Langkau ke kandungan
Alhiyara
Alhiyara
Hikam Ibnu 'Atoillah

047. لاَ تَتَعَدَّ نِيَّةُ هِمَّتِكَ إِلَى غَيْرِهِ، فَالْكَرِيمُ لاَ تَتَخَطَّاهُ الْآمَالُ.

Jangan melanggar/melampaui niat tujuanmu (hasrat harapanmu) kepada lain-lainNya. Maka Tuhan yang maha murah itu tidak dapat diliwati oleh sesuatu harapan (angan-angan). Perasaan yang luhur enggan membuka hajat kebutuhannya kepada orang yang tidak dermawan, dan tidak ada yang dermawan pada hakikat yang sebenarnya kecuali Allah ta’ala.

Al-Junaid berkata : Al-Karim (Dermawan) itu ialah yang memberi hajat kebutuhan sebelum diminta. Ada pula pendapat : Al-Karim ialah yang tidak pernah mengecewakan harapan orang yang berangan-angan (berharap). Al-Karim yaitu apabila berkuasa memaafkan, dan bila berjanji menepati, dan bila memberi lebih memuaskan dari harapan, dan tidak

hirau berapa pemberiannya, dan kepada siapa memberinya.

Petikan lain
Hikam Ibnu 'Atoillah

236. مَا تَجِدُهُ الْقُلُوبُ مِنَ الْهُمُومِ وَالْأَحْزَانِ فَلِأَجْلِ مَا مُنِعَتْ مِنْ وُجُودِ الْعِيَانِ.

Semua yang dirasakan oleh hati (perasaan/fikiran) dari berbagai macam kerisauan itu, maka semata-mata karena masih tertahan belum dapat melihat musyahadah kepada Tuhan Allah swt.

Firman Allah menceritakan ketika Abubakar Assiddiq ra. bersama Rasulullah di gua Tsur, dimana Abubakar risau dan sedih hati, langsung oleh Rasulullah diingatkan :

لَا تَحْزَنْ إِنَّ اللَّهَ مَعَنَا (التوبة: ٤٠)

Jangan risau/sedih sesungguhnya Allah beserta kami.

Asysyibly berkata : Siapa yang benar-benar mengenal Allah tidak akan risau atau berduka cita untuk selama-lamanya.

Firman Allah :

أَلَا إِنَّ أَوْلِيَاءَ اللَّهِ لَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ (يونس: ٦٢)

Ingatlah, sesungguhnya para waliyullah itu tidak merasa takut dan tidak merasa duka cita. Dan sabda Nabi saw. kepada Abubakar Assiddiq ketika digua Tsur : Ya Aba Bakr ma dhannuka bi isnain allahu tsalitsu huma. Bagaimanakah perasaanmu hai Abubakar terhadap dua orang yang ditigai oleh Allah (disertai/dilindungi oleh Allah).

Hikam Ibnu 'Atoillah

243. الْعِلْمُ النَّافِعُ هُوَ الَّذِي يَنْبَسِطُ فِي الصَّدْرِ شُعَاعُهُ، وَيَنْكَشِفُ بِهِ عَنِ الْقَلْبِ قِنَاعُهُ.

Ilmu yang berguna ialah yang meluas dalam dada sinar cahayanya, dan membuka penutup hati.

Ilmu yang berguna (bermanfaat) itu ialah mengenal zat Allah dan sifat serta asma (nama) dan perbutan Allah. Juga mengerti bagaimana mengabdi diri kepada Allah serta beradab kepadaNya. Nabi Dawud as. berkata : Ilmu di dalam dada bagaikan lampu dalam rumah. Imam Malik bin Anas ra. berkata : Bukan yang bernama ilmu itu kepandaian atau banyak meriwayatkan, tetapi ilmu itu hanya nur yang diturunkan Allah dalam hati manusia. Dan bergunanya ilmu itu untuk mendekatkan manusia kepada Allah dan menjauhkannya dari kesombongan diri.

Al-Junaid berkata : Ilmu itu ialah mengenal Tuhanmu dan tidak melampaui kedudukan dirimu (yakni menyadari kehambaanmu).

Hikam Ibnu 'Atoillah

136. كُنْ بِأَوْصَافِ رُبُوبِيَّتِهِ مُتَعَلِّقًا، وَبِأَوْصَافِ عُبُودِيَّتِكَ مُتَحَقِّقًا.

Bersandarlah selalu kepada sifat-sifat ke Tuhanan Allah, dan perhatikan sungguh-sungguh sifat-sifat kehambaanmu sendiri. Ingatlah selalu sifat-sifat ke Tuhanan Allah, yaitu : Kaya, kuasa, mengetahui mulya dan kuat, sedang sifat-sifat kehambaanmu ialah : Miskin, lemah, bodoh, hina dan tidak berdaya. Karena mengingati selalu kepada sifat-sifat ke Tuhanan, maka kita harus bersandar diri kepada- Nya untuk mendapatkan apa hajat kebutuhan kita itu. Tidak ada lain

jalan melainkan bersandar kepada Tuhan untuk mencapai semua hajat kebutuhan itu.

Disalin