Langkau ke kandungan
Alhiyara
Alhiyara
Hikam Ibnu 'Atoillah

072. أَنْتَ حُرٌّ مِمَّا أَنْتَ عَنْهُ آيِسٌ، وَعَبْدٌ لِمَا أَنْتَ لَهُ طَامِعٌ.

Engkau bebas merdeka dari segala sesuatu yang tidak engkau butuhkan, dan engkau tetap menjadi hamba kepada apa yang engkau harapkan (inginkan). Andaikan tidak ada keinginan-keinginan yang palsu, pasti orang akan bebas merdeka tidak akan diperbudak oleh sesuatu yang tidak berarti (berharga). Contohnya : Burung elang rajawali yang terbang tinggi di angkasa lepas, sukar seorang akan mendapat menangkapnya, tetapi ia melihat sepotong daging yang tergantung pada perangkap, maka ia turun oleh sifat tamaknya dari angkasa itu, maka terjebak oleh perangkap itu sehingga ia menjadi permainan anak-anak kecil.

Fateh Al-Maushily ketika ditanya tentang contoh orang yang menurut- kan syahwat hawa nafsu dan sifat tamaknya, sedang tidak jauh dari tempat itu ada dua anak yang sedang makan roti, yang satu hanya makan roti, sedang yang kedua makan roti dengan keju, lalu yang makan roti ingin keju, maka ia berkata kepada temannya : Berilah kepadaku keju. Jawab temannya : Jika engkau suka saya jadikan anjingku, saya beri keju. Jawab yang minta : Baiklah. Maka lalu diikat lehernya dengan tali sebagai anjing dan dituntun. Berkata Fateh kepada orang yang bertanya: Andaikata anak itu tidak tamak pada keju, niscaya tidak menjadi anjing. Terjadi ada seorang murid didatangi oleh gurunya, maka ia ingin menjamu gurunya, lalu ia ingin keluarkan roti tanpa lauk pauk, dan tergerak dalam hati murid sekiranya ada lauk pauknya tentu lebih sempurna. Kemudian setelah selesai dimakan oleh guru apa yang dihidangkan itu, bangunlah guru itu keluar tiba-tiba di bawa ke penjara untuk ditunjukkan berbagai macamnya orang-orang yang dihukum, baik yang dipukul atau dipotong tangan dan lain-lainnya, lalu berkata guru kepada muridnya : Semua orang-orang yang kau lihat itu, yaitu orang yang tidak sabar makan roti saja tanpa lauk pauk. Ada seorang yang baru dikeluarkan dari penjara, yang masih terikat kakinya dengan rantai ia minta-minta sepotong roti kepada orang, maka dikatakan oleh orang yang dimintai : Andaikan sejak dahulu engkau terima dengan sepotong roti, maka takkan terikat kakimu itu. Ada seorang melihat seorang hakiem sedang makan dari rerontokan buah yang jatuh di sungai, maka orang itu berkata : Hai orang hakiem, sekiranya engkau mau kerja pada raja tentu engkau tidak sampai makan rerontokan buah dalam sungai. maka dijawab oleh Hakiem : Andaikan engkau suka menerima makanan ini tidak usah menjadi buruhnya raja (budak raja).

Petikan lain
Hikam Ibnu 'Atoillah

236. مَا تَجِدُهُ الْقُلُوبُ مِنَ الْهُمُومِ وَالْأَحْزَانِ فَلِأَجْلِ مَا مُنِعَتْ مِنْ وُجُودِ الْعِيَانِ.

Semua yang dirasakan oleh hati (perasaan/fikiran) dari berbagai macam kerisauan itu, maka semata-mata karena masih tertahan belum dapat melihat musyahadah kepada Tuhan Allah swt.

