Langkau ke kandungan
Alhiyara
Alhiyara
Hikam Ibnu 'Atoillah

011. اِدْفِنْ وُجُودَكَ فِي أَرْضِ الخُمُولِ، فَمَا نَبَتَ مِمَّا لَمْ يُدْفَنْ لاَ يَتِمُّ نِتَاجُهُ.

Tanamlah dirimu dalam tanah kerend ebab tiap seseatu yang tumbuh tetapi tidak ditanam, maka tidak sempurna hasil buahnya. Tiada sesuatu yang lebih bahaya bagi seorang yang beramal, daripada menginginkan kedudukan dan terkenal di tengah-tengah masyarakat pergaulan. Dan ini termasuk keinginan hawa nafsu yang utama. Rasulullah saw. telah bersabda :

مَنْ تَوَاضَعَ رَفَعَهُ اللهُ وَمَنْ تَكَبَّرَ وَضَعَهُ اللهُ

Siapa yang merendah diri maka Allah akan memuliakannya, dan siapa yang sombong (besar diri), Allah akan menghinanya.

Ibrahim bin Ad-ham ra. berkata :

مَا صَدَقَ اللهَ مَنْ أَحَبَّ الشَّهْرَةَ

Tidak benar-benar bertujuan kepada Allah, siapa yang ingin masyhur (terkenal). Ayyub Assakh-tiyaany ra. berkata :

وَاللهِ مَا صَدَقَ اللَّهَ عَبْدٌ إِلَّا سَرَّهُ أَنْ لَا يَشْعُرَ بِمَكَانِهِ.

Demi Allah tiada seorang hamba yang sungguh-sungguh ikhlas pada Allah, melainkan ia merasa senang, gembira jika ia tidak mengetahui kedudukan dirinya.

Mu’aadz bin Jabal ra. berkata : Bersabda Rasulullah saw. :

إِنَّ يَسِيرًا مِنَ الرِّيَاءِ شِرْكٌ، وَإِنَّ مَنْ عَادَى أَوْلِيَاءَ اللهِ فَقَدْ بَارَزَ اللهَ بِالْمُحَارَبَةِ، وَإِنَّ اللهَ يُحِبُّ الْأَتْقِيَاءَ الْأَخْفِيَاءَ الَّذِينَ إِذَا غَابُوا لَمْ يُفْتَقَدُوا، وَإِذَا حَضَرُوا لَمْ يُدْعَوْا وَلَمْ يُعْرَفُوا، قُلُوبُهُمْ مَصَابِيحُ الْهُدَى، يَخْرُجُونَ مِنْ كُلِّ غَبْرَاءَ مُظْلِمَةٍ.

Sesungguhnya sedikitnya riyaa’ itu, sudah termasuk syirik. Dan siapa yang memusuhi seorang waliyullah, berati telah melawan

berperang kepada Allah. Dan Allah kasih sayang pada hamba yang taqwa, yang tersembunyi (tidak terkenal), yang bila tidak ada tidak dicari, dan bila hadir tidak dipanggil dan tidak dikenal. Hati mereka sebagai pelita hidayat, mereka terhindar dari segala kegelapan kesukaran.

Abuhurairah ra. berkata : Ketika kami di majlis Rasulullah saw. tiba-tiba Rasulullah saw. berkata : Besuk pagi akan ada seorang ahli -surga yang sembahyang bersama kamu. Abuhurairah berkata : Aku berharap semoga akulah orang yang ditunjuk oleh Rasulullah itu. Maka pagi-pagi aku sembahyang di belakang Rasulullah saw. dan tetap tinggal di majlis setelah orang-órang pulang. Tiba-tiba ada seorang hamba hitam berkain cumpang-camping datang berjabat tangan pada Rasulullah saw. sambil berkata : Ya Nabiyallah, doakan semoga aku mati syahid. Maka Rasulullah saw. berdoa sedang kami mencium bau kasturi dari badannya. Kemudian aku bertanya : Apakah orang itu ya Rasulullah? Jawab Nabi : Ya benar la hamba sahaya dari bani fulan. Abuhurairah berkata : Mengapa tidak kau beli, dan kau merdekakan ya Nabiyallah? Jawab Nabi : Bagaimana Aku akan dapat berbuat demikian, bila Allah akan menjadikannya seorang raja di surga. Hai Abuhurairah, sesungguhnya di surga itu ada raja dan orang-orang terkemuka. Dan ini salah seorang raja dan terkemuka, Hai Abuhurairah: Sesungguhnya Allah kasih kepada makhluknya yang suci hati, yang samar, yang bersih, yang terurai rambut, yang kempis perut kecuali dari hasil yang halal, yang bila akan masuk kepada raja tidak diizinkan, bila meminang wanita bangsawan tidak diterima, bila tidak ada tidak dicari, bila hadir tidak dihirau, bila sakit tidak dijenguk, bahkan bila mati tidak dihadiri jenazahnya. Ketika sahabat bertanya : Tunjukkan kepada kami seorang dari mereka ? Jawab Nabi : Yaitu Uwais Alqarany, seorang berkulit coklat, lebar kedua bahunya, sedang tingginya selalu menundukkan kepalanya sambil membaca qur’an, tidak terkenal di bumi, tetapi terkenal di langit, andaikan ia bersungguh-sungguh minta sesuatu kepada Allah pasti diberinya. Dibawah bahu kirinya ada bekas belang sedikit. Hai umar dan Ali jika kamu bertemu padanya, maka mintalah kepadanya supaya membacakan istighfar untukmu.

