Langkau ke kandungan
Alhiyara
Alhiyara
Hikam Ibnu 'Atoillah

054. رُبَّمَا كُنْتَ مُسِيئًا فَأَرَاكَ الْإِحْسَانَ مِنْكَ صُحْبَتُكَ لِمَنْ هُوَ أَسْوَأُ حَالاً مِنْكَ.

Kemungkinan engkau berbuat kekeliruan (dosa), maka di- tampakkan kepadamu sebagai kebaikan, oleh karena persahabatanmu kepada orang yang jauh lebih rendah akhlak (Iman) daripadamu. Bersahabat dengan yang lebih rendah budi, iman itu, sangat bahaya, sebab persahabatan itu pengaruh mempengaruhi, percaya mempercayai, sehingga dengan demikian sukar sekali untuk dapat melihat atau mengoreksi kesalahan sahabat yang kita sayangi, bahkan kesetiaan sahabat akan membela kita dalam kesalahan dan dosa kekeliruan itu, yang dengan itu kami pasti akan binasa karenanya. Sedang seorang tidak dapat mengoreksi diri sendiri, kecuali dengan kacamata orang lain, tetapi jika justru kacamata orang lain itu pula san Abd pada Khakonya)

mengelabui kita, maka bahayalah yang pasti menimpa pada kita.

Petikan lain
Hikam Ibnu 'Atoillah

237. مِنْ تَمَامِ النِّعْمَةِ عَلَيْكَ أَنْ يَرْزُقَكَ مَا يَكْفِيكَ وَيَمْنَعَكَ مَا يُطْغِيكَ.

Setengah dari kesempurnaan nikmat Allah kepadamu jika Allah memberi rizqi yang cukup dan menahan daripadamu apa yang dapat menyesatkan kamu.

Firman Allah :

كَلَّا إِنَّ الْإِنسَانَ لَيَطْغَىٰ * أَن رَّآهُ اسْتَغْنَىٰ (العلق: ٦ - ٧)

Sesungguhnya manusia itu pasti melampaui batas (tersesat) jika merasa diri kaya tidak berhajat. Sa'ad bin Abi Waggash ra. berkata : Saya telah mendengar Rasulullah saw. bersabda : Sebaik-baik rizqi yang mencukupi, dan sebaik-baik dzikir yang samar. Abu Dardaa' ra. berkata : Rasulullah saw bersabda : Tiada terbit atau terbenam matahari melainkan disisinya ada dua Malaikat yang berseru, seruan itu dapat didengar oleh semua makhluk kecuali manusia dan jin : Hai sekalian manusia silahkan kembali kepada Tuhan, sesungguhnya yang sedikit tetapi mencukupi itu lebih baik dari yang banyak hingga melalaikan (menyesatkan).

Firman Allah :

وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ ۖ وَلَا تَنسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا (القصص: ٧٧)

Pergunakan semua yang diberikan Allah kepadamu (yaitu yang berupa hidup panca indera, akal pikiran, tenaga dan harta kekayaan) untuk mencapai kebahagiaan dan keuntungan akherat, dan jangan kau lupakan bagianmu daripada dunia. Kepentingan yang pertama dan,utama ialah keselamatan akherat, adapun dunia maka ia sambil lalu jika tidak lupa. Sebab siapa yang sungguh beramal untuk akherat maka dunianya terjamin untung dan puas, sebaliknya jika amal usahanya hanya untuk dunia maka baginya tidak bertambah dari ketetapan Allah dan akheratnya rugi tidak dapat apa-apa.

Rasulullah saw. bersabda :

لَيْسَ الْغِنَى عَنْ كَثْرَةِ الْعَرَضِ، وَلَكِنَّ الْغِنَى غِنَى النَّفْسِ.

Bukannya kekayaan itu dengan banyaknya harta benda, tetapi kekayaan yang sesungguhnya ialah kaya hati/tenang jiwa. Tersebut dalam kitab-kitab yang dahulu, Allah berfirman : Sesungguhnya seringan-ringan hukumanKu terhadap seorang alim jika ia condong kepada keduniaan, akan Aku cabut daripadannya kelezatan bermunajat kepadaKu.

Hikam Ibnu 'Atoillah

181. جَلَّ حُكْمُ الْأَزَلِ أَنْ يُضَافَ إِلَى الْعِلَلِ.

Maha suci hukum (putusan) Allah yang telah pasti dalam azal, jika disandarkan (digantungkan) kepada sebab musabab. Segala sesuatu yang terjadi dalam alam ini, hanya semata-mata dari qudrat iradat (kekuasaan dan kehendak) Allah secara mutlak, sehingga tidak boleh dikatakan karena ini atau itu.

Hikam Ibnu 'Atoillah

286. إِنْ كَانَتْ عَيْنُ الْقَلْبِ تَنْظُرُ أَنَّ اللهَ وَاحِدٌ فِي مِنَّتِهِ، فَالشَّرِيعَةُ تَقْتَضِي أَنَّهُ لاَ بُدَّ مِنْ شُكْرِ خَلِيقَتِهِ.

Jika matahati memandang bahwa Allah itu tunggal dalam segala pemberian kurniaNya, maka syariat menyuruh harus berterima kasih (syukur) pula kepada sesama makhluk.

Firman Allah :

أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ (لقمان: ١٤)

Bersyukurlah kepadaKu dan kepada kedua ayah bundamu. (Luqman 14). Annu'man bin Basyir ra. berkata : Rasulullah saw. bersabda :

مَنْ لَا يَشْكُرِ الْقَلِيلَ لَا يَشْكُرِ الْكَثِيرَ، وَمَنْ لَا يَشْكُرِ النَّاسَ لَا يَشْكُرِ اللَّهَ.

Siapa yang tidak mensyukuri pemberian yang sedikit, maka tidak akan dapat mensyukuri yang banyak. Demikian pula siapa yang tidak syukur (terima kasih) kepada sesama manusia, maka berarti tidak bersyukur kepada Allah. Hakikat yang sebenarnya bahwa segala nikmat itu hanya kurnia Allah semata-mata, sedang syariat mengharuskan manusia syukur terima kasih kepada sesama manusia.

Disalin