Keajaiban yang sangat mengherankan (ajaib) terhadap orang yang lari dari apa yang sangat dibutuhkan, dan tidak dapat lepas dari padanya, dan berusaha mencari apa yang tidak akan kekal padanya. Sesungguhnya bukan mata kepala yang buta, tetapi yang buta ialah matahati yang di dalam dada. Seorang yang melarikan diri dari panggilan Tuhan untuk berbuat ibadat semata-mata karena ingin memuaskan hawa nafsu syahwatnya, nyata-nyata sebagai tanda buta matahatinya, sebab ia telah meng- utamakan bayangan daripada hakikat, mengutamakan yang sementara dan meninggalkan yang kekal abadi, mengutamakan yang rusak daripada yang tetap kekal untuk selamanya.
037. شَتَّانَ بَيْنَ مَنْ يَسْتَدِلُّ بِهِ أَوْ يَسْتَدِلُّ عَلَيْهِ، فَالْمُسْتَدِلُّ بِهِ عَرَفَ الحَقَّ لِأَهْلِهِ فَأَثْبَتَ الْأَمْرَ مِنْ وُجُودِ أَصْلِهِ، وَالاِسْتِدْلاَلُ عَلَيْهِ مِنْ عَدَمِ الْوُصُولِ إِلَيْهِ، وَإِلاَّ فَمَتَى غَابَ حَتَّى تُسْتَدَلَّ عَلَيْهِ، وَمَتَى بَعُدَ حَتَّى تَكُونَ الْآثَارُ هِيَ الَّتِي تُوصِلُ إِلَيْهِ.
Jauh berbeda antara orang yang berdalil; adanya Allah menunjukkan adanya alam, dengan orang yang berdalil; bahwa adanya alam inilah yang menunjukkan adanya Allah. Orang yang berdalil adanya Allah menunjukkan adanya alam, yaitu orang yang mengenal hak dan meletakkan pada tempatnya, sehingga menetapkan adanya sesuatu dari asal mulanya. Sedang orang yang berdalil adanya alam menunjukkan adanya Allah, karena ia tidak sampai kepada Allah. Maka bilakah Allah itu ghaib sehingga memerlukan dalil untuk mengetahuinya. Dan bilakah Allah itu jauh sehingga adanya alam ini dapat menyampaikan kepadanya.
Firman Allah :
وَاللَّهُ أَخْرَجَكُم مِّن بُطُونِ أُمَّهَاتِكُمْ لَا تَعْلَمُونَ شَيْئًا وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَالْأَفْئِدَةَ ۙ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ (النحل: ٧٨)
Dan Allah telah mengeluarkan kamu dari perut ibumu tidak mengetahui apa-apa, kemudian Allah memberi kepadamu pendengaran dan penglihatan serta fikiran (perasaan), supaya kamu bersyukur. (S. An-Nahi 78). Memang asal mula kejadian manusia bodoh tidak mengetahui apa- apa, kemudian Allah memberinya alat untuk mengetahui dan mengenal- Nya, pendengaran, penglihatan, perasaan dan fikiran semua alat mengenal Allah itu supaya manusia bersyukur, sebab dengan bersyukur itu manusia sempurna dan sejahtera hidupnya, yaitu setelah mengenal kepada Tuhan Allah yang menjadikan dan menjamin segala hajat kebutuhannya.
Jauh berbeda antara orang yang berdalil; adanya Allah menunjukkan adanya alam, dengan orang yang berdalil; bahwa adanya alam inilah yang menunjukkan adanya Allah. Orang yang berdalil adanya Allah menunjukkan adanya alam, yaitu orang yang mengenal hak dan meletakkan pada tempatnya, sehingga menetapkan adanya sesuatu dari asal mulanya. Sedang orang yang berdalil adanya alam menunjukkan adanya Allah, karena ia tidak sampai kepada Allah. Maka bilakah Allah itu ghaib sehingga memerlukan dalil untuk mengetahuinya. Dan bilakah Allah itu jauh sehingga adanya alam ini dapat menyampaikan kepadanya.
