bertemunya manusia kepada Tuhan dan sampainya kepadaNya, inilah puncak harapan, dan dengan itulah ia mencapai kebahagiaan dan kerajaan yang besar, bahkan dengan itu ia akan lupa dan terhibur dari segala sesuatu selain Allah. Abu Sulaiman Addarany ketika ditanya : Apakah yang terdekat dari segala sesuatu yang orang bertagarrub (mendekat) kepada Allah ? Jawabnya : Supaya Allah mengetahui bahwa di dalam hatimu tidak ada sesuatu yang diinginkan kecuali Allah, baik di dunia maupun di akherat. Dan itulah bukti bahwa ia telah mencapai tingkat yang besar, tetapi selama ia masih menginginkan tetapnya sesuatu atau risau karena tidak adanya sesuatu, maka itu suatu bukti bahwa ia belum mencapai hakikat tingkat yang besar itu dan harus segera memperbaiki dirinya.
100. كَفَى مِنْ جَزَائِهِ إِيَّاكَ عَلَى الطَّاعَةِ أَنْ رَضِيَكَ لَهَا أَهْلاً.
Cukup menjadi balasan Allah atas ketaatanmu, jika Allah ridha (rela) menjadikan engkau ahli taat/ibadat. Taufiq dan hidayah yang diberikan Allah kepada seorang hamba itu sebagai karunia yang sebesar-besarnya bagi seorang hamba, sebab dengan hidayat dan taufiq itulah seorang hamba dapat menerima nikmat dan bahagia dunia akherat.
Cukup menjadi balasan Allah atas ketaatanmu, jika Allah ridha (rela) menjadikan engkau ahli taat/ibadat. Taufiq dan hidayah yang diberikan Allah kepada seorang hamba itu sebagai karunia yang sebesar-besarnya bagi seorang hamba, sebab dengan hidayat dan taufiq itulah seorang hamba dapat menerima nikmat dan bahagia dunia akherat.