Tidak akan terhenti (macet) suatu permintaan yang semata-mata engkau minta (engkau sandarkan) kepada kurnia (kekuasaan) Tuhanmu, dan tidak mudah tercapai permintaan (pengharapan) yang engkau sandar- kan kepada kekuatan dan daya upaya serta kepandaian dirimu sendiri.
155. أَجْهَلُ النَّاسِ مَنْ تَرَكَ يَقِينَ مَا عِنْدَهُ لِظَنِّ مَا عِنْدَ النَّاسِ.
Sebodoh-bodoh manusia yaitu orang yang meninggalkan (mengabaikan) keyakinan yang sungguh ada padanya, karena menurut persangkaan yang ada pada orang-orang. Yang yakin ia ketahui yaitu kekurangan-kekurangan dan dosa- dosa yang telah dilakukannya atau kerendahan akhlak dan kelemahan imannya sendiri. Sedang persangkaan orang lain yang mengira baik padanya karena kebodohannya dan tidak mengetahui apa yang di balik tirai yang tertutup fantasi lahir yang baik itu. Karena itu jika ia tidak sadar diri terhadap sesuatu yang yakin itu, karena menurutkan perkiraan orang lain, maka nyata ia sebodoh-bodoh manusia. Al-Harits Al-Muhasiby mengumpamakan orang yang senang dengan pujian orang itu, bagaikan orang yang senang dengan ejekan orang padanya : Andaikan ada orang berkata : Kotoranmu itu tidak berbau, atau berbau harum, lalu engkau gembira dengan keterangan pujian yang demikian, padahal engkau sendiri jijik dan berbuat busuk. Maka ketahuilah bahwa kotoran dosa dan jiwa itu lebih busuk dari kotoran (tai) orang. Seorang hakiem dipuji oleh orang awam, maka ia menangis lalu di- tanya : Mengapakah engkau menangis padahal orang itu memuji padamu ? Jawabnya : la tidak memuji kepadaku, melainkan setelah mengetahui bahwa ada padaku sifat-sifat yang sama dengan sifat-sifatnya.
Sebodoh-bodoh manusia yaitu orang yang meninggalkan (mengabaikan) keyakinan yang sungguh ada padanya, karena menurut persangkaan yang ada pada orang-orang. Yang yakin ia ketahui yaitu kekurangan-kekurangan dan dosa- dosa yang telah dilakukannya atau kerendahan akhlak dan kelemahan imannya sendiri. Sedang persangkaan orang lain yang mengira baik padanya karena kebodohannya dan tidak mengetahui apa yang di balik tirai yang tertutup fantasi lahir yang baik itu. Karena itu jika ia tidak sadar diri terhadap sesuatu yang yakin itu, karena menurutkan perkiraan orang lain, maka nyata ia sebodoh-bodoh manusia. Al-Harits Al-Muhasiby mengumpamakan orang yang senang dengan pujian orang itu, bagaikan orang yang senang dengan ejekan orang padanya : Andaikan ada orang berkata : Kotoranmu itu tidak berbau, atau berbau harum, lalu engkau gembira dengan keterangan pujian yang demikian, padahal engkau sendiri jijik dan berbuat busuk. Maka ketahuilah bahwa kotoran dosa dan jiwa itu lebih busuk dari kotoran (tai) orang. Seorang hakiem dipuji oleh orang awam, maka ia menangis lalu di- tanya : Mengapakah engkau menangis padahal orang itu memuji padamu ? Jawabnya : la tidak memuji kepadaku, melainkan setelah mengetahui bahwa ada padaku sifat-sifat yang sama dengan sifat-sifatnya.
212. مَنْ لَمْ يَعْرِفِ النِّعَمَ بِوِجْدَانِهَا عَرَفَهَا بِوُجُودِ فِقْدَانِهَا.
Siapa yang tidak mengenal harga nikmat ketika adanya nikmat itu, maka ia akan mengetahui harga kebesaran nikmat setelah tidak adanya (lenyapnya). Sariy Assagathi berkata : Siapa yang tidak menghargai nikmat, maka akan dicabut nikmat itu dalam keadaan ia tidak mengetahui. Al-Fudhail bin Iyadh ra. berkata : Tetapkanlah mensyukuri nikmat, sebab jarang sekali nikmat yang telah hilang akan datang kembali. Sesungguhnya yang sangat mengetahui nikmat air itu, hanya orang yang benar-benar haus.