Firman Allah :
وَاللَّهُ أَخْرَجَكُم مِّن بُطُونِ أُمَّهَاتِكُمْ لَا تَعْلَمُونَ شَيْئًا وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَالْأَفْئِدَةَ ۙ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ (النحل: ٧٨)
Dan Allah telah mengeluarkan kamu dari perut ibumu tidak mengetahui apa-apa, kemudian Allah memberi kepadamu pendengaran dan penglihatan serta fikiran (perasaan), supaya kamu bersyukur. (S. An-Nahi 78). Memang asal mula kejadian manusia bodoh tidak mengetahui apa- apa, kemudian Allah memberinya alat untuk mengetahui dan mengenal- Nya, pendengaran, penglihatan, perasaan dan fikiran semua alat mengenal Allah itu supaya manusia bersyukur, sebab dengan bersyukur itu manusia sempurna dan sejahtera hidupnya, yaitu setelah mengenal kepada Tuhan Allah yang menjadikan dan menjamin segala hajat kebutuhannya.
283. فَلَمْ تَزَلْ مَطِيَّةُ عَزْمِهِ لاَ يَقِرُّ قَرَارُهَا دَائِمًا، تَسِيرُ حَتَّى أَنَاخَتْ بِحَضْرَةِ الْقُدْسِ، وَبِسَاطِ الْأُنْسِ، مَحَلِّ الْمُفَاتَحَةِ وَالْمُوَاجَهَةِ وَالْمُجَالَسَةِ وَالْمُحَادَثَةِ وَالْمُشَاهَدَةِ وَالْمُطَالَعَةِ، فَصَارَتِ الْحَضْرَةُ مُعَشَّشَ قُلُوبِهِمْ، إِلَيْهَا يَأْوُونَ وَفِيهَا يَسْكُنُونَ.
Maka tetap terus kendaraan semangatnya tidak berhenti, bahkan tetap terus berjalan, sehingga berlabuh (berhenti) di hadratil qudsi (di sisi Allah) di atas hamparan kesenangan, tempat berbisik/ bermunajat, berhadapan, bercakap-cakap, musyahadah dan bertemu sehingga hadratil qudsi itu menjadi sarang hati mereka, ke sana mereka kembali, dan di sana pula mereka tetap tinggal. Semangat yang tidak padam, bagaikan kendaraan yang tidak kunjung berhenti perjalanan, kecuali setelah sampai stasiun (pelabuhan) yang berupa hadratul-qudsi, di mana Allah sendiri yang menyenangkan, membuka nur hati dan selalu di sisi Allah.
Maka tetap terus kendaraan semangatnya tidak berhenti, bahkan tetap terus berjalan, sehingga berlabuh (berhenti) di hadratil qudsi (di sisi Allah) di atas hamparan kesenangan, tempat berbisik/ bermunajat, berhadapan, bercakap-cakap, musyahadah dan bertemu sehingga hadratil qudsi itu menjadi sarang hati mereka, ke sana mereka kembali, dan di sana pula mereka tetap tinggal. Semangat yang tidak padam, bagaikan kendaraan yang tidak kunjung berhenti perjalanan, kecuali setelah sampai stasiun (pelabuhan) yang berupa hadratul-qudsi, di mana Allah sendiri yang menyenangkan, membuka nur hati dan selalu di sisi Allah.
006. لاَ يَكُنْ تَأَخُّرُ أَمَدِ الْعَطَاءِ مَعَ الإِلْحَاحِ فِي الدُّعَاءِ مُوجِبًا لِيَأْسِكَ، فَهُوَ ضَمِنَ لَكَ الْإِجَابَةَ فِيمَا يَخْتَارُهُ لَكَ، لاَ فِيمَا تَخْتَارُ لِنَفْسِكَ، وَفِي الْوَقْتِ الَّذِي يُرِيدُ، لاَ فِي الْوَقْتِ الَّذِي تُرِيدُ.
