Langkau ke kandungan
Alhiyara
Alhiyara
Hikam Ibnu 'Atoillah

074. مَنْ لَمْ يَشْكُرِ النِّعَمَ فَقَدْ تَعَرَّضَ لِزَوَالِهَا، وَمَنْ شَكَرَهَا فَقَدْ قَيَّدَهَا بِعِقَالِهَا.

Siapa yang tidak mensyukuri nikmat Tuhan, maka berarti berusaha untuk hilangnya nikmat itu, dañ siapa yang syukur atas nikmat berarti telah mengikat nikmat itu dengan ikatan yang kuat kukuh.

Firman Allah :

لَئِن شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ (إبراهيم: ٧)

Bila kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah nikmat bagimu.

Firman Allah :

وَمَا بِكُم مِّن نِّعْمَةٍ فَمِنَ اللَّهِ (النحل: ٥٣)

Tiada terjadi suatu nikmat bagimu melainkan itu dari Allah (maka itu dari Allah).

Firman Allah :

وَأَمَّا بِنِعْمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثْ (الضحى: ١١)

Adapun terhadap nikmat pemberian Tuhanmu, maka kau pergunakan (ceritakan/sebarkan).

Annu’maan bin Basyir ra. berkata : Bersabda Nabi saw. : Siapa yang tidak mensyukuri nikmat yang sedikit, maka tidak akan dapat mensyukuri nikmat yang banyak, dan siapa yang tidak berterima kasih kepada sesama manusia berarti tidak bersyukur kepada Allah. Syukur : lalah merasa dalam hati, dan menyebut dengan lidah, dan mengerjakan dengan anggota badan.

Al-Junaid berkata : Ketika saya baru berusia 7 tahun hadir dalam majlis Assariyussagathi, tiba-tiba saya ditanya : Apakah arti syukur ? Jawabku : Syukur ialah tidak menggunakan suatu nikmat yang diberi Allah untuk perbuatan maksiat. Assary berkata: Saya kuatir kalau bagianmu dari kurnia Allah hanya dalam lidahmu belaka. Berkata Al-Junaid : Maka karena kalimat yang dikeluarkan oleh Assary itu saya selalu menangis, kuatir kalau benar apa yang dikatakan oleh Assary itu.

Petikan lain
Hikam Ibnu 'Atoillah

012. مَا نَفَعَ الْقَلْبَ شَيْءٌ مِثْلُ عُزْلَةٍ يَدْخُلُ بِهَا مَيْدَانَ فِكْرَةٍ.

Tiada sesuatu yang sangat berguna bagi hati (jiwa), sebagai- mana menyendiri untuk masuk ke medan berfikir (tafakur).

Rasulullah saw. bersabda : Perumpamaan teman yang tidak baik, bagaikan tukang besi yang membakar besi, jika engkau tidak terbakar oleh peltikan apinya, maka terkena bau busuknya. Allah mewahyukan kepada Nabi Musa as.: Hai putera Imraan waspadalah selalu dan pilihlah untuk dirimu teman (sahabat), dan tiap teman (kawan) tidak membantumu untuk berbuat taat (bakti) kepadaku, maka ia adalah musuhmu. Demikian pula wahyu Allah kepada Nabi Dawud as.: Hai Dawud, mengapakah engkau menyendiri? Jawab Dawud : Aku menjauhkan diri dari makhluk untuk mendekat kepadaMu. Maka Allah berfirman: Hai Dawud waspadalah selalu, dan pilihlah untukmu kawan-kawan, dan tiap kawan yang tidak membantu untuk berbakti kepadaku, maka itu adalah musuhmu, dan akan menyebabkan keras hatimu, serta jauh dari padaKu. Nabi Isa as. bersabda : Jangan berkawan pada orang-orang yang mati, niscaya mati hatimu. Ketika ditanya: Siapakah orang-orang yang mati itu ? Jawabnya : Mereka yang rakus kepada dunia.

Rasulullah saw. bersabda : Yang sangat aku kuatirkan terhadap ummatku ialah kelemahan dalam iman keyakinan. Nabi Isa as. berkata : Berbahagialah orang yang perkataannya dzikir, dan diamnya berfikir, dan pandangannya perhatian. Sesungguh- nya orang yang sempurna akal ialah yang selalu mengoreksi hari kemudian sesudah mati.

Sahl bin Abdullah Attustary ra. berkata : Kebaikan itu terhimpun dalam empat macam, dan dengan itu tercapai derajat wali (yakni di samping melakukan semua kewajiban-kewajiban agama), yaitu : 1. Lapar, 2. Diam,

3. Menyendiri dan 4. Bangun malam (yakni bertahajjud).

Hikam Ibnu 'Atoillah

222. مَا أَحْبَبْتَ شَيْئًا إِلاَّ كُنْتَ لَهُ عَبْدًا، وَهُوَ لاَ يُحِبُّ أَنْ تَكُونَ لِغَيْرِهِ عَبْدًا.

Tiada engkau menyintai sesuatu melainkan pasti engkau menjadi hamba dari apa yang engkau cinta itu, dan Allah tidak suka bila engkau menjadi hamba sesuatu selain daripadaNya. Cinta pada sesuatu itu menjadikan buta dan pekak.

Rasulullah saw. bersabda : Celaka hamba dinar, celaka hamba dirham, celaka hamba baju, permadani dan isteri, celaka dan rugi, dan umpama kena duri semoga tidak keluar.

Al-Junaid berkata : Engkau takkan mencapai hakikat ubudiyah (kehambaan) selama engkauı masih diperbudak oleh sesuatu selain Allah, yaitu harta, isteri atau lain-lainnya.

Hikam Ibnu 'Atoillah

123. وُرُودُ الْإِمْدَادِ بِحَسَبِ الاِسْتِعْدَادِ، وَشُرُوقُ الْأَنْوَارِ عَلَى حَسَبِ صَفَاءِ الْأَسْرَارِ.

Datangnya kurnia bantuan Allah itu menurut persiapan, dan terbitnya nur cahaya ilahi menurut bersihnya (jernihnya) hati. Karena itu ada tuntunan : Bersihkan hatimu dari segala sesuatu selain Allah, niscaya Kami (Allah) akan mengisi (memenuhi)nya dengan pengertian- pengertian ma'rifat dan rahasia-rahasia keyakinan. Karena itu tiap-tiap waarid (pemberian kurnia) itu tergantung kepada wirid. Apabila wirid itu timbul dari hati yang suci bersih, maka datangnya waarid demikian terang bersihnya, demikian pula bila wirid itu tetap terus, maka waaridnya pun demikian tidak berhenti. Allah tidak akan jemu memberi pahala sehingga kamu jemu beramal.

Disalin