Rasulullah saw. bersabda : Jika seorang melihat pada orang yang lebih daripadanya kekayaan dan sehatnya, maka hendaklah juga melihat kepada orang yang lebih menderita daripadanya. Dalam lain riwayat Rasulullah saw. bersabda : Lihatlah kepada orang-orang yang dibawahmu, dan jangan melihat pada orang yang di atasmu, maka yang demikian itu lebih tepat untuk tidak meremehkan nikmat yang diberikan Allah kepadamu. Dan orang yang bahagia (untung) itu ialah yang dapat pengertian dengan pengalaman (dengan kejadian) yang terjadi pada lain orang. nikmat berarti membiarkannya hilang, dah siapa yang menyukurinya berarti telah mengikat nikmat itu dengan tali ikatnya.
Siapa yang tidak mengenal harga nikmat ketika adanya nikmat itu, maka ia akan mengetahui harga kebesaran nikmat setelah tidak adanya (lenyapnya). Sariy Assagathi berkata : Siapa yang tidak menghargai nikmat, maka akan dicabut nikmat itu dalam keadaan ia tidak mengetahui. Al-Fudhail bin Iyadh ra. berkata : Tetapkanlah mensyukuri nikmat, sebab jarang sekali nikmat yang telah hilang akan datang kembali. Sesungguhnya yang sangat mengetahui nikmat air itu, hanya orang yang benar-benar haus.
Rasulullah saw. bersabda : Jika seorang melihat pada orang yang lebih daripadanya kekayaan dan sehatnya, maka hendaklah juga melihat kepada orang yang lebih menderita daripadanya. Dalam lain riwayat Rasulullah saw. bersabda : Lihatlah kepada orang-orang yang dibawahmu, dan jangan melihat pada orang yang di atasmu, maka yang demikian itu lebih tepat untuk tidak meremehkan nikmat yang diberikan Allah kepadamu. Dan orang yang bahagia (untung) itu ialah yang dapat pengertian dengan pengalaman (dengan kejadian) yang terjadi pada lain orang. nikmat berarti membiarkannya hilang, dah siapa yang menyukurinya berarti telah mengikat nikmat itu dengan tali ikatnya.
187. وُرُودُ الْفَاقَاتِ أَعْيَادُ الْمُرِيدِينَ.
Tibanya saat-saat kesukaran (kemiskinan serba kekurangan sehingga merasa rendah dan hina diri), itu sebagai hari raya gembira bagi para murid (yakni orang yang sedang melatih diri untuk tagarrub kepada Allah). Saat-saat tibanya kesukaran bala' yarig menyebabkan manusia merasakan kerendahan dan kehinaan dan kemiskinan diri dihadapan Allah, itulah saat dan masa yang terbaik untuk mendapat belas kasih Allah dan mendekat kepada Allah. Karena itu bagi seorang murid (salik) yang sedang berjuang melawan hawa nafsu, saat-saat yang sedemikian itu sebagai saat kemenangan melawan hawa nafsu sehingga saat-saat yang sedemikian itu bagi mereka bagaikan hari raya yang sangat menggembirakan, sebab tunduknya hawa nafsu, berarti hilangnya rasa kesombongan ujub atau besar diri.
Tibanya saat-saat kesukaran (kemiskinan serba kekurangan sehingga merasa rendah dan hina diri), itu sebagai hari raya gembira bagi para murid (yakni orang yang sedang melatih diri untuk tagarrub kepada Allah). Saat-saat tibanya kesukaran bala' yarig menyebabkan manusia merasakan kerendahan dan kehinaan dan kemiskinan diri dihadapan Allah, itulah saat dan masa yang terbaik untuk mendapat belas kasih Allah dan mendekat kepada Allah. Karena itu bagi seorang murid (salik) yang sedang berjuang melawan hawa nafsu, saat-saat yang sedemikian itu sebagai saat kemenangan melawan hawa nafsu sehingga saat-saat yang sedemikian itu bagi mereka bagaikan hari raya yang sangat menggembirakan, sebab tunduknya hawa nafsu, berarti hilangnya rasa kesombongan ujub atau besar diri.