Janganlah kelambatan masa pemberian Tuhan kepadamu, padahal engkau bersungguh-sungguh dalam berdoa menyebabkan patah harapan, sebab Allah telah menjamin menerima semua doa dalam apa yang la kehendaki untukmu, bukan menurut kehendakmu dan pada waktu yang ditentukanNya, bukan pada waktu yang engkau tentukan.
Firman Allah
وَرَبُّكَ يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ وَيَخْتَارُ ۗ مَا كَانَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ (القصص: ٦٨)
Tuhanmulah yang menjadikan segala yang dikehendakiNya dan memilihnya sendiri, tiada hak bagi mereka untuk memilih. Sebaiknya seorang hamba yang tidak mengetahui apa yang akan terjadi mengakui kebodohan dirinya, sehingga tidak memilih sesuatu yang tampak baginya sepintas lalu baik, padahal ia tidak mengetahui bagaimana akibatnya. Karena itu bila Tuhan yang maha mengetahui lagi bijaksana memilihkan untuknya sesuatu, hendaknya rela dan menerima pilihan Tuhan Yang Maha belas kasih lagi mengetahui dan bijaksana itu, walaupun pada lahirnya pahit dan pedih rasanya, namun itulah yang terbaik baginya, karena itu bila berdoa, kemudian belum juga tercapai keinginannya, janganlah keburu patah harapan;
Firman Allah :
وَعَسَىٰ أَن تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ ۖ وَعَسَىٰ أَن تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَّكُمْ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ (البقرة: ٢١٦)
Mungkin kamu membenci sesuatu padahal itulah yang baik bagimu, dan mungkin kamu suka pada sesuatu padahal bahaya bagimu, dan Allah yang mengetahui sedang kamu tidak mengetahui. Abu-Hasan Asy-Syadzily ra. ketika mengartikan ayat :
قَدْ أُجِيبَت دَّعْوَتُكُمَا فَاسْتَقِيمَا وَلَا تَتَّبِعَانِّ سَبِيلَ الَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ ( يونس : ٨٩)
Sungguh telah diterima doamu berdua (Musa dan Harun as.) yaitu tentang kebinasaan Fir'aun dan tentaranya maka hendaknya kamu berdua tetap istigamah (sabar dalam melanjutkan perjuangan dan
terus herdoa). dan jangan mengikuti jejak orang-orang yang tidak mengerti, (kekuasaan dan kebijaksanaan Allah)
(S. Yunus 89).
Maka terlaksananya kebinasaan Fir'aun yang berarti setelah diterima doa itu, sesudah 40 tahun.
Rasullullah saw. bersabda :
يُسْتَجَابُ لِأَحَدِكُمْ مَا لَمْ يَعْجَلْ، فَيَقُولُ: قَدْ دَعَوْتُ فَلَمْ يُسْتَجَبْ لِي.
Pasti diterima doamu itu selama tidak keburu, yaitu berkata : Aku telah berdoa dan tidak diterima.
Anas ra. berkata :
قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَا مِنْ دَاعٍ يَدْعُو إِلَّا اسْتَجَابَ اللهُ لَهُ دَعْوَتَهُ أَوْ صَرَفَ عَنْهُ مِثْلَهَا سُوءًا أَوْ حَطَّ مِنْ ذُنُوبِهِ بِقَدَرِهَا مَا لَمْ يَدْعُ بِإِثْمٍ أَوْ قَطِيعَةِ رَحِمٍ.
