Langkau ke kandungan
Alhiyara
Alhiyara
Hikam Ibnu 'Atoillah

026. إِحَالَتُكَ الْأَعْمَالَ عَلَى وُجُودِ الْفَرَاغِ مِنْ رُعُونَاتِ النَّفْسِ.

Menunda amal perbuatan (kebaikan) karena menantikan kesempatan yang lebih baik, sesuatu tanda kebodohan yang mem- pengaruhi jiwa. Kebodohan itu disebabkan oleh :

1. Karena ia mengutamakan duniawi. Padahal Allah berfirman :

بَلْ تُؤْثِرُونَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا * وَالْآخِرَةُ خَيْرٌ وَأَبْقَىٰ (الأعلى: ١٦ – ١٧)

Tetapi kamu mengutamakan kehidupan dunia, padahal akhirat itu lebih baik dan kekal selamanya.

2. Penundaan amal itu kepada masa yang ia sendiri tidak mengetahui apakah ia akan mendapatkan kesempatan itu, atau kemungkinan ia dilanda oleh ajal (mati) yang telah menantikan masanya.

3. Kemungkinan azam, niat dan hasrat itu menjadi lemah dan berubah.

Kata pujangga :

لَا تُؤَجِّلْ إِلَى الْغَدِ مَا يُمْكِنُكَ أَنْ تَعْمَلَهُ الْيَوْمَ.

Janganlah menunda sampai besok, apa yang dapat engkau kerjakan hari ini.

الْوَقْتُ ثَمِينٌ فَلَا تُضَيِّعْهُ إِلَّا فِي نَفِيسٍ.

Waktu sangat berharga, maka jangan engkau habiskan kecuali untuk sesuatu yang berharga.

Petikan lain
Hikam Ibnu 'Atoillah

122. لاَ يَسْتَحْقِرُ الْوِرْدَ إِلاَّ جَهُولٌ، الْوَارِدُ يُوجَدُ فِي الدَّارِ الْآخِرَةِ، وَالْوِرْدُ يَنْطَوِي بِانْطِوَاءِ هٰذِهِ الدَّارِ، وَأَوْلَى مَا يُعْتَنَى بِهِ مَا لاَ يُخْلَفُ وُجُودُهُ، الْوِرْدُ هُوَ طَالِبُهُ مِنْكَ، وَالْوَارِدُ أَنْتَ تَطْلُبُهُ مِنْهُ، وَأَيْنَ مَا هُوَ طَالِبُهُ مِنْكَ مِمَّا هُوَ مَطْلُوبُكَ مِنْهُ.

Tidak akan meremehkan wirid, kecuali orang yang bodoh (sangat tolol). Kurnia Allah (warid) terdapat di akherat, tetapi wirid akan habis dengan habisnya dunia. Dan sebaik-baik (seutama-utama) vang harus diperhatikan oleh seseorang yaitu yang tidak kunjung habis, wirid itu sebagai perintah Allah kepadamu, sedang warid (kurnia) itulah hajat kebutuhanmu dari Allah. Maka di manakah letak bandingan antara perintah Allah kepadamu dengan pengharapanmu dari Tuhan. Wirid ialah segała macam bentuk ibadat lahir batin baik yang wajib maupun sunnat. Sedang Waarid : Pemberian-pemberian Tuhan dalam hati hamba yang berupa keterangan, nur cahaya dan kesenangan berbuat ibadat, taufiq dan hidayatNya. Maka sebaiknya, seorang hamba menjalankan kewajibannya, daripada melonjak-lonjak kepada apa yang menjadi hak Allah semata- mata. Terutama wirid itu hanya berlaku masih hidup di dunia ini saja, sedang waarid akan lanjut sampai ke akherat. Rasulullah saw. telah bersabda : Amal yang sangat disukai oleh Allah ialah yang dawam (terus menerus) meskipun sedikit. Al-Hasan Albasry berkata : Siapa yang sama hari kininya dengan kemarinnya, maka ia rugi dan siapa yang harinya itu lebih buruk dari kemarinnya, maka ia mahrum (tidak dapat rahmat), dan siapa yang tidak bertambah berarti berkurang, dan siapa yang makin berkurang amalnya, maka mati lebih baik baginya. Ketika Al-Junaid ditegor orang karena memegang tasbih di tangannya : Tuan dalam kedudukan yang demikian itu masih saja menggunakan tasbih. Jawab Al-Junaid : Alat yang telah menyampaikan kami, maka tidak saya tinggalkan. Al-Junaid : berkata : Orang aarif menerima semua amal (wirid) itu sebagai tugas dari Allah, karena itu mereka akan kembali menghadap kepada Allah dengan kebiasaan wirid (ibadat) yang ditugaskan oleh Allah itu. Dan andaikata seribu tahun tidak akan mengurangi sedikitpun dari amal wiridku, kecuali jika ia terhalang untuk melakukannya.