Firman Allah menceritakan ketika Abubakar Assiddiq ra. bersama Rasulullah di gua Tsur, dimana Abubakar risau dan sedih hati, langsung oleh Rasulullah diingatkan :

لَا تَحْزَنْ إِنَّ اللَّهَ مَعَنَا (التوبة: ٤٠)

Jangan risau/sedih sesungguhnya Allah beserta kami.

Asysyibly berkata : Siapa yang benar-benar mengenal Allah tidak akan risau atau berduka cita untuk selama-lamanya.

Firman Allah :

أَلَا إِنَّ أَوْلِيَاءَ اللَّهِ لَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ (يونس: ٦٢)

Ingatlah, sesungguhnya para waliyullah itu tidak merasa takut dan tidak merasa duka cita. Dan sabda Nabi saw. kepada Abubakar Assiddiq ketika digua Tsur : Ya Aba Bakr ma dhannuka bi isnain allahu tsalitsu huma. Bagaimanakah perasaanmu hai Abubakar terhadap dua orang yang ditigai oleh Allah (disertai/dilindungi oleh Allah).

Hikam Ibnu 'Atoillah

234. تَطَلُّعُكَ إِلَى بَقَاءِ غَيْرِهِ دَلِيلٌ عَلَى عَدَمِ وِجْدَانِكَ لَهُ، وَاسْتِيحَاشُكَ لِفِقْدَانِ مَا سِوَاهُ دَلِيلٌ عَلَى عَدَمِ وُصْلَتِكَ بِهِ.

Keinginanmu untuk tetapnya sesuatu selain Allah itu sebagai bukti bahwa kau belum bertemu pada Allah, dan kerisauanmu karena kehilangan sesuatu selain Allah itu sebagai bukti tidak adanya hubungan- mu dengan Allah atau sebagai tanda belum sampaimu kepada Allah. Bertemunya manusia kepada Tuhan dan sampainya kepadaNya, inilah puncak harapan, dan dengan itulah ia mencapai kebahagiaan dan kerajaan yang besar, bahkan dengan itu ia akan lupa dan terhibur dari segala sesuatu selain Allah. Abu Sulaiman Addarany ketika ditanya : Apakah yang terdekat dari segala sesuatu yang orang bertagarrub (mendekat) kepada Allah ? Jawabnya : Supaya Allah mengetahui bahwa di dalam hatimu tidak ada sesuatu yang diinginkan kecuali Allah, baik di dunia maupun di akherat. Dan itulah bukti bahwa ia telah mencapai tingkat yang besar, tetapi selama ia masih menginginkan tetapnya sesuatu atau risau karena tidak adanya sesuatu, maka itu suatu bukti bahwa ia belum mencapai hakikat tingkat yang besar itu dan harus segera memperbaiki dirinya.

Hikam Ibnu 'Atoillah

211. رُبَّمَا وَرَدَتِ الظُّلَمُ عَلَيْكَ لِيُعَرِّفَكَ قَدْرَ مَا مَنَّ اللهُ بِهِ عَلَيْكَ.

Adakalanya (kemungkinan) kegelapan-kegelapan (dosa/ maksiat dan syahwat) itu tiba padamu, untuk mengingatkan kepadamu kebesaran nikmat yang diberikan Allah kepadamu. Sebelum mendapat taufiq hidayat seorang hamba dalam berbagai kegelapan, sehingga berbuat segala macam perbuatan kejahatan, tetapi setelah mendapat taufiq hidayat ia hidup dalam alam cahaya, sehingga dengan demikian ia dapat merasakan bagaimana nikmat/ rahmatnya iman hidayat, padahal ia telah lama berkecimpung dalam lumpur/jurang kegelapan syahwat dosa dan kejahatan itu. Sebab adąkalanya nilai sesuatu itu tidak dapat dirasakan kecuali bila telah merasai lawannya, dalam peribahasa : Kesehatan itu bagaikan mahkota

di atas kepala tiap orang yang sehat, tidak ada yang melihatnya kecuali orang-orang yang sakit.

Disalin