Tiada seorang berdoa, melainkan pasti diterima Allah doanya, atau dihindarkan daripadanya bahaya, atau diampunkan sebagian dosanya, selama ia tidak berdoa untuk sesuatu yang berdosa, atau untuk memutuskan hubungan famili. Abul Abbas Almarsi ketika sakit, datang seorang sambang kepadanya lalu berkata : Semoga Allah menyembuhkan kau (Afakallahu). Abul Abbas tinggal diam tidak menyambut kata-kata itu Kemudian orang itu berkata pula : Allah yu'aafika. Maka dijawab oleh Abul Abbas : Apakah kau kira saya tidak minta 'afiyah kepada Allah, sungguh saya telah minta 'afiyah, dan penderitaanku ini termasuk 'afiyah, ketahuilah Rasulullah minta 'afiyah dan ia berkata :
مَا زَالَتْ أَكْلَةُ خَيْبَرَ تُعَاوِدُنِي، وَالْآنَ قَدْ قَطَعَتْ أَبْهَرِي
Selalu bekas makanan khaibar itu terasa olehku, dan kini masa putusnya urat jantungku. Abubakar Assiddiq minta 'afiyah dan mati terkena racun. Umar bin Khattab minta 'afiyah dan mati terbunuh. Usman bin Affan, juga minta 'afiyah dan juga mati tertikam. Ali bin Abi Thalib minta 'afiyah juga mati terbunuh. Maka bila kau minta 'afiyah kepada Allah, mintalah menurut apa yang ditentukan oleh Allah untukmu, maka sebaik-baik seorang hamba ialah yang menyerah menurut kehendak Tuhannya, dan mempercayai bahwa yang diberi Tuhan itulah yang terbaik baginya meskipun tidak cocok dengan kemauan hawa nafsunya. Dan syarat utama untuk diterimanya suatu doa, ialah keadaan terpaksa.
Firman Allah :
أَمَّن يُجِيبُ الْمُضْطَرَّ إِذَا دَعَاهُ وَيَكْشِفُ السُّوءَ (النمل: ٦٢)
Apakah yang selalu menerima doa orang terpaksa, apabila berdoa (minta) kepadaNya. Keadaan terpaksa itu, bila merasa tidak ada sesuatu yang diharapkan selain semata-mata karunia Allah, tidak ada sesuatu yang dapat dijadikan perantara baik dari luar yang berupa benda, atau dari dalam dirinya sendiri.
Janganlah kelambatan masa pemberian Tuhan kepadamu, padahal engkau bersungguh-sungguh dalam berdoa menyebabkan patah harapan, sebab Allah telah menjamin menerima semua doa dalam apa yang la kehendaki untukmu, bukan menurut kehendakmu dan pada waktu yang ditentukanNya, bukan pada waktu yang engkau tentukan.
Firman Allah
وَرَبُّكَ يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ وَيَخْتَارُ ۗ مَا كَانَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ (القصص: ٦٨)
Tuhanmulah yang menjadikan segala yang dikehendakiNya dan memilihnya sendiri, tiada hak bagi mereka untuk memilih. Sebaiknya seorang hamba yang tidak mengetahui apa yang akan terjadi mengakui kebodohan dirinya, sehingga tidak memilih sesuatu yang tampak baginya sepintas lalu baik, padahal ia tidak mengetahui bagaimana akibatnya. Karena itu bila Tuhan yang maha mengetahui lagi bijaksana memilihkan untuknya sesuatu, hendaknya rela dan menerima pilihan Tuhan Yang Maha belas kasih lagi mengetahui dan bijaksana itu, walaupun pada lahirnya pahit dan pedih rasanya, namun itulah yang terbaik baginya, karena itu bila berdoa, kemudian belum juga tercapai keinginannya, janganlah keburu patah harapan;
Firman Allah :
وَعَسَىٰ أَن تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ ۖ وَعَسَىٰ أَن تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَّكُمْ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ (البقرة: ٢١٦)
Mungkin kamu membenci sesuatu padahal itulah yang baik bagimu, dan mungkin kamu suka pada sesuatu padahal bahaya bagimu, dan Allah yang mengetahui sedang kamu tidak mengetahui. Abu-Hasan Asy-Syadzily ra. ketika mengartikan ayat :
قَدْ أُجِيبَت دَّعْوَتُكُمَا فَاسْتَقِيمَا وَلَا تَتَّبِعَانِّ سَبِيلَ الَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ ( يونس : ٨٩)
Sungguh telah diterima doamu berdua (Musa dan Harun as.) yaitu tentang kebinasaan Fir'aun dan tentaranya maka hendaknya kamu berdua tetap istigamah (sabar dalam melanjutkan perjuangan dan
terus herdoa). dan jangan mengikuti jejak orang-orang yang tidak mengerti, (kekuasaan dan kebijaksanaan Allah)
(S. Yunus 89).