Hikam Ibnu 'Atoillah

212. مَنْ لَمْ يَعْرِفِ النِّعَمَ بِوِجْدَانِهَا عَرَفَهَا بِوُجُودِ فِقْدَانِهَا.

Siapa yang tidak mengenal harga nikmat ketika adanya nikmat itu, maka ia akan mengetahui harga kebesaran nikmat setelah tidak adanya (lenyapnya). Sariy Assagathi berkata : Siapa yang tidak menghargai nikmat, maka akan dicabut nikmat itu dalam keadaan ia tidak mengetahui. Al-Fudhail bin Iyadh ra. berkata : Tetapkanlah mensyukuri nikmat, sebab jarang sekali nikmat yang telah hilang akan datang kembali. Sesungguhnya yang sangat mengetahui nikmat air itu, hanya orang yang benar-benar haus.

Rasulullah saw. bersabda : Jika seorang melihat pada orang yang lebih daripadanya kekayaan dan sehatnya, maka hendaklah juga melihat kepada orang yang lebih menderita daripadanya. Dalam lain riwayat Rasulullah saw. bersabda : Lihatlah kepada orang-orang yang dibawahmu, dan jangan melihat pada orang yang di atasmu, maka yang demikian itu lebih tepat untuk tidak meremehkan nikmat yang diberikan Allah kepadamu. Dan orang yang bahagia (untung) itu ialah yang dapat pengertian dengan pengalaman (dengan kejadian) yang terjadi pada lain orang. nikmat berarti membiarkannya hilang, dah siapa yang menyukurinya berarti telah mengikat nikmat itu dengan tali ikatnya.

Hikam Ibnu 'Atoillah

247. إِنَّمَا أَجْرَى الْأَذَى عَلَى أَيْدِيهِمْ كَيْ لاَ تَكُونَ سَاكِنًا إِلَيْهِمْ، أَرَادَ أَنْ يُزْعِجَكَ عَنْ كُلِّ شَيْءٍ حَتَّى لاَ يَشْغَلَكَ عَنْهُ شَيْءٌ.

Memang sengaja Allah melaksanakan gangguan terhadap dirimu dari tangan orang-orang itu, supaya engkau tidak jinak kepada mereka. Sengaja Allah menjengkelkan (menjemukan) engkau dari segala sesuatu, supaya tidak ada sesuatu yang melupakan engkau daripada Allah (supaya tidak ada yang mengganggu engkau untuk ingat kepada Allah).

Abul-Hasan Asysyadzily berkata : Larilah dari kebaikan (bantuan orang, melebihi dari larimu dari kejahatan orang kepadamu, sebab kebaikan orang itu langsung membahayakan hatimu sedang kejahatan mereka hanya membahayakan jasmanimu, dan bahaya jasmani itu lebih ringan dari bahaya hati. Bahaya kebaikan orang kepadamu, jika kamu jinak, senang, menyandar, berharap kepada mereka. Sesungguhnya jika ada musuh yang mendekatkan engkau kepada Allah lebih baik dari teman/kawan yang memutuskan engkau dari Allah. Abdussalam bin Masyisy ra. berdoa : Ya Allah ada orang-orang yang minta kepadaMu supaya semua orang jinak kepadanya, maka telah Engkau perkenankan dan mereka puas dengan itu, sebaliknya saya minta supaya semua makhluk menjauh daripadaku sehingga tidak ada bagiku tempat berlindung dan berharap kecuali kepadaMu.

Rasulullah saw. bersabda : Siapa yang memberi kepadamu kebaikan (hadiah), maka lekas engkau balas dengan yang seimbang maka jika tidak dapat kamu membalas, maka doakanlah orang itu. (Yakni supaya tidak merasa berhutang budi padanya). Doanya : Jazaka Allahu Khoira ( Semoga Allah membalasmu kebaikan).

Muhammad bin Al-Hasan berkata : Ketika saya sedang berputar- putar di bukit Lubnan, tiba-tiba ada seorang pemuda yang keluar dari bukit hangus badannya oleh serangan angin samum, maka ketika pemuda melihat padaku, tiba-tiba melarikan diri, lalu saya kejar, dan ketika ia telah berhenti saya minta nasehat kepadanya, maka ia berkata : Berhati-hatilah daripada Allah, karena Allah itu sangat cemburu, ia tidak suka melihat dalam hati hambaNya sesuatu selainNya. (Yakni tidak boleh ada dalam hati hambaNya sedikitpun dari syirik). jangan sampai ada dalam hati perasaan : Barangkali orang akan menolong atau membantu padaku.

Disalin