Petikan lain
Hikam Ibnu 'Atoillah

152. الْأَكْوَانُ ثَابِتَةٌ بِإِثْبَاتِهِ، وَمَمْحُوَّةٌ بِأَحَدِيَّةِ ذَاتِهِ.

Alam ini ada bila ditetapkan oleh Allah, tetapi alam ini musnah lenyap dengan keesaan dzat Allah. Ke-esaan dzat Allah yang tidak bersekutu atau berbanding itu melenyapkan segala apa saja, yakni tetap Allah yang tunggal dan segala sesuatu selain Allah bayangan belaka dan bekas buatan Allah.

Hikam Ibnu 'Atoillah

080. مَنْ رَأَيْتَهُ مُجِيبًا عَلَى كُلِّ مَا سُئِلَ، وَمُعَبِّرًا عَنْ كُلِّ مَا شَهِدَ، وَذَاكِرًا كُلَّ مَا عَلِمَ، فَاسْتَدِلَّ بِذٰلِكَ عَلَى وُجُودِ جَهْلِهِ.

Siapa yang selalu menjawab segala pertanyaan, dan men- ceritakan segala yang telah dilihat, dan menyebut segala apa yang ia ingat (ketahui), maka ketahuilah bahwa yang demıkian ıtu tanda kebodohan orang itu. Menjawab segala pertanyaan yang berhubungan ilmu bathin yang dituangkan Allah dalam hati orang arifin, menunjukkan adanya kebodohan, demikian pula jika menceritakan segala, yang dilihat, sebab semua itu berupa rahasia Allah yang diberikan kepada seorang hambaNya, maka jika diterangkan kepada yang bukan ahlinya, hanya akan menjadikan ejekan dan pendustaan belaka. Karena itu yang menerangkan (menceritakan) berarti bodoh.

Hikam Ibnu 'Atoillah

088. الرَّجَاءُ مَا قَارَنَهُ عَمَلٌ، وَإِلاَّ فَهُوَ أُمْنِيَّةٌ.

Pengharapan yang sesungguhnya ialah yang disertai amal perbuatan kalau tidak demikian, maka itu hanya angan-angan (lamunan) belaka.

Rasulullah saw. bersabda :

الْكَيِّسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ الْمَوْتِ، وَالْعَاجِزُ مَنْ أَتْبَعَ نَفْسَهُ هَوَاهَا وَتَمَنَّى عَلَى اللَّهِ الْأَمَانِيَّ.

Seorang yang sempurna akal ialah yang mengoreksi dirinya dan bersiap untuk menghadapi maut, sedang orang bodoh ialah yang selalu menurutkan hawa nafsu dan mengharap berbagai macam harapan.

Ma'ruf Alkarkhi berkata : Mengharap surga tanpa amal perbuatan itu dosa, dan mengharap syafaat tanpa sebab berarti tertipu, dan mengharapkan rahmat dari siapa yang tidak engkau taati perintahnya berarti kebodohan.

Al-Hasan ra. berkata : Sesungguhnya ada beberapa orang yang tertipu oleh angan-angan keinginan pengampunan, sehingga mereka keluar dari dunia (mati), sedang belum ada bagi mereka suatu hasanat (kebaikan) sama sekali. Sebab mereka berkata : Kami baik sangka terhadap Allah, pada hal berdusta dalam pengakuan itu, sebab andaikan mereka baik sangka terhadap Allah, tentu baik pula perbuatannya. AI-Hasan lalu membacakan ayat Qur'an :

وَذَٰلِكُمْ ظَنُّكُمُ الَّذِي ظَنَنتُم بِرَبِّكُمْ أَرْدَاكُمْ فَأَصْبَحْتُم مِّنَ الْخَاسِرِينَ (فصلت: ٢٣)

Itulah persangkaanmu terhadap Tuhan telah membinasakan kamu, maka kamu termasuk orang-orang yang rugi.

Al-Hasan berkata : Hai hamba Allah berhati-hatilah kamu dari angan-angan (lamunan) yang palsu, sebab itu sebagai jurang kebinasaan, kamu akan sembrono/teledor karenanya, demi Allah tidak pernah Allah memberi pada seorang hamba kebaikan semata-mata karna angan-angan belaka, baik untuk dunia maupun untuk akherat.

Disalin