Maka terlaksananya kebinasaan Fir'aun yang berarti setelah diterima doa itu, sesudah 40 tahun.
Rasullullah saw. bersabda :
يُسْتَجَابُ لِأَحَدِكُمْ مَا لَمْ يَعْجَلْ، فَيَقُولُ: قَدْ دَعَوْتُ فَلَمْ يُسْتَجَبْ لِي.
Pasti diterima doamu itu selama tidak keburu, yaitu berkata : Aku telah berdoa dan tidak diterima.
Anas ra. berkata :
قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَا مِنْ دَاعٍ يَدْعُو إِلَّا اسْتَجَابَ اللهُ لَهُ دَعْوَتَهُ أَوْ صَرَفَ عَنْهُ مِثْلَهَا سُوءًا أَوْ حَطَّ مِنْ ذُنُوبِهِ بِقَدَرِهَا مَا لَمْ يَدْعُ بِإِثْمٍ أَوْ قَطِيعَةِ رَحِمٍ.
Tiada seorang berdoa, melainkan pasti diterima Allah doanya, atau dihindarkan daripadanya bahaya, atau diampunkan sebagian dosanya, selama ia tidak berdoa untuk sesuatu yang berdosa, atau untuk memutuskan hubungan famili. Abul Abbas Almarsi ketika sakit, datang seorang sambang kepadanya lalu berkata : Semoga Allah menyembuhkan kau (Afakallahu). Abul Abbas tinggal diam tidak menyambut kata-kata itu Kemudian orang itu berkata pula : Allah yu'aafika. Maka dijawab oleh Abul Abbas : Apakah kau kira saya tidak minta 'afiyah kepada Allah, sungguh saya telah minta 'afiyah, dan penderitaanku ini termasuk 'afiyah, ketahuilah Rasulullah minta 'afiyah dan ia berkata :
مَا زَالَتْ أَكْلَةُ خَيْبَرَ تُعَاوِدُنِي، وَالْآنَ قَدْ قَطَعَتْ أَبْهَرِي
Selalu bekas makanan khaibar itu terasa olehku, dan kini masa putusnya urat jantungku. Abubakar Assiddiq minta 'afiyah dan mati terkena racun. Umar bin Khattab minta 'afiyah dan mati terbunuh. Usman bin Affan, juga minta 'afiyah dan juga mati tertikam. Ali bin Abi Thalib minta 'afiyah juga mati terbunuh. Maka bila kau minta 'afiyah kepada Allah, mintalah menurut apa yang ditentukan oleh Allah untukmu, maka sebaik-baik seorang hamba ialah yang menyerah menurut kehendak Tuhannya, dan mempercayai bahwa yang diberi Tuhan itulah yang terbaik baginya meskipun tidak cocok dengan kemauan hawa nafsunya. Dan syarat utama untuk diterimanya suatu doa, ialah keadaan terpaksa.
Firman Allah :
أَمَّن يُجِيبُ الْمُضْطَرَّ إِذَا دَعَاهُ وَيَكْشِفُ السُّوءَ (النمل: ٦٢)
Apakah yang selalu menerima doa orang terpaksa, apabila berdoa (minta) kepadaNya. Keadaan terpaksa itu, bila merasa tidak ada sesuatu yang diharapkan selain semata-mata karunia Allah, tidak ada sesuatu yang dapat dijadikan perantara baik dari luar yang berupa benda, atau dari dalam dirinya